
Sorgum
TABLOIDSINARTANI.COM, Maros---Sorgum menjadi salah satu tanaman serbaguna. Bukan hanya mempunyai potensi besar sebagai pangan alternatif, tapi juga sebagai bahan baku pakan ternak dan industri.
Sorgum merupakan tanaman yang masih satu keluarga dengan padi, jagung, dan gandum. Keunggulan tanaman ini adalah mudah tumbuh diberbagai agroekosistem. Mulai dari kondisi kering, ketinggian lahan, tidak terlalu peka terhadap PH tanah, serta lebih tahan terhadap hama penyakit.
Sorgum memiliki sejumlah keunggulan. Diantaranya, daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, dapat dipanen beberapa kali serta tahan terhadap hama dan penyakit. Tanaman ini banyak ditemui di wilayah kering dan tadah hujan seperti di wilayah selatan Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, NTB dan NTT.
Marcia B. Pabendon, Peneliti Madya Balai Penelitian Tanaman Sereal (Balitsereal) Maros mengatakan, dibandingkan jenis tanaman lain, sorgum memiliki keunggulan tersendiri karena memiliki karakter daya adaptasi luas (sub optimal) sehingga lebih mudah dibudidaya.
“Tanaman sorgum bisa tumbuh baik pada lahan toleran kekeringan alias minim air juga hidup pada lahan yang berlebihan air. Ketersediaan air tidak menjadi syarat penting bagi tumbuh dan berkembangnya tanaman ini,” tuturnya.
Keasaman tanah (pH) juga tidak menjadi hambatan. Tanaman ini menurut Marcia, bisa dibudidaya pada lahan gambut yang memiliki pH rendah juga pada lahan berkapur yang memiliki pH tinggi. Bahkan pada lahan marjinal bekas tambang, tanaman ini bisa tumbuh dengan baik serta bersifat fotoremediasi alias memperbaiki sifat tanah untuk tanaman berikutnya.
Marcia menambahkan, agar sorgum tumbuh ideal dibutuhkan suhu optimum antara 23 -30 derajat celcius dengan kelembaban relatif 20-40 persen. Ketinggian lahan maksimal di 800 mdpl, dengan cahaya matahari lebih dai 9 jam. Untuk curah hujan diperlukan berkisar antara 375 – 425 mm.
Teknik Budidaya
Penyiapan lahan adalah langkah awal budidaya, kata Marcia. Pengolahan lahan hampir sama dengan tanaman jagung yaitu dengan cara dibajak satu atau dua kali. Setelah itu digaru, diratakan bahkan bisa tot (tergantung kondisi lahan. Diperlukan drainase setiap 3 meter dengan kedalaman 20-25 cm sepanjang petakan, hal ini dilakukan 2 – 4 minggu sebelum tanam.
“Yang penting adalah tanah siap ditanami harus bersih dari sisa-sisa tanaman dan gulma pengganggu,” katanya. Hal lanjutnya, karena pada fase pertumbuhan sorgum agak lambat, sehingga pada fase awal kurang mampu bersaing dengan gulma tersebut.
Berikutnya pada fase penanaman, benih yang dibutuhkan sebanyak 5-7 kg/ha dengan waktu tanam yang terbaik pada akhir musim hujan, ujar Marcia. Populasi ideal tanaman per ha adalah sebanyak 100.000 – 150.000 tanaman dengan model monokultur.
Untuk jarak tanaman bisa dipilih antara 75 x 20 cm, 75 x 15 cm, 70 x 25 cm atau 70 x 15 cm dengan benih ditanam 3 – 4 biji per lubang. Kemudian lubang ditutup dengan abu sekam atau pupuk kandang.
Penjarangan tanaman bisa dilakukan pada umur 2 minggu setelah tanam (mst) menjadi hanya 2 tanaman per lubang. Untuk penyulaman dapat dilakukan dengan biji atau dengan memindahkan tanaman yang sama umurnya (trans planting) yang telah disiapkan di tempat lain atau polybag.
Sedangkan pada fase pemupukan, tanaman ini dikenal sangat efisien dalam penggunaan hara. Marcia menyarankan penggunaan pupuk organik, bahkan tanpa pupuk seperti tanaman yang ada di provinsi NTT (tergantung kondisi kesuburan lahan).
Jika diperlukan bisa ditambahkan menambahkan Phonska sebanyak 250 kg/ha ditambah ZA sebanyak 50 kg/ha. Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat waktu tanam, yaitu Phonska 250 kg/ha ditambah ZA 50 kg/ha. Namun pemupukan kedua takarannya hanya ZA 50 kg/ha. Tekniknya, pupuk diberikan pada jarak 15 cm disamping tanaman, kemudian ditutup dengan tanah atau abu sekam.
Ketika tanaman memasuki umur 21 hst, Marcia menyarankan, perlu dilakukan penyiangan agar tidak diganggu gulma, dilanjut dengan penyiangan pada umur 45 hst. “Kegiatan penyiangan ini bisa dibarengi dengan pembumbunan setelah pemupukan kedua,” katanya.
Marcia juga mengingatkan, jangan lupa lakukan pembumbunan pada tanaman sorgum. Tujuannya untuk memperkuat batang dan mempermudah pengairan jika diperlukan. Hal ini dilakukan saat tanaman umur 4 – 5 hst.
Terakhir yang juga penting ungkap Marcia adalah pengendalian hama penyakit. Beberapa penyakit yang sering menyeran tanaman sorgum antara lain adalah busuk malai (Grain Mold), busuk merah (Antracnose) dan karat. “Ini merupakan penyakitt yang paling dominan. Harus diwaspadai juga serangan burung yang bisa memakan isi malai,” katanya.
Kata kuncinya adalah amati secara dini serangan hama dan penyakit sebagai antisipasi gagal panen.