Penyerahan benih Padi Kepada Petani
TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Nilai Tukar Petani (NTP) Banten bulan Januari 2022 sebesar 100,89. NTP merupakan perbandingan indeks yang diterima dan dibeli oleh petani. Untuk mendapatkan impas dari kegiatan usaha tani, NTP setidaknya harus berada ditingkat 100. Karena itu, NTP dijadikan sebagai salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan petani secara umum.
Menanggapi ini, Sekretaris Lembaga Kajian Damar Leuit Banten, Angga Hermanda menyatakan bahwa angka NTP Januari 2022 sesungguhnya jauh lebih baik dibandingkan NTP bulan Juli 2021 lalu yang hanya sebesar 95,87 dan menjadi titik terendah sepanjang tahun lalu. Apabila kita bandingkan dengan provinsi-provinsi se-Jawa, NTP Banten bulan Januari 2022 masih tergolong kelas menengah.
"Walaupun demikian, menilik perkembangan NTP Banten Tahun 2021, siklus penurunan justru akan terjadi sampai dengan pertengahan tahun, kemudian kembali merangkak keangka 100 di akhir tahun. Karena itu, penting bagi kita semua untuk mengantisipasi pengulangan siklus tersebut", ujar Angga kepada Tabloid Sinar Tani (14/2.
Angga menerangkan, Subsektor NTP yang dominan di Banten adalah Tanaman Pangan, hal ini yang menyebabkan fluktuasi NTP secara total berkaitan erat dengan harga gabah dan beras. NTP turun drastis dipertengahan tahun ditandai dengan musim gaduh untuk pertanaman padi. Oleh karena itu, Gubernur Banten harus memerintahkan BUMD Agrobisnis lebih fokus menyerap dan mendistribusikan gabah/beras dari petani. Hal ini diharapkan agar NTP tak merosot kebawah 100 pada pertengahan 2022 nanti.
Sementara itu, BPS juga melaporkan Indeks Kebahagiaan di Provinsi Banten yang ternyata paling rendah se-Indonesia. Indeks kebahagiaan didapat dari nilai kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup.
Pada tahun 2021, Banten mendapat angka 68,08. Hasil ini lebih rendah dibandingkan indeks kebahagiaan tahun 2017 lalu, yakni sebesar 69,83. Jika ditelaah lebih dalam, indeks kebahagiaan masyarakat perdesaanlah yang justru lebih rendah dari masyarakat perkotaan di Banten.
Petani yang sebagian besar tinggal di perdesaan tentu menjadi pihak yang paling banyak dirundung indeks kebahagiaan yang rendah. Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.
Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia (DPW-SPI) Banten, Sukandar, memaparkan salah satu penyebab saat ini petani di Banten tak bahagia karena tidak semua petani mendapatkan akses program pemerintah.
"Pemerintah masih saja diskriminatif, membatasi kelembagaan petani itu hanya Poktan dan Gapoktan. Sehingga hanya mereka yang mendapatkan akses, misalnya untuk mendapatkan kartu tani dan subsidi pupuk", tegas pria yang akrab disapa Kang Nandar ini.
Petani di Banten bagian selatan misalnya kebanyakan tak tersentuh oleh program pertanian pemerintah. Terutama petani kecil, yang tak bertanah dan gurem. Petani yang masih mengalami konflik agraria. Padahal petani demikianlah yang semestinya mendapatkan prioritas program.
"Bayangkan saja, harga Gabah Kering Panen (GKP) sawah petani anggota SPI di Pandeglang Selatan per Januari 2022 kemarin hanya dihargai kurang dari Rp. 4.000 per kg. Masih lebih rendah dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) GKP ditingkat petani Rp. 4.200 per kg dan harga rata-rata GKP di Banten sebesar Rp. 4.263 per kg pada awal tahun 2022 ini menurut BPS", terangnya.
Sukandar menambahkan, harga gabah yang rendah bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi petani Banten dan menjadikannya penyebab tambahan masyarakat perdesaan tak bahagia. Pupuk langka yang masih terjadi mesti masuk juga dalam daftar.
Kalaupun pupuk tersedia, bisa dipastikan berharga tinggi. Karena itu penting sekali kesamaan hak petani dalam mengakses program pemerintah, tidak lagi menerapkan kelembagaan petani yang eksklusif dan diskriminatif.