Wednesday, 21 October 2026


Begini Cara Budidaya Padi Sehat

10 Aug 2022, 14:33 WIBEditor : Gesha

Budidaya Padi Sehat

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta --- Budidaya Padi Sehat menjadi cara untuk meningkatkan produksi pangan namun tetap menjaga lingkungan. Tak hanya itu, budidaya padi sehat juga menjadi upaya untuk mengatasi serangan OPT tersebut dilakukan dengan pengelolaan sesuai prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). 

"Budidaya Tanaman (Padi) Sehat adalah bentuk strategi membudidayakan tanaman dengan memadukan semua tehnologi budidaya berbasis ramah lingkungan sehingga dihasilkan tanaman yang sehat," ungkap Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi dalam Webinar “Merdeka Petani dari Musuh Tanaman” yang digelar Tabloid Sinar Tani bekerjasama dengan CropCare Indonesia, Rabu (10/08).

Adapun prinsip budidaya tanaman sehat pada padi, meliputi perbaikan kesuburan tanah dengan pengaplikasian Pupuk Organik dan Bahan Pembenah Tanah Organik, pengolahan tanah yang tepat, penggunaan Bibit Varietas Unggul yang memiliki ketahanan terhadap OPT, Konservasi Musuh Alami dengan penanaman Refugia sebagai tempat berlindung dan sumber makanan Musuh Alami, hingga Pengendalian OPT dilakukan sesuai Prinsip PHT  dengan menggunakan Agensia Pengendali Hayati (APH) dan Pestisida nabati. "Budidaya tanaman sehat ini mampu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan," tegasnya. 

Lebih lanjut Takdir menjelaskan, dengan penggunaan benih unggul bersertifikat akan tumbuh lebih kuat dan lebih tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik serta menghasilkan produksi lebih tinggi. Penggunaan pupuk hayati juga mengandung mikroba majemuk yang dapat berperan meningkatkan pertumbuhan  tanaman dan ketahanan terhadap OPT. Pembenah tanah organik Organik digunakan memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah, menetralkan pH tanah, meningkatkan populalsi, keragaman dan peran mikroorganisme tanah.

Sementara itu, penanaman refugia dilakukan untuk konservasi musuh alami dan keragaman mikroba. Sedangkan Insektisida Biologi berupa mikroorganisme (cendawan dan bakteri entomopatogen) digunakan untuk mengendalikan hama, namun aman bagi musuh alami dan lingkungan. Untuk Fungisida biologi, mengandung bakteri endofit padi yang efektif untuk menekan perkembangan penyakit.

Contoh Budidaya 

Program Dem Area Budidaya Tanaman Sehat pada Padi dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan memberikan keyakinan kepada petani bahwa membudidayakan tanaman yang ramah lingkungan tanpa bahan kimia bisa diterapkan. Hal ini terlihat dari aktifitas  tiga kelompok tani/gapoktan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Kelompok tani Manunggal Karangmojo Gunungkidul, Kelompok tani Sedyo Makmur Piyungan Bantul, dan Gapoktan Ponjong Gunungkidul yang merupakan tiga dari enam belas kelompok tani/gapoktan yang telah melaksanakan dem area Budidaya Tanaman Sehat di tahun 2019 lalu.

Hasilnya sangat memuaskan, dimana rata-rata pH tanah mengalami kenaikan dari sebelumnya, yang semula pH 4 – 5 menjadi pH 5,5 – 6, kandungan bahan organik didalam tanah juga meningkat, penanaman refugia menjadi motivasi tersendiri bagi petani selain untuk konservasi musuh alami juga estetika lahan, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sangat minim, dan hasil panen menunjukkan peningkatan antara 11% sampai dengan 23% rata-rata hasil panennya. Selain itu, petani menjadi lebih percaya diri dalam menerapkan budidaya tanaman sehat untuk mendapatkan kualitas tanaman dan lingkungan yang lebih baik.

Berikut ini  budidaya padi sehat yang dilakukan mereka :

1. Perbaikan kesuburan tanah

Perbaikan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk organik dan kapur pertanian. Penggunaan pupuk organik dimaksudkan untuk perbaikan fisik dan kimia tanah guna peningkatan kesuburan tanah. Pemberian kapur pertanian (dolomit) pada lahan sawah dimaksudkan untuk meningkatkan pH tanah menjadi netral guna peningkatan struktur tanah. Dengan pH tanah yang netral dan adanya pupuk organik, maka akan meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah, merangsang populasi dan aktifitas mikroorganisme tanah, bahkan dapat menetralisir senyawa-senyawa beracun baik organik maupun anorganik.

2. Pengolahan tanah yang tepat

Pengolahan tanah dilakukan secara bertahap dengan waktu kisaran antara 15 – 21 hari agar diperoleh lapisan tanah yang siap ditanami. Tahap pertama adalah pembalikan lapisan tanah agar terjadi proses fermentasi sisa tanaman di dalam tanah. Tahap kedua, proses penggemburan atau proses pencampuran bahan organik dengan tanah hingga bahan menyatu dengan lapisan olah tanah dan membentuk lumpur. Pada tahapan ini diaplikasikan pupuk organik dan kapur pertanian (dolomit), dan dibiarkan sekitar 7 hari. Tahap ketiga, proses perataan permukaan tanah agar lapisan tanah benar-benar siap ditanami padi pada saat tanam dilaksanakan.

3. Penggunaan Bibit Varietas Unggul

Benih yang akan ditanam dipilih benih yang lebih tahan/toleran terhadap serangan Wereng Batang Coklat.  Benih yang akan disemai diseleksi terlebih dahulu dan direndam dengan air bersih selama semalam serta diperam selama satu hari sampai tumbuh calon batang serta akar. Selanjutnya benih direndam dengan Agensia Hayati selama 10 – 15 menit dan disebar di persemaian. Setelah berumur 15 – 25 hari setelah sebar, bibit ditanam dengan jarak tanam yang dianjurkan menggunakan system tanaman jajar legowo 2:1 atau 4:1.

4. Penanaman Refugia

Refugia adalah mikrohabitat buatan yang di tanam dalam lahan pertanian sebagai salah satu upaya konservasi musuh alami terutama parasitoid dan predator di pertanaman. Fungsi refugia adalah tempat berlindung sementara dan penyedia tepungsari makanan alternatif berbagai musuh alami. Refugia yang ditanam adalah yang berbunga, seperti tanaman bunga matahari, kenikir dan bunga kertas (zinnia) karena mempunyai warna bunga yang mencolok dan diminati serangga musuh alami.

5. Pengendaliaan Hama dan Penyakit

Pengamatan secara rutin dilakukan, agar keberadaan OPT diketahui sejak awal. Aplikasi Agensia Hayati dianjurkan pada saat tanaman berumur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam. Pengendalian OPT dilakukan sesuai dengan Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Jika populasi masih rendah, aplikasi menggunakan Agensia Hayati atau Pestisida nabati. Jika populasi sudah diatas ambang pengendalian, dapat digunakan insektisida kimia secara bijaksana. Penyiangan gulma dilakukan sesuai dengan kondisi pertanaman. Khusus daerah endemis WBC, PBP dan Kerdil rumput/hampa dianjurkan diaplikasikan karbofuran. Dan daerah endemis penyakit BLB/Kresek dan Blast dianjurkan diaplikasikan Phaenibacillus polimixa.    

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018