Bitec Ndayu Park. BiTEC (Biofarming Training & Education Center).
TABLOIDSINARTANI.COM, Temanggung --- Sudah saatnya kita membangun Ketahanan Pangan Keluarga di pedesaan, dengan perspektif lain, yaitu melalui peningkatan ketersediaan pupuk organik untuk membangun sustainable agriculture (pertanian bekelanjutan) di pedesaan, dan Pengembangan “ family farming” (pertanian keluarga) melalui penerapan zero waste integrated farming (pertanian terpadu nir limbah ) di pedesaan.
Hal tersebut diungkapkan Untung Wiyono Sukarno, SH secara daring pada “Lesehan bersama Gubernur Jawa Tengah”. yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani ( PPAP ) Soropadan JL Raya Magelang-Semarang KM.13 Soropadan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Penggiat pertanian organik yang juga pernah menjabat Bupati Sragen 2 periode ini menceritakan pengalaman dan pengamatan pribadinya selama membangun Kabupaten Sragen.
Kabupaten Sragen yang ttidak memiliki lahan pertanian yang luas, tetapi selalu mencapai surplus produksi padi.
“Tingkat produktivitas padi di Sragen khususnya, masih dapat ditingkatkan lagi. Terutama dilahan-lahan marginal dan pada lahan yang kurang intensif menerapkan teknologi, yaitu dengan menerapkan teknologi pertanian organik,” ungkapnya.
Apa yang diungkapkan Untung sesuai dengan hasil konggres Masyarakat Petani dan Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) ke V pada 18 November 2021 yaitu : Pentingnya pemerintah kabupaten/kota, provinsi hingga pusat untuk mendorong pengembangan sentra industry pupuk organik,
Perlunya antisipasi kurangnya ketersediaan pupuk organik dan keterlibatan pemerintah dalam mengembangkan industri pupuk organik, Dan perlunya relokasi dana subsidi pemerintah yang sekarang masih didominasi untuk subsidi pupuk non-organik.
Untuk menerapkan pertanian organik dalam skala besar tidak mudah, karena untuk lahan pertanian seluas 1 ha membutuhkan 2 ton pupuk organik, Bila 1 desa mempunyai lahan tanaman padi seluas 100 Ha, maka akan dibutuhkan 200 ton pupuk organik, atau 40-50 truk pupuk.
Untuk mengatasi masalah tersebut Untung Wiyono mengusulkan solusi yang dapat dilaksanakan , yaitu Pembangunan rumah kompos (pupuk organik) berbasis petani keluarga, dengan memberikan bantuan usaha untuk pelaku usaha pertanian terpadu;
Lalu pengembangan sentra industri pupuk organik rakyat berbasis kawasan dan kelompok pengguna di pedesaan. Relokasi dana subsidi pemerintah untuk pupuk non organik dan sebagian digunakan untuk bantuan pembangunan peternakan dan pupuk organik berbasis keluarga dan kelompok pengguna;
Dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan melalui pengembangan pusat pelatihan dan kaji tindak integrated farming dan pembuatan pupuk organik.
Bitec Ndayu Park Sragen
Untuk itu Untung telah mempersiapkan tempat pelatihan dan rumah produksi sarana pertanian organik, semenjak dia masih aktif menjabat Bupati.
Taman edukasi ini berlokasi tepat di Dusun Gembong, Desa Saradan, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Tempat pelatihan tersebut diberi nama BiTEC (Biofarming Training & Education Center) Ndayu Park.
Memberikan layanan pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dalam bentuk pelatihan, magang, konsultasi dan pendampingan bisnis biofarming serta bermitra untuk mengembangkan dan mengelola biofarming pada skala komersial.
Menurut Untung Wiyono sebagai pemilik, tempat pelatihan ini dikelola bersama para pakar, baik dari intern karyawan maupun kerjasama dengan universitas-universitas di Jawa dan luar Jawa.
Disana juga memproduksi pupuk organik, memanfaatkan kohe dari peternakan kambing domba, sapi dan kerbau. Ada aqua culture dengan sistem kolam bulat serta budidaya tanaman padi, sayuran dan buah-buahan organik.
“Mereka membuat sendiri mikrobia yang dibutuhkan, sehingga dapat secara maksimal dapat melaksanakan alur produksi pertanian organik nir limbah ( zero waste),” Ujarnya
Untung mengaku bahwa belum bisa sama sekali menghilangkan pupuk mineral atau pupuk kimia. Yang penting harus tetap ditambahkan pupuk organik, karena hal ini sangat berguna untuk menyeimbangkan kehidupan di ala mini.
Dia cukup optimis tentang organik, karena sedikit demi sedikit para petani sudah mulai sadar untuk menambahkan pupuk organik di lahan mereka.
Dengan perlakuan yang seimbang antara pupuk organik dan pupuk mineral, maka peningkatan produksi secara berkelanjutan akan dapat dicapai.
Lebih lanjut Untung mengatakan bahwa tempat pelatihan Bitec Ndayu Park menerima para siswa, mahasiswa dan petani, peternak untuk magang disana. Dibutuhkan waktu 6 bulan untuk berlatih dan menyerap keahlian/ketrampilan ditempat ini.
Setelah itu mereka sudah dapat menjadi petani ORGANIK yang mandiri. Sudah trampil membuat mikrobia, membuat pupuk ORGANIK padat maupun cair, membuat pakan ternak fermentasi, memproduksi susu terbaik dan memelihara ikan.
“Yang terpenting mereka telah sanggup mengelola usaha tani terpadu nir limbah (zero waste),” tegasnya.