Wednesday, 21 October 2026


Enam Pangan Lokal Alternatif Hadapi Krisis Pangan

10 Oct 2022, 06:22 WIBEditor : Yulianto

Cinta pangan lokal, kenyang ngga harus nasi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kementerian Pertanian menegaskan kesiapan Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis pangan global, termasuk dengan memperkuat berbagai strategi dan upaya memperkuat potensi pangan berbasis sumberdaya lokal. Selain upaya menjaga tingkat produksi beras agar tetap swasembada, berbagai upaya alternatif juga disiapkan.

Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan  mengatakan, Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman pangan lokal. Indonesia, mempunyai banyak bahan baku pangan berpotensi sebagai cadangan dan substitusi beras. “Semua ada di sekitar kita dan lama menjadi pangan konsumsi masyarakat lokal,” katanya.

Sebagai informasi, pemerintah menetapkan enam komoditas sumber karbohidrat  yakni, ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan talas. Dari enam komoditas yang menjadi pilihan, tiga komoditas yakni pisang, kentang dan talas termasuk yang selama ini jarang disebut sebagai komoditas untuk mendukung diversifikasi pangan. Kesemua produk tersebut merupakan potensi cadangan pangan Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan.

“Mungkin kita belum begitu merasakan dampaknya perubahan iklim dan krisis pangan global. Namun di beberapa negara di benua Afrika, negara Asia,  bahkan untuk Amerika dan Inggris saja sudah mulai terlihat nyata ancaman tersebut,” katanya.

Karena itu, Kuntoro menegaskan apa yang disampaikan Menteri Pertanian terkait stok sagu bila harga beras melambung tinggi, merupakan analogi ekstrim bila terjadi masalah stok pangan. Namun, stok beras kita sangat cukup. FAO dan IRRI juga mengapresiasi swasembada dan ketahanan sistem pertanian dan pangan kita.

“Indonesia juga masih over stok diatas 10 juta ton per Juli 2022 lalu menurut BPS, sehingga masyarakat tidak perlu kawatir. Petani kita juga mulai masuk masa tanam utama Oktober-Maret, dan insyaallah pangan pokok kita akan terus cukup tersedia,” katanya.

Sementara itu, Guru besar Ilmu Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Rusnadi Padjung, mendorong diversifikasi melalui pengembangan pangan lokal pengganti beras. Hal tersebut menurutnya sangat penting. Selain meningkatkan keanekaragaman produksi dan konsumsi pangan lokal yang bergizi dan aman untuk dikonsumsi, juga sebagai bentuk antisipasi ancaman krisis pangan global.

"Selama ini beras menjadi sumber pangan yang dominan. Sementara, Indonesia ini kaya akan sumber pangan sebagai alternatif mengurangi ketergantungan terhadap beras," kata Rusnadi. Upaya pengembangan sumber pangan lokal berbasis potensi sumber daya lokal secara berkelanjutan menurutnya, akan memperkuat capaian swasembada beras.

"Ingat, kekayaan keanekaragaman hayati dan potensi sumber pangan lokal kita sangat luar biasa dan itu memungkinkan untuk melakukan diversifikasi. Ada sagu, ubikayu, ubijalar pisang," ungkapnya.

Sebagai informasi, salah satu contoh sumber pangan yang potensial untuk diakselerasi sebagai pengganti beras adalah sagu. Pertanaman sagu di Indonesia terdapat di kawasan timur Indonesia seperti Papua, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

Sagu yang berasal dari Sentani misalnya, kandungan karbohidrat bisa mencapai 56 sampai 87 persen, sementara kandungan pati diantara 81 sampai 84 persen. Namun, Rusnadi mengakui, harga sagu relatif masih mahal dibandingkan beras karena infrastruktur sagu masih terbatas dan berada di wilayah-wilayah yang sulit.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018