
Gudang Bulog
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Gonjang-ganjing harga pangan kerap menjadi tamu rutin yang dialami mayarakat. Harga naik, konsumen akan terbebani. Sebaliknya harga turun, petani pun menangis.
Seperti yang terjadi ketika harga beras dan gabah pada Agustus 2022 bergerak naik. Beberapa faktor memang mempengaruhi kenaikan harga beras. Selain pada bulan tersebut produksi turun, implikasi kenaikan harga BBM juga ikut mendorong naiknya harga beras.
Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan Syailendra mengatakan, dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras, prinsipnya harus memperkuat Bulog dan BUMN Pangan yang lain. Namun diakui, tidak bisa sertamerta menugaskan pengadaan beras kepada Bulog, tanpa diiringi instrumen pembiayaan bunga komersil yang rendah.
“Bila perlu pinjamkan modal untuk melakukan transaksi dan melakukan kontrak jangka panjang,” katanya saat Webinar PATAKA tentang “Harga Beras Naik, Apa Solusinya,” di Jakarta, Seleasa (25/10).
Sementara itu Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan, Badan Pangan Nasional/Bapanas RI Rachmi Widiriani mengatakan pemerintah menargetkan stok beras Bulog mencapai 1,2 juta ton di akhir tahun ini. Namun saat musim gadu seperti saat ini untuk pengadaan memerlukan effort lebih.
“Makanya kebijakan fleksibilitas harga gabah dan beras telah dicabut sejak 17 Oktober 2022 yang lalu. Hasil evaluasi, fleksibilitas mendorong kenaikan harga beras. Namun memberi kesempatan kepada petani untuk meningkatkan kualitas gabah sehingga dapat menikmati harga gabah terbaik dari Bulog,” tuturnya.
Rachmi menyampaikan, saat ini harga GKP di tingkat petani mengalami kenaikan sebesar 13,5 persen, harga GKG meningkat 9,2 persen dan harga beras meningkat 4,2 persen dari Rp 10.700 pada Juli 2022 menjadi Rp 11.090/kg di tingkat konsumen.
Apalagi pada musim gadu, produksi gabah/beras memang menurun, tapi kualitasnya lebih bagus. “Pada musim panas kualitas gabah atau beras yang dihasilkan lebih baik dibanding periode sebelumnya,” katanya.
Data Kementerian Pertanian, biaya usaha tani meningkat signifikan terutama kenaikan BBM dan pupuk. Jadi HPP petani mengarah Rp 15 juta/ha. Sedangkan banyak petani lahan dibawah 1 hektar. Persoalannya ketika petani mendapatkan 5 ton/ha dengan harga GKG Rp 5.000/kg, sehingga pendapatan petani hanya Rp 25 juta/ha. Sedangkan pendapatan bersih sekitar Rp 10 juta dibagi 4 bulan. Jadi pendapatan petani hanya Rp 2 juta/bulan.