
Gerakan pengendalian hama terpadu
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Hama penyakit pada tanaman padi memang menjadi momok menakutkan bagi para. Penanggulangan hama penyakit yang tidak bijak, selain bisa menurunkan kualitas juga biaya produksi menjadi tinggi yang secara tidak langsung akan mengurangi keuntungan petani. Untuk itu petani harus menerapkan SOP dalam budidaya padi yang baik.
Berbagai keluhan mengenai hama dan penyakit padi datang dari petani saat Bimtek Antisipasi Serangan Penyakit Padi saat Musim Tanam yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Kamis (2/2). Seperti disampaikan Ashlin dalam chatnya.
”Daerah kami ada keluhan dari petani-petani terkait tanaman padinya tidak mau berkembang dan tidak tumbuh, serta daun berubah warna menjadi menguning seperti layu. Saya mau bertanya bagaimana penanganan penyakit benih ini?” ujarnya.
Keluhan juga disampaikan Sawal, S.Pt, penyuluh pertanian di Klaten. ”Di daerah kami di Klaten untuk tanaman padi banyak serangan penggerek batang, bahkan tanaman menjadi kerdil, padahal tidak ada hama wereng, bagaimana cara pengendalian yang paling efektif? katanya.
Sementara itu Abdullah Umar dari Kalimantan Barat juga berharap adanya peringatan dini dalam upaya mengendalikan OPT. Selama ini peramalan OPT dilihat dari kondisi musim sebelumnya. ”Dengan adanya peringatan dini dengan data yang ada, sehingga bisa diantisipasi sejak dini kemungkinan meledaknya OPT,” ujarnya.
Keluhan petani dan penyuluh terhadap kondisi kekhawatiran meledaknya OPT tahun ini memang wajar. Apalagi anomali iklim yang disebabkan global warming menjadi salah satu pendorong berkembangkanya hama penyakit yang mengancam keselamatan produksi. Karena dengan adanya serangan hama, petani bakal merogoh kocek lebih banyak untuk biaya penanggulangan hama penyakit. Imbasnya akan mengurangi keuntungan petani.
Ketua KTNA Jawa Barat, Otong Wiranta pada Bimtek Antisipasi Serangan Penyakit di Musim Tanam Padi yang diselenggarakan Tabloid Sinartani bekerjasama dengan BASF mengatakan, biaya pengendalian hama penyakit yang tinggi bisa menurunkan kualitas bila tidak ditanggulangi dengan arif. “Keberhasilan penanggulangan hama penyakit tentu berperan penting terhadap stabilitas produksi padi,” tambahnya.
Otong mengungkapkan, beberapa hama seperti tikus dan penggerek batang masih menjadi hama utama tanaman padi. Bahkan saat ini di beberapa daerah, burung juga sudah menjadi masalah. Data Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, luas serangan OPT penggerek batang padi mencapai 87.813 ha, tikus 72.544 ha, kresek 48.430 ha, blast 32.470 ha, WBC 28.179 ha dan tungro 17.929 ha.
Menurutnya, sebenarnya petani sudah mengerti perkembangan hama yang terjadi di lapangan. Tapi dalam penanggulangannya petani kurang kompak dan tidak mengikuti SOP dari Dinas Perlindungan membuat keberhasilan yang masih rendah. Karena itu, kata Otong, perlu ditingkatkan kesadaran petani, sehingga prinsip pengololaan pengendailan hama terpadunya diterapkan.