
Panen sorgum
TABLOIDSINARTANI.COM, LANGSA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Aceh berhasil panen sorgum.
"Kegiatan panen sorgum merupakan kerjasama Civitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Aceh, " ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Aceh, Muhajir, SSi.,MSi saat acara panen (14/6) hasil riset dan kolaborasi antara BMKG, BRIN dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Samudra, Langsa.
Menurutnya, tim yang terlibat telah berhasil melewati fase tumbuh tanaman sorgum di tengah dinamika atmosfer yang tak menentu.
"Pasalnya, lokasi penelitian Stasiun Klimatologi Aceh berada dalam Zona Musim 3 dimana memiliki tipe pola hujan ekuatorial 2, yaitu hanya mempunyai dua musim yang terdiri dari satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan," paparnya.
Menurutnya, awal musim kemarau 2023 di Stasiun Klimatologi Aceh jatuh pada bulan Februari dasarian II dan mulai memasuki puncak musim kemarau pada bulan Juni. Sehingga dikarenakan bertepatan dengan musim kemarau, terpantau saat periode tanam curah hujan di lokasi penelitian masuk pada kategori rendah.
"Ini merupakan tantangan tersendiri karena Hari Tanpa Hujan yang relatif panjang dapat mengakibatkan defisit air sehingga tanaman memerlukan treatment khusus," timpalnya.
Namun, dengan pengetahuan yang tepat dan perencanaan yang baik, pada kesempatan ini, kita berhasil memanfaatkan kondisi puncak musim kemarau untuk bersama-sama panen Sorgum.
Meskipun tantangan yang dihadapi cukup besar, namun berkat kerjasama yang baik dan pemahaman yang mendalam tentang kondisi cuaca dan iklim, kita telah berhasil mencapai hasil yang optimal.
"Ini adalah bukti bahwa dengan pengetahuan dan teknologi yang tepat, kita dapat mengatasi tantangan iklim dan cuaca untuk meningkatkan produksi pertanian," sambungnya.
Pihaknya juga bersyukur dapat bekerjasama dengan peneliti BRIN dalam upaya peningkatan produksi Sorgum di Aceh melalui kegiatan penelitian.
Muhajir mengharapkan kegiatan ini hendaknya menjadi pengalaman berharga bagi adik-adik mahasiswi. Semoga kedepan ilmu yang diperoleh dapat diterapkan setelah lulus menjadi sarjana.
"Dengan inovasi dan pemahaman yang mendalam tentang iklim, kita dapat meningkatkan hasil optimal," pungkasnya.
Sebelumnya peneliti BRIN Dr Basri A. Bakar, MSi mengatakan Sorgum termasuk tanaman seralia potensial yang perlu dikembangkan untuk menunjang ketahanan pangan dan agribisnis, mengingat daya adaptasinya yang luas serta kebutuhan air yang rendah.
Sorgum yang ditanam kata Basri varietas Kawali berasal dari Balitsereal Maros, Sulawesi Selatan kelas BS (label kuning).
Dengan umur panen 100 - 110 hari dan tinggi rata-rata 135 cm. Hasil panen bisa digunakan sebagai benih sumber untuk penanaman selanjutnya. Sementara produktivitas mencapai 4 - ton per hektar.
Uji coba tanam Sorgum varietas Kamali di lahan kering BMKG ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pupuk organik enceng gondok terhadap peningkatan produksi.
"Alhamdulillah hasilnya cukup baik walaupun ditanam di lahan kering, kedepan kita akan lakukan kerjasama di lokasi yang berbeda," ucapnya.
Pihaknya berharap kegiatan ini mendapat dukungan dari Distanbun Aceh. Pasalnya, harga Sorgum di luar Aceh cukup menjanjikan.
Sementara Kepala Distanbun Aceh, Ir Cut Huzaimah, MP dalam merespon hal tersebut sangat senang dan apresiasi atas keberhasilan peneliti BRIN dan BMKG melakukan panen tanaman sorgum di lokasi lahan kering BMKG, Indrapuri, Aceh Besar.
Lebih lanjut Cut Huzaimah mengatakan, sorgum adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri.
Sebagai bahan pangan, sorgum termasuk dalam golongan tanaman gandum, jagung, padi dan kedelai. Sorgum banyak di tanam di daerah suhu panas.
Selain itu, Sorgum memiliki nilai gizi yang unggul, lebih dari beras. Karena mengandung protein, kalsium, zat besi, fospor dan vitamin B1, B6, yang lebih tinggi dari beras. Sorgum, diklaim baik dikonsumsi oleh orang yang terkena diabetes, karena kandungan gulanya rendah.
"Bagi orang yang sedang melaksanakan program diet. Sorgum bisa menjadi menu makan yang ideal. Perut terasa kenyang lebih lama, karena kandungan seratnya yang tinggi," bebernya.
Untuk membudidaya tanaman sorgum pada tingkat petani di Aceh, kita harus lebih banyak lagi membuat demplot-demplot percobaan dan percontohan tanaman sorgum itu, di berbagai lokasi tanaman padi, jagung dan kedelai, agar petani mengenal karakter dari tanaman sorgum tersebut.
“Kita perlu cari pasar terdekat seperti Medan dan Sumatera, sehingga saat panen ada yang menampung," timpalnya.
Kegiatan panen dihadiri Kepala Stasiun Kelas I Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Kadistanbun Aceh, Kadistan Aceh Besar, Kepala Stasiun geofisika Aceh Besar, Kepala Badan Penerapan Standardisasi Instrumen Pertanian Aceh (BPSIP Aceh), Dekan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Syiah Kuala, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Samudra Langsa, Dekan Fakultas Pertanian Abulyatama Aceh dan Balai Wilayah Sungai Sumatera I (BWS SI), Peneliti BRIN Aceh, Dr Mutiawati, S.Pd., M.Pd, Dr Saudah, S.Pd., M.Si. Serta para tamu undangan, mahasiswi magang dan staf Stasiun Klimatologi Aceh.