
Petani Lebak mulai Tanam kembali
TABLOIDSINARTANI.COM, Lebak -- Kabupaten Lebak berusaha mengejar harga gabah tinggi dengan memfokuskan pada realisasi tanam 10 ribu hektar.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menjelaskan bahwa pada Februari 2024, luas tanam padi mencapai 10.000 hektare, yang diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan dan ekonomi petani.
Target tersebut berhasil terealisasi di 28 kecamatan, menjadikan Kabupaten Lebak sebagai lumbung pangan di Provinsi Banten dengan luas sawah baku mencapai 44 ribu hektare dan musim tanam 110.000 hektare per tahun.
Produksi pertanian pangan telah menjadi andalan ekonomi petani setempat, berkontribusi pada ketersediaan beras di Banten.
Deni mengajak petani untuk melakukan gerakan percepatan tanam, terutama karena curah hujan yang cukup tinggi saat ini, dengan harapan padi yang ditanam pada bulan ini dapat dipanen pada bulan Mei mendatang.
Dia juga menyebutkan, semangat petani di Kabupaten Lebak dalam menggeluti usaha pertanian pangan semakin tinggi, terutama dengan harga panen gabah basah yang menguntungkan, mencapai Rp7.000 per kilogram, lebih tinggi dari Harga Patokan Pemerintah (HPP) sebesar Rp5.000 per kilogram.
Deni percaya bahwa pendapatan petani bisa meningkat signifikan, bahkan mencapai Rp49 juta untuk penjualan 5 ton gabah basah dengan harga tersebut.
Mulai Tanam
Misbah, seorang petani di Sentral Rangkasbitung Kabupaten Lebak, telah melakukan gerakan tanam seluas satu hektar dengan benih Ciherang.
Dia berharap tanamannya dapat tumbuh subur dan berhasil dipanen, terutama setelah tahun 2023 mengalami kegagalan panen akibat kemarau panjang. Untuk memastikan pasokan air terpenuhi, ia mengandalkan Bendungan Cijoro.
Di sisi lain, Ketua Kelompok Tani Sukabungah Desa Tambakbaya Kabupaten Lebak, Ruhiana, menyatakan bahwa mereka memasuki panen raya seluas 150 hektar pada Maret 2024.
Petani di wilayahnya telah menemukan penampung gabah basah dengan harga Rp7.000 per kilogram, melebihi Harga Patokan Pemerintah (HPP) sebesar Rp5.000 per kilogram.
Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menjual panen ke penampung tengkulak untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik.