
Panen panen di lahan Program PMO Mitra Tani Perum Bulog, di Karawang, Selasa (4/11).
TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang—Aset Perum Bulog berupa lahan sawah ternyata cukup luas, namun belum tergarap optimal. Sejak tahun 2024, lahan-lahan tersebut mulai dioptimalkan dengan menerapkan budidaya padi sesuai Good Agriculture Practices (GAP).
Sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap cadangan pangan pemerintah, Perum Bulog saat ini berupaya mengptimalisasi lahan sawah untuk mendukung swasembada pangan. Salah satunya di Dusun Kepuh, Desa Jatibaru, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Setidaknya ada 14,5 hektar (ha) lahan sawah yang belum tergarap optimal. Dari luasan tersebut ada sekitar 5,5 ha yang mulai dioptimalkan dalam budidaya padi. “Bulog kini tidak hanya hilirisasi pangan, tapi hadir juga dalam peningkatan produksi pangan melalui CSR atau PMO Mitra Tani,” kata Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Marga Taufik di Karawang saat panen di lahan Program PMO Mitra Tani Perum Bulog, Selasa (4/11).
Dalam kegiatan budidaya PMO Mitra Tani ini, Perum BULOG menerapkan sepenuhnya teknologi pertanian modern berbasis efisiensi dan keberlanjutan. Diantaranya, pemupukan menggunakan drone, penggunaan biostimulan (nutrisi tanaman), biopestisida, serta combine harvester machine (CHM) pada proses panen. Alhasil, produktivitas padi yang semula hanya 5,5 ton/ha, kini bisa terungkit menjadi 7 ton/ha.
Marga Taufik mengatakan, dalam kemitraan ini Bulog menggandeng juga mitra dari akademisi untuk memberikan satu proses budidaya yang benar-benar bisa menghasilkan produksi yang bagus. "Jadi nanti akan memberikan contoh di tengah-tengah masyarakat. Kita hadir dalam rangka peningkatan produksi dan membantu masyarakat melalui CSR dengan PMO Mitra Tani," tuturnya.
Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto mengatakan, pemanfaatan aset lahan ini dilakukan secara mandiri di lahan milik Bulog yang belum tergarap maksimal. Ada beberapa lokasi yang sudah digarap untuk budidaya padi, selain di Jatisari, ada juga di Cikalong dua lahan masing-masing seluas 3 ha dan 1 ,5 ha, kemudian Cibitung, Bekasi 6 ha dan di Marunda, Jakarta Utara seluas 6 ha.
“Semua memang tanahnya Bulog dan sudah ditanami padi. Insyaallah nanti Januari sudah bisa panen,” ujarnya. “Memang semua kita yang membiayai dan hasilnya juga semuanya untuk kita,” tambah Prihasto.
Dalam pembelian gabah hasil panen, Prihasto mengungkapkan, Bulog menerapakan dua pola. Pertama, jika harga gabah sedang tinggi diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500/kg, maka Bulog membeli dengan skema komersial. “Saat ini harga gabah mencapai Rp 7.000/kg. Jadi kita beli gabah sesuai harga pasar,” katanya.
Kedua, jika harga gabah di bawah HPP, maka Bulog menyerap dengan skema PSO (Public Service Obligation) dengan harga sesuai HPP Rp 6.500/kg. Gabah-gabah tersebut nanti akan dikirim ke SPPB (Sentra Produksi Padi Bulog) terdekat. “Gabah tersebut nanti akan diolah menjadi beras premium Bulog,” ujarnya.