Thursday, 22 October 2026


Harga Pangan Terkendali, Daerah Terdampak Bencana Sumatera Deflasi di Awal 2026

03 Feb 2026, 09:55 WIBEditor : herman

Penjual beras di pasar tradisional

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan positif dalam pengendalian harga pangan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi.

Tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mengalami deflasi pada Januari 2026, setelah sebelumnya mencatat inflasi cukup tinggi pada Desember 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa ketiga provinsi tersebut menunjukkan tren penurunan harga secara bulanan (month to month) di awal 2026. Kondisi ini mencerminkan mulai pulihnya pasokan dan distribusi pangan pascabencana.

“Khusus inflasi pascabencana pada tiga provinsi yang terkena bencana hidrometeorologi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada awal tahun 2026 tercatat mengalami deflasi setelah sebelumnya pada Desember 2025 mengalami inflasi yang cukup tinggi,” ujar Ateng dalam Rilis BPS, Senin (2/2).

Secara rinci, Provinsi Aceh yang pada Desember 2025 mencatat inflasi sebesar 3,60 persen, berbalik mengalami deflasi 0,15 persen pada Januari 2026.

Sumatera Utara juga mencatat penurunan harga dari inflasi 1,66 persen pada Desember menjadi deflasi 0,75 persen pada Januari.

Sementara itu, Sumatera Barat mengalami deflasi paling dalam, yakni 1,15 persen, setelah sebelumnya inflasi 1,48 persen pada Desember 2025.

Ateng menyebutkan, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di ketiga provinsi tersebut. Hal ini menunjukkan pasokan pangan pokok tetap terjaga di tengah proses pemulihan pascabencana.

“Pada periode ini, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar. Di Aceh, deflasi terutama didorong oleh penurunan harga telur ayam ras, sedangkan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat dipicu oleh turunnya harga cabai merah,” jelasnya.

Deflasi di wilayah terdampak bencana juga tidak terlepas dari respons cepat pemerintah, termasuk Kementerian Pertanian, dalam mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi. Upaya penguatan distribusi, penyaluran bantuan pangan, serta pengamanan pasokan komoditas strategis dinilai efektif menjaga ketersediaan pangan pokok dan meredam tekanan inflasi pascabencana.

Sementara itu, secara nasional, BPS mencatat deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan pada Januari 2026. Indeks harga tercatat turun dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang deflasi terbesar, yakni sebesar 1,03 persen dengan andil deflasi 0,30 persen.

Beberapa komoditas utama yang mendorong deflasi nasional antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

“Pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara month to month, ditandai dengan penurunan indeks harga dari 109,92 menjadi 109,75,” ujar Ateng.

Selain faktor distribusi dan kebijakan pemerintah, BPS juga mencatat mulai masuknya masa panen sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah di awal 2026. Meningkatnya pasokan dari sentra produksi turut menekan harga pangan di tingkat konsumen.

Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan daerah guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, terutama di wilayah rawan bencana, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Reporter : eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018