
Produksi beras Januari 2026 lonjak 700 persen! Mentan Amran pede, cuaca ekstrem tak hambat persediaan pangan terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Produksi beras Januari 2026 lonjak 700 persen! Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yakin cuaca ekstrem tak menghambat upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan.
Pemerintah Indonesia kembali memantik optimisme soal ketahanan pangan nasional setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan produksi beras pada Januari 2026 melonjak hingga 700 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Lonjakan ini terjadi meski sejumlah wilayah di Tanah Air dilanda cuaca ekstrem, memicu kekhawatiran publik soal panen gagal dan stok pangan terguncang.
Dalam keterangan persnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Amran menjelaskan bahwa realisasi produksi beras pada Januari 2026 mencapai 112 ribu ton, jauh melampaui 14 ribu ton pada Januari 2025.
“Kalau dibandingkan Januari lalu, naik tujuh kali lipat. Ini baru awal tahun,” ujar Amran, menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia justru menunjukkan ketangguhan luar biasa.
Lonjakan produksi ini tidak hanya angka besar di atas kertas, pemerintah juga mencatat bahwa stok beras nasional kini mencapai level tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan data resmi, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog kini menembus angka lebih dari 3,3 juta ton. Angka ini bahkan disebut sebagai yang tertinggi sejak Indonesia merdeka.
Menurut Amran, kondisi cuaca ekstrem yang dialami beberapa daerah di awal tahun ini tidak berdampak signifikan terhadap produksi beras secara nasional.
Ia menilai bahwa curah hujan yang tinggi justru mendukung fase tanam, sementara tantangan terbesar sektor pertanian justru datang saat fenomena El Niño — ketika air menjadi langka. “Kalau El Niño, air susah. Kalau terendam hujan, iya, tapi prosentasenya kecil,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di tengah sejumlah tantangan nyata yang dihadapi sektor pertanian. Cuaca ekstrem memang telah menyebabkan genangan di beberapa sawah, namun pemerintah mengklaim dampaknya bersifat lokal dan tidak material terhadap target produksi nasional.
Perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, serta intervensi kebijakan subsidi pupuk dan mesin pertanian juga ikut memperkuat output produksi.
Kinerja produksi beras tahun ini juga didukung oleh hasil positif sepanjang 2025. Lembaga resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,77 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang diperkirakan 31,1 juta ton per tahun.
Hal ini sekaligus menjadi landasan kuat pemerintah untuk menghapus impor beras sepanjang 2026 dan menjadikan produksi domestik sebagai sumber utama stok nasional.
Kebijakan tanpa impor ini ditegaskan kembali oleh Amran pada Januari lalu, yang menyatakan bahwa Indonesia tidak akan membuka keran impor beras sepanjang 2026 karena stok domestik yang kuat serta komitmen terhadap kedaulatan pangan.
Ia bahkan menyebutkan bahwa surplus produksi memungkinkan Indonesia memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar negeri.
Tak hanya itu, capaian stok beras yang kuat juga membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memasuki era ekspor beras di masa depan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah tidak hanya menargetkan swasembada beras, tetapi juga ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangan global dengan kapasitas produksi yang berkelanjutan.
Meski demikian, pemerintah tetap waspada terhadap tantangan lain seperti kualitas penyimpanan, fluktuasi harga, serta perubahan permintaan pasar. Strategi jangka panjang seperti perluasan cadangan pangan, modernisasi pertanian, serta perlindungan harga kepada petani terus dijalankan untuk memastikan ketahanan pangan tetap solid di tahun-tahun mendatang.