
Biofertizinc hasil inovasi BRIN mampu meningkatkan kandungan zink pada bulir padi sehingga menghasilkan beras lebih bergizi dan berpotensi membantu mencegah stunting.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Biofertizinc hasil inovasi BRIN mampu meningkatkan kandungan zink pada bulir padi sehingga menghasilkan beras lebih bergizi dan berpotensi membantu mencegah stunting.
Selama ini keberhasilan petani sering diukur dari satu hal, yakni seberapa banyak gabah yang berhasil dipanen.
Semakin tinggi produktivitas per hektare, semakin baik pula hasil budidayanya.
Namun, tantangan pertanian saat ini tidak lagi hanya mengejar kuantitas produksi.
Pertanian juga dituntut mampu menghasilkan pangan yang lebih bergizi sehingga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Di sinilah peran petani menjadi semakin penting. Mereka bukan hanya menghasilkan beras sebagai sumber pangan, tetapi juga berpeluang menyediakan beras yang memiliki kandungan gizi lebih baik.
Salah satu unsur gizi yang kini menjadi perhatian adalah zink (Zn), mineral mikro yang sangat dibutuhkan tubuh manusia untuk menunjang pertumbuhan, perkembangan otak, hingga menjaga daya tahan tubuh.
Kekurangan zink menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan tingginya kasus stunting di Indonesia.
Karena itu, meningkatkan kandungan zink pada beras dinilai sebagai langkah strategis.
Mengingat nasi dikonsumsi hampir setiap hari oleh mayoritas masyarakat Indonesia, memperkaya kandungan zink pada beras dapat menjadi cara efektif untuk membantu memperbaiki asupan gizi tanpa harus mengubah pola konsumsi masyarakat.
Ironisnya, tantangan justru dimulai dari sawah. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat sekitar 2,9 juta hektare lahan sawah di Indonesia mengalami defisiensi zink.
Kondisi ini bukan berarti tanah tidak mengandung unsur tersebut. Menurut peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Dr. Etty Pratiwi, zink sebenarnya masih tersedia di dalam tanah, tetapi tidak dapat diserap tanaman karena terikat oleh fosfor akibat pemupukan yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka panjang.
Akibatnya, tanaman padi mengalami kekurangan unsur mikro yang sangat penting.
Gejalanya terlihat dari pertumbuhan yang terhambat, daun muda menguning, jumlah anakan berkurang, hingga pengisian bulir yang tidak optimal.
Pada akhirnya, produktivitas menurun dan kandungan zink pada gabah yang dihasilkan juga menjadi lebih rendah.
Padahal, zink memiliki peran yang sangat besar bagi tanaman.
Unsur mikro ini membantu pembentukan enzim, sintesis protein, pembentukan hormon pertumbuhan, serta mendukung proses fotosintesis.
Meski dibutuhkan dalam jumlah sedikit, fungsinya sangat menentukan pertumbuhan tanaman sejak fase awal hingga pembentukan bulir.
Melihat persoalan tersebut, BRIN mengembangkan inovasi berupa Biofertizinc, yaitu pupuk hayati berbasis konsorsium bakteri pelarut zink atau zinc solubilizing bacteria.
Berbeda dengan pupuk kimia yang menambahkan unsur hara secara langsung, Biofertizinc bekerja dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk melepaskan zink yang selama ini terkunci di dalam tanah.
Mikroba tersebut menghasilkan senyawa alami berupa asam organik dan siderofor yang mampu memutus ikatan antara zink dan fosfor.
Setelah ikatan tersebut terurai, unsur zink kembali tersedia dalam bentuk yang mudah diserap akar tanaman.
Dengan kata lain, Biofertizinc membantu tanaman memanfaatkan cadangan unsur hara yang sebenarnya sudah ada di dalam tanah.
Pendekatan biologis ini memberikan sejumlah keuntungan.
Selain meningkatkan ketersediaan zink, aktivitas mikroba juga memperbaiki kesehatan tanah dan meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara lainnya.
Hal tersebut membuat pemanfaatan pupuk menjadi lebih optimal sekaligus mendukung sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Hasil berbagai uji lapangan menunjukkan Biofertizinc tidak hanya memperbaiki pertumbuhan tanaman, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas padi.
Batang tanaman menjadi lebih kokoh sehingga lebih tahan rebah saat memasuki fase pengisian bulir.
Kondisi ini penting karena tanaman yang rebah sering menyebabkan kehilangan hasil panen, terutama ketika hujan lebat atau angin kencang datang menjelang masa panen.
Yang lebih menarik lagi, peningkatan hasil panen tetap dapat dicapai meskipun penggunaan pupuk NPK dikurangi hingga sekitar 25 persen.
Artinya, petani berpeluang menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan produktivitas.
Efisiensi ini menjadi nilai tambah di tengah harga pupuk yang terus berfluktuasi.
Konsep Biofortifikasi
Namun, manfaat Biofertizinc ternyata tidak berhenti pada peningkatan hasil panen.
Inovasi ini juga mendukung konsep biofortifikasi, yaitu meningkatkan kandungan zat gizi tanaman sejak masih tumbuh di lahan.
Dengan cara tersebut, beras yang dihasilkan memiliki kandungan zink lebih tinggi secara alami.
Menurut hasil pengujian BRIN, aplikasi Biofertizinc mampu meningkatkan kandungan zink pada bulir padi sekitar 10 hingga 22 persen.
Selain itu, ketersediaan zink di dalam tanah juga meningkat sekitar 20 persen sehingga manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya pada satu musim tanam, tetapi juga membantu memperbaiki kesuburan lahan dalam jangka panjang.
Peningkatan kandungan zink pada beras memiliki arti penting bagi kesehatan masyarakat.
Zink merupakan mineral esensial yang terlibat dalam lebih dari 300 reaksi enzim di dalam tubuh manusia.
Mineral ini berperan dalam pertumbuhan sel, pembentukan jaringan tubuh, perkembangan otak, metabolisme, serta menjaga sistem kekebalan tubuh.
Kekurangan zink, terutama pada ibu hamil dan anak-anak, dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Menurut Kementerian Kesehatan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Dampaknya bukan hanya tubuh yang lebih pendek, tetapi juga gangguan perkembangan otak, penurunan kemampuan belajar, hingga meningkatnya risiko penyakit saat dewasa.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting memang menunjukkan penurunan dari 24,4 persen pada 2021 menjadi 21,5 persen pada 2023.
Meski demikian, angka tersebut masih menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima balita Indonesia mengalami stunting.
Kondisi ini menjadi tantangan besar yang membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, termasuk sektor pertanian.
Melalui pendekatan biofortifikasi menggunakan Biofertizinc, petani memiliki peluang untuk ikut berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting.
Setiap hektare sawah tidak hanya menghasilkan gabah dalam jumlah lebih banyak, tetapi juga menghasilkan beras dengan kualitas gizi yang lebih baik.
Inovasi ini sekaligus mengubah cara pandang terhadap keberhasilan budidaya.
Jika selama ini fokus hanya pada produktivitas, kini kualitas nutrisi hasil panen juga menjadi indikator yang tidak kalah penting.
Dengan demikian, petani tidak hanya berperan sebagai produsen pangan, tetapi juga menjadi bagian dari rantai penyedia pangan bergizi bagi masyarakat.
Ke depan, pemanfaatan pupuk hayati seperti Biofertizinc berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan pertanian yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Ketika tanah menjadi lebih sehat, tanaman tumbuh lebih optimal, biaya produksi lebih hemat, dan beras yang dihasilkan memiliki kandungan zink lebih tinggi, manfaatnya tidak hanya dirasakan petani.
Dampaknya juga akan sampai ke meja makan jutaan keluarga Indonesia melalui pangan yang lebih bergizi dan mendukung lahirnya generasi yang lebih sehat, cerdas, serta bebas stunting.