Wednesday, 21 October 2026


Beli Gabah Any Quality, Komisi VI DPR RI Ingatkan Bulog: Jaga Kualitas Beras

14 Sep 2026, 16:44 WIBEditor : Yulianto

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani di Pusat Komando Bencana Alam NTT Ruang SCCT (Supply Chain Control Tower), Kantor Perum BULOG Pusat, Jakarta, Senin (14/9).

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Komisi VI DPR RI mengingatkan agar Perum Bulog menjaga kualitas beras. Apalagi kebijakan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog harus menyerap gabah semua jenis kualitas (any quality).

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini saat Laporan Bencana Alam (Bencal) terbaru yang disampaikan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani di Pusat Komando Bencana Alam NTT Ruang SCCT (Supply Chain Control Tower), Kantor Perum BULOG Pusat, Jakarta, Senin (14/9).

Ermarini mengapresiasi sejak dua tahun (2025-2026) Indonesia tidak lagi impor beras, bahkan penyerapan gabah/beras petani cukup besar. Namun menurutnya, yang menjadi persoalan kini adalah dengan stok beras yang cukup besar ada kekhawatiran kualitas berasnya menurun. Apalagi Bulog membeli gabah yang any quality. “Pertanyaan saya adalah bagaimana cara Bulog mengelola beras yang stoknya cukup banyak tersebut,” ujarnya.

Rizal mengakui, sesuai Inpres Perberasan tahun 2025, Bulog telah menyerap gabah any quality sebanyak 3 juta ton setera beras. Namun dalam pelaksanaan, ternyata banyak petani yang menjual gabah dalam kondisi tidak baik.

Contohnya, ungkap Rizal, sebelum menjual ke Bulog, gabah tersebut direndam di air terlebih dahulu agar berat timbangannya bertambah. Ada juga yang belum masa panen, petani mempercepat panen karena melihat petani lain sudah panen dan mendapatkan uang, padahal gabahnya masih hijau.

Dengan pengalaman tersebut, Rizal mengungkapkan, pada Inpres Perberasan tahun 2026 ada tambahan persyaratan gabah any quliaty yakni gabah yang dijual ke Bulog sudah masuk usia panen. Untuk itu, tim Serap Gabah Bulog tiap desa melibatkan Babinsa, Babinkatibnas dan penyuluh pertanian untuk mengawal pengadaan gabah Bulog.

Nanti PPL memberikan rekomendasi tanaman yang sudah siap panen baru dipanen dan hasilnya dibeli Bulog.  Dengan cara ini, Bulog menjaga kualitas gabah yang Bulog beli dari petani memenuhi persyaratan pemerintah.

“Jadi ini trik kami. Dengan pengawasan Babinsa dan Babinkamtibnas, petani panen sesuai rekomendasi PPL dan seusai syarat standar pemerintah,” katanya.

Dalam pengolahan gabah menjadi beras, Rizal mengungkapkan, pihak mengandeng mitra yakni perusahaan penggilingan gabah kecil. “Jadi bukan perusahaan penggilingan besar yang kami jadikan mitra, tapi yang kecil. Ini untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Karena itulah kami berdayakan mitra penggilingan yang kecil,” tuturnya.

Namun demikian, lanjut Rizal untuk  menjaga kualitas beras, Bulog melakukan seleksi dan memberikan sertifikasi bagi mitra penggilingan yang mampu memenui standar yakni mampu memproduki beras kadar air 25 persen dan menir 2 persen. “Kita cek. Kalau mampu, kita rekomendasikan menjadi mitra Bulog. Jadi kami lakukan penetrasi di penggilingan padi,” tegasnya.

Untuk menjaga kualitas beras, Rizal mengatakan, Bulog melakukan pemeliharaan harian hingga bulanan, bahkan semesteran. Jika nanti ada beras yang turun mutu atau telah tersimpan selama 8 bulan ke atas, maka Bulog akan mengolah menjadi tepung beras.

“Sesuai keputusan Rakortas, Bulog telah mendapat persetujuan untuk mengeolah beras turun mutu menjadi tepung sebanyak 380 ribu ton,” katanya.

Rizal mengakui, saat ini Bulog lebih banyak menyimpan stok dalam bentuk beras, sedangkan gabah masih terbatas karena keterbatasan fasilitas silo. Namun berdasarkan pengalaman negara negara lain seperti China, Thailand dan Vietanm, ternyata menyimpan stok dalam bentuk gabah lebih aman dan lebih tahan lama. “Tuhan itu membuat cangkang pada gabah agar tahan lebih lama,” ujarnya.

Ke depan, Rizal menjelaskan, Bulog akan mengganti brand beras SPHP menjadi Beras Kita (Keluarga Indonesia Sejahtera). Dengan brand baru ini diharapkan beras Bulog lebih menarik bagi masyarakat. “Selama ini kita dikomplain masyarakat. Beras SPHP itu, masyarakat merasa di PHP (Pemberi Harapan Palsu,red),” ujarnya.

Selain beras kualitas medium dengan pecahana 25 persen, Bulog juga akan memperkenalkan Beras Kita Premium dengan pecahanan 15 persen yang dijual di pasar komersial.

“Kalau beras medium itu mendapat subsidi dari pemerintah, sedangkan beras premium tidak ada subsidi. Kita harapkan nanti tidak banyak merek beras Bulog, dan masyarakat akan mudah paham kalau Beras Kita adalah beras pemerintah,” tuturnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018