Wednesday, 04 November 2026


Ubi Kayu, Sumber Energi Masa Depan

03 Nov 2026, 14:00 WIBEditor : Yulianto

singkong sumber energi masa depan

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA--Pemerintah saat ini tengah menyiapkan skema pengembangan industri bioetanol nasional yang melibatkan BUMN, swasta, dan masyarakat. Untuk itu, pemerintah akan memastikan lahan dan legalitas kawasan untuk pengembangan. Sementara rakyat didorong menjadi bagian dari ekosistem usaha agar manfaat ekonomi pengembangan bioetanol dapat dirasakan secara luas.

Salah satu komoditas yang potensial untuk pengembangan bioetanol adalah ubi kayu. Tanaman yang mempunyai nama lain singkong ini menjadi sumber energi masa depan. Bagaimana kesiapan bahan baku bioetanol? Berikut wawancara Tabloid Sinar Tani dengan Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan, Andi Muhammad Idil Fitri.

Seperti apa program pengembangan bioetanol berbahan baku ubi kayu, apakah pemerintah sudah membuat roadmap pengembangannya dan targetnya seperti apa?

Sesuai arahan Presiden RI dalam rangka efisiensi APBN di bidang Migas yakni menekan jumlah impor dan antisipasi geopolitik dunia terkait Perang Amerika-Iran dengan penguasaan selat Hormuz yang berimplikasi terhadap impor bahan mentah minyak bumi, Indonesia harus sudah memulai program ketahanan energi berupa penyediaan bioetanol sebagai sumber bahan bakar terbarukan (renewable).

Peta jalan (roadmap) dimulai pada tahun 2027 hingga 2030 melalui pencanangan tanam ubi kayu sebagai bahan baku dan pembangunan pabrik bioetanol. Target pencampuran (blending) dilakukan secara bertahap dimulai dari E-10 (komposisi bioetanol 10?n BBM fosil 90%), E-20 pada 2029 dan diharapkan mencapai E-50 pada 2030. Selain ubi kayu, program pengembangan bioetanol juga akan berbasis pada dua komoditas pertanian lainnya yaitu Tebu dan Jagung.

Ubi kayu sendiri ditargetkan pertanaman seluas 565.038 ha hingga tahun 2030 untuk mensuplai bahan baku bioetanol dengan target produktivitas 20-25 ton per ha dan kadar pati 24-30%. Dari komoditas ubi kayu, diperkirakan akan menyumbang bioetanol sebanyak 1,57 juta kiloliter (KL) pada 2028 dan 2,17 KL pada 2030.

Sebagai pembanding, Negara Brasil sebagai pelopor bioetanol menggunakan bahan baku 80% tebu dan 20% jagung dengan produksi 38 miliar liter per tahun. Hampir 90% kendaraan di negara Sepak Bola tersebut sudah menggunakan mesin flex-fuel. Jadi dapat menggunakan bensin, etanol murni, atau campuran.

Bagaimana keterlibatan BUMN, swasta dan masyarakat, khususnya petani?

Berdasarkan hasil Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai provinsi pada hari Senin (21/9) di Jakarta, keterlibatan BUMN, swasta dan masyarakat, khususnya petani sangat signifikan diperlukan untuk pengembangan bioetanol ini, baik untuk lahan pertanaman maupun operasional pabrikasinya.

Petani dan BUMN (PTPN dan Agrinas) berperan langsung sebagai mitra penyedia ubi kayu dengan produktivitas dan kadar pati tinggi. Pihak swasta diharapkan terlibat dalam permodalan dan pendirian pabrik bioethanol. Tanpa peranan petani, BUMN dan swasta yang bergerak di bidang ubi kayu, mustahil target E-10 sampai dengan E-50 dapat tercapai dalam waktu dekat dengan harga yang bersaing.

Sejauh apa persiapan lahan untuk mendukung program bioethanol berbahan baku ubi kayu?

Penyediaan lahan difokuskan pada Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Lahan yang digunakan meliputi areal HGU yang belum dimanfaatkan, kawasan hutan produksi, hutan kemasyarakatan, lahan sitaan negara, serta lahan lain yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Prinsip utamanya, lahan bioetanol tidak menggunakan lahan eksisting yang diperuntukkan untuk produksi pangan maupun industri eksisting.

Adakah dukungan anggaran khusus dari pemerintah dalam program bioethanol berbahan baku ubi kayu?

Mengingat persiapan menuju E-10 hingga E-50 adalah kebutuhan strategis, pemerintah telah menyusun regulasi induk, regulasi turunan, harmonisasi aturan, serta kesiapan teknis lainnya. Untuk dukungan anggaran khusus dari pemerintah (Direktorat Aneka Kacang dan Umbi) dalam program bioethanol berbahan baku ubi kayu juga telah disiapkan secara bertahap mulai tahun 2027 yaitu bantuan pemerintah berupa setek ubi kayu varietas kadar pati tinggi (seperti UJ 3, UJ 5 dan sejenisnya).

Pemberian bantuan berupa benih ubi kayu merupakan salah satu upaya pembaharuan bahan tanam di tingkat petani untuk menjaga kualitas dan produktivitas tetap tinggi, sehingga mampu memenuhi kriteria bahan baku yang akan digunakan oleh industri bioetanol.

Apakah sudah ada riset khusus penggunaan bioetanol berbahan baku ubi kayu untuk kendaraan? Sejauh mana hasil riset tersebut?

Riset pengolahan bioethanol dari ubi kayu untuk blending bahan bakar kendaraan telah banyak dilakukan di tingkat Lembaga riset dan perguruan tinggi. Saat ini akan dilakukan uji coba hasil riset pada skala lebih besar. Riset yang sedang berjalan untuk industri otomotif adalah bagaimana nantinya kendaraan yang sudah ada sekarang dan sedang digunakan masyarakat dalam kesehariannya tetap dapat beroperasi dengan baik saat menggunakan BBM blending terutama untuk mengantisipasi reaksi bioethanol dengan logam.

Dengan demikian, riset diarahkan ke modifikasi material saluran bahan bakar atau mencari zat aditif anti korosi. Riset optimalisasi angka oktan dalam BBM blending juga banyak dilakukan untuk menemukan tarikan mesin yang optimal namun memiliki emisi gas rumah kaca yang minim.

Riset berkelanjutan juga masih tetap perlu dilakukan untuk meningkatkan alur produksi bioethanol yang lebih bersaing dari sisi harga dan produktivitasnya dibandingkan dengan bensin fosil serta meminimalisir limbah untuk menjadikan industri bioethanol berkonsep ekonomi sirkular hijau (green circular economy)

Sejauh mana kajian nilai sosial ekonominya seperti apa?

Kajian nilai sosial ekonomi direncanakan dilakukan secara simultan oleh lembaga berwenang, akademisi, maupun partisipasi masyarakat sehingga diperoleh hasil analisis yang mampu memberikan berbagai sudut pandang penilaian. Hasil kajian ini akan memperkuat pertimbangan teknis dan non-teknis dalam pengawalan implementasi E-10 hingga E-50 secara berkelanjutan. 

Reporter : Humas Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018