Senin, 18 November 2019


Inovasi Kakao dari Forum Kakao Aceh

17 Okt 2019, 15:57 WIBEditor : Ahmad Soim

Forum kakao Aceh | Sumber Foto:Kontributor



TABLOIDSINARTANI.COM - Forum Kakao Aceh (FKA) bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menggelar kegiatan Duek Pakat Kakao Aceh (DPKA) yang dilaksanakan di Desa Ramung, Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, Rabu (16/10).

Ketua FKA, T. Iskandar yang juga mantan Ka. BPTP Aceh, dalam laporannya menyampaikan apresiasi atas dukungan CSP dan Bappeda Aceh serta Pemkab Gayo Lues yang telah bersedia menjadi tuan rumah, sehingga acara yang diikuti oleh sekirar 200 peserta tersebut dapat terselenggara dengan baik dan berjalan lancar sesuai yang diharapkan.

Tujuan kegiatan ini lanjutnya  untuk menghimpun berbagai gagasan, ide, temuan dari berbagai  inovasi teknologi yang dihasilkan untuk diaplikasikan oleh berbagai kalangan dan seluruh stakeholder sehingga adanya kesepahaman dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh para pelaku kakao khususnya para petani. 

Selain itu tambah Iskandar untuk memberikan wawasan terkait pengelolaan  kakao  dari on farm (GAP), off farm (GHP) dan Agribisnisnya, aplikasi inovasi, management perawatan kebun kakao secara baik sesuai dengan SOP termasuk pengelolaan kebun, dan  memotivasi  pengurus,  pelaku usaha  secara mandiri, agar terciptanya sinergisitas dengan stakeholder dalam pengembangan kakao berkelanjutan.

Lebih lanjut ia juga mengharapkan agar ke depan,  kegiatan tersebut selain disupport pendanaannya oleh Distanbun Aceh juga perlu adanya bantuan khusus dari pemerintah Aceh melalui dinas/instansi terkait.

Kadistanbun Aceh, A Hanan dalam sambutannya,  mengajak FKA untuk selalu bersinergi dengan pihaknya serta dapat menarik minat para generasi dan petani usia muda menjadi petani milenial untuk mengembalikan kejayaan kakao di Aceh.

Menurut Hanan, banyak kebun Kakao di Aceh tidak terawat dengan baik sehingga produksinya rendah hanya sekitar 700 - 800 kg/ ha sementara potensi hasil bisa mencapai 1,5 ton/ha. Selain itu, pengelolaan biji kakao di tingkat petani belum difermentasi dan pengelolaannya juga masih sederhana. Hal ini menyebabkan harga jualnya juga sangat rendah dibandingkan harga jual biji kakao yang sudah difermentasi tersebut.

Hanan menambahkan Provinsi Aceh dapat menghasilkan kakao 35.000 ton setahun, sehingga  kehilangan sekitar Rp 70 miliar yang bisa didapat dari fermentasi biji kakao. Masalahnya kata Hanan adalah pengelolaan biji kakao di tingkat petani masih sangat rendah dan umumnya belum dilakukan fermentasi. "Selisih harga biji kakao yang telah difermentasi dengan non fermentasi berkisar Rp 2.000 - 2.900/kilogram, jika provinsi Aceh menghasilkan kakao 35 ribu ton setahun, berarti ada Rp 70 miliar yang bisa didapat dari fermentasi biji kakao itu," ujarnya..

Acara pembukaan DPKA tersebut diakhiri dengan pembacaan puisi oleh peneliti BPTP Aceh Basri A. Bakar berjudul "Ada Dollar Bergelantungan"  dan ditutup dengan sebait panton “Tajak u laot eungkot takawe, Dimeusu beude teuot meutat tat, Meunyo na maksud tani le hase, Maka jinoe le tapula coklat” yang mendapat applus dari seluruh peserta.

Kegiatan tersebut selain dihadiri Wakil Bupati Gayo Lues H. Said Sani juga diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. Dengan pemateri Puslit Koka Jember Ir Endang Sulistyowati, MP, BPSDM Kementan RI diwakili kepala Politeknik Pembangunan Pertanian Medan Ir Juliana Kansrini, MSi, dan Irwan Ibrahim pengusaha home industri Socooate. Sedangian pada sesi praktek diisi oleh Hasriadi (Praktisi Kakao) tentang Teknik Fermentasi Biji Kakao dan Idris (Praktisi Kakao/ Petani Kabupaten Pidie Jaya) tentang Teknik Pemangkasan kakao. Pada akhir Duek Pakat, diputuskan  untuk  DPK FKA VIII tahun 2020 akan dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018