Wednesday, 21 October 2026


Filosofi Pemupukan

30 Oct 2021, 17:28 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang memberikan pupuk

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menarik mencermari Focus Group Discussion tentang Transformasi Kebijakan Pupuk Indonesia yang digelar Dewan Guru Besar IPB University yang menyajikan diskusi yang sangat mencerahkan. Pemaparan dan pembahasan berkualitas dari para pembicara yang berasal dari pejabat pemerintah, DPR dan akademisi membuat peserta tidak beranjak dari tempat duduknya. Pemikiran baru datang dari para saintis senior yang sangat kritis dengan latar belakang pemikiran yang mendalam.

Prof. Dr. Ambo Ala dari Universitas Hasanuddin seakan mengingatkan satu Filosofi Pemupukan, bahwa pemupukan tidak harus dipandang sebagai upaya "memberi makanan tanaman" yang sifatnya jangka pendek karena setiap musim harus dilakukan, tetapi seharusnya merupakan tindakan yang mempunyai dampak jangka panjang, yaitu menyuburkan tanah agar produktivitas meningkat berkelanjutan.

Apabila diterjemahkan lebih lanjut, tidak hanya jenis dan dosisnya saja yang diperhatikan, tetapi model dan kebijakan terkait pemupukan harus dilihat sebagai upaya jangka panjang yang meningkatkan kesuburan tanah dan memelihara lingkungan berkelanjutan. Kita tahu bahwa gencarnya penggunaan pupuk anorganik yang serta merta meningkatkan produktivitas itu, dalam jangka panjang mempunyai dampak eksternaliti negatip terhadap kesuburan dan kondisi fisik tanah.

Bahwa pupuk sebagai plant nutrition bukan hanya pupuk anorganik, dan subsidi bukan satu-satunya solusi. Pemanfaatan organisme mikro, bahan organik, dan agen hayati lain dapat digunakan sebagai upaya menjaga sumberdaya lahan pertanian berkelanjutan. Kebijakan tentang pupuk memerlukan satu evaluasi yang saintifik, sistematis dan terus menerus. Dan ini harus dilakukan dengan segera dan secara bertahap. Prof. Dr. Bungaran Saragih mengusulkan dibentuknya satu National Center for Fertilizer Studies.

Kajian strategis semacam ini telah menelurkan masukan yang sangat penting dan merupakan respon terhadap pengamatan Presiden Jokowi, tentang dampak subsidi pupuk terhadap peningkatan produksi. Kejelian presiden ini seakan membangunkan para cerdik pandai yang setiap hari bergelut dengan permasalahan pertanian. Sayang diskusi yang sangat baik ini hanya dihadiri oleh 200-an peserta.

Diskusi semacam ini juga merupakan ajang pembelajaran bagi para mahasiswa yang kelak akan menjadi tenaga profesional di bidang pertanian.  FGD ini adalah kegiatan kajian dan pembahasan saintifik yang langsung terkait dengan kebijakan pertanian. Data serial tersedia, kemampuan tidak diragukan dan semua amunisi yang diperlukan untuk analisa ada di perguruan tinggi.

Kita ingin mengembalikan kepedulian skala nasional seperti pada jaman kelahiran Bimas, di mana perguruan tinggi dan mahasiswa bangga melakukan kegiatan di lapangan bersama petani mengenalkan dan mengaplikasikan teknologi baru. Bravo Perguruan Tinggi, Bravo Mahasiswa.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018