Sunday, 26 June 2022


Petani Menanam, Siapa Yang Memanen?  

08 Jan 2022, 19:37 WIBEditor : Yulianto

Petani cabai di Sukabumi diajak untuk menerapkan model closed loop | Sumber Foto:Istimewa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta----Berita melonjaknya harga cabe yang memenuhi media menghangatkan suasana  akhir tahun 2021. Hangat dan sedikit pedas. Harga cabe rawit ini luar biasa, seperti rollercoaster, bisa menukik sampai Rp 20 ribu per kilo dan melambung mencapa ratusan ribu rupiah per kilo. Ini baru cabe.

Masih banyak lagi komoditas lain yang harganya sering jungkir balik, semisal  bawang merah, kedele, telur ayam dan daging ayam. Media pun menuliskan kasus akhir tahun ini sebagai berita kesedihan.

Lupakan dulu kesedihan. Akibat naik-turun harga, apa pun penyebabnya dan betapa pun hebatnya, pasti ada yang menderita kerugian dan ada yang dapat durian runtuh. Siapa mereka? Petani? Pedagang? Konsumen? 

Yang pasti ketika harga cabe jatuh menjelang panen tiba, bahkan sampai di bawah biaya petik, petani menyerah total. Menunda panen adalah sia-sia dan menyimpan atau menunda jual tidak memungkinkan karena tidak ada sarana penyimpanan dan pengolahan. Nah, paling tidak petani membiarkan masyarakat dan tetangganya panen gratis. Tabungan amal untuk kehidupan masa depan.

Kalau harga melonjak? Bisa jadi petani memperoleh kesempatan untuk dapat untung mendadak  sehingga bisa menutup kerugian yang diderita pada musim sebelumnya. Itulah sebabnya mereka masih menanam dan terus menanan, karena secara rata-rata mereka memperoleh keuntungan.

Perjalanan untung rugi itu berakhir dengan angka penghasilan positip. "Untung rugi itu biasa, yang penting secara keseluruhan masih memberikan penghasilan yang lumayan," itu umumnya jawaban petani. Mereka selalu optimis, seperti biasanya.

Tetapi jangan-jangan keuntungan sekelas durian runtuh itu milik pedagang atau industri pengolahan. Mereka yang biasa membeli secara borongan atau tebasan, yang mempunyai sarana penyimpanan, mempunyai jaringan pemasaran dan mengusai informasi pasar. Ketika harga jatuh mereka memborong, dan ketika harga membumbung mereka mengeruk untung. Kita tantang para peneliti untuk membuktikannya.

Perjalanan ekonomi petani memang berbeda dengan pedagang. Petani melakuan proses produksi yang baku, ada masa tanam, memelihara dan panen. Kegiatannya rutin hampir sama dari musim ke musim. Sementara pedagang dituntut kegiatan yang segera, dinamis, penuh tantangan, penuh persaingan dalam memperoleh barang dagangan maupun dalam menjual dan menetapkan harga. Pedagang harus berhitung untung rugi setiap saat.  

Jika petani sehari-hari mengikuti proses produksi yang sudah terpola, pedagang seolah-olah selalu dikejar-keja. Hasilnya memang beda. Sejarah mencatat, orang kaya jaman dulu yang namanya fenomenal dan terkenal, bukanlah petani tetapi pedagang.  Kegiatan perdagangan pada umumnya terintegrasi dengan industri pengolahan. Mereka bergerak lebih cepat, lebih dinamis dan lebih berjiwa bisnis.

Di hampir semua daerah, pedagang pada umumnya lebih maju secara finansial dari petani. Anak muda pun lebih memilih jadi pedagang dari pada petani. Dan itu sudah terbukti mereka berhasil dengan munculnya pengusaha agribisnis muda yang mengelola bisnis moderen. 

Pelajaran kuno yang harus dipegang adalah, agar petani memperoleh manfaat terbesar dari usahanya, mereka harus jadi petani pedagang. Mereka harus menguasai sektor hilir. Itu tidak mungkin kalau mereka lakukan sendiri-sendiri, maka harus bersama-sama dalam satu wadah. Apa pun bentuknya. Tapi mengapa kita selalu tidak berhasil membangunnya, ya?

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018