Kamis, 18 Oktober 2018


Tenang Saja, Lalu Lintas Daging Celeng Ilegal Bakal Ditata

23 Sep 2018, 09:57 WIBEditor : Gesha

Focus Group Discussion (FGD) Solusi Penanganan Permasalahan Lalu Lintas Daging Celeng | Sumber Foto:Tiara

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilegon ---  Nampaknya kini masyarakat Indonesia bisa mulai sedikit merenggangkan rasa khawatirnya terhadap lalu lintas daging celeng atau babi hutan ilegal. Pasalnya, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) segera melakukan penataan lalu lintas daging celeng.

Terus beredarnya secara ilegal daging celeng dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa membuat banyak masyarakat resah. Keresahan semakin menjadi karena para pelaku pengedar daging celeng ilegal kerap mengoplosnya dengan daging sapi atau pun dalam bentuk olahan, bakso salahsatunya.

Bagi umat Muslim jelas ini sangat mengkhawatirkan, pun dengan masyarakat yang memang mengkonsumsi daging tersebut. Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani,  drh. Agus Sunanto menjelaskan daging celeng ilegal tidak terjamin kesehatannya karena tidak melalui pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Daging celeng bukan dilarang lalulintasnya, namun harus ada izin dan harus melalui prosedur.

"Lalu lintas dan daging celeng ini harus dilakukan penataan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan).  Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjennak keswan) dan Barantan akan menginisiasi terkait dengan Permentan tersebut mengenai daging celeng. Walau peraturan lalu lintas produk sudah ada, namun khusus daging celeng belum ada. Daging celeng ini perlu pengaturan khusus," terangnya.

Selain itu, daging celeng bisa dipergunakan sebagai pakan hewan di kebun binatang Ragunan. Setelah nanti Permentan terbit tentunya ditindaklanjuti dengan pedoman operasional baik dari Barantan terkait dengan operasional karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran.

Dinas terkait di tingkat provinsi maupun kabupaten di mana asal daging celeng tersebut juga harus membuat pedoman terkait pengaturan penangkapan dan perburuan daging celeng, juga pemrosesan di tempat pemotongan hewan dan kemasan dan lain sebagainya.

"Kami juga akan mengkomunikasikan dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan (KLH) diskusi selanjutnya yang dengan KLH karena daging bagaimana pun juga ini yang termasuk ekosistem yang harus dijaga. Tak lupa juga nanti diskusi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) gar semua diskusinya lengkap dan bisa implementasi," jelasnya.

Sebagai salah satu provinsi produsen daging celeng, Bengkulu dijadikan pilot project penataan lalu lintas daging celeng. Hal tersebut dilakukan guna menekan lalu lintas daging tersebut secara ilegal.

Pada konferensi pers acara Focus Group Discussion (FGD) Solusi Penanganan Permasalahan Lalu Lintas Daging Celeng, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu, drh. Majesti menerangkan Provinsi Bengkulu mengirimkan daging celeng secara resmi ke Kebun Binatang Ragunan di Jakarta dan juga ke Sumatera Utara (Sumut). Ia mengaku sebelum ini resmi atau belum ditata seperti sekarang, memang tingkat kebocorannya (ilegal) cukup tinggi. 

"Alhamdulillah pada saat ini kita sudah menata, semampu kita yang bisa yang kita lakukan. Dan hal ini juga saya berterima kasih kepada teman-teman dari karantina yang telah membantu di dalam memecahkan beberapa persoalan di lapangan terutama yang mungkin tidak bisa kita tangani secara langsung," katanya.

Majesti menyampaikan dalam melaksanakan pengiriman daging celeng, Provinsi Bengkulu mempunyai laboratorium kesehatan masyarakat veteriner dimana laboratorium ini yang dapat menetapkan daging celeng ini layak atau tidak untuk dikonsumsi terutama untuk konsumsi manusia. Bahkan untuk yang ke Ragunan itu juga harus melewati pemeriksaan. Karena dikhawatirkan terjadi cemaran dari mikroba yang bisa merusak kualitas daging itu sendiri.

"Hal-hal lain yang mungkin perlu kami sampaikan disini bahwa kerjasama dengan Kabupaten ini sangat diperlukan. Jadi teman-teman di kabupaten ini yang secara langsung berhadapan dengan produsennya atau para pengepul daging celeng ini. Ini yang kita lakukan terus menerus dan kita juga meminta teman-teman di kabupaten ini merangkul para produsen itu agar kita mendapatkan data jumlah yang dikirim dengan yang tiba ditujuan," paparnya.

Majesti sepakat bahwa lalu lintas daging celeng memang harus ditata karena hewan ini hidup liar, bukan budidaya. Selain itu, yang mengkonsumsi juga masyarakat tertentu. Maksudnya, begitu diedarkan tidak semua masyarakat pemakan daging itu. Dewasa ini, banyak dilakukan oplosan dicampur untuk diolah menjadi bakso, dendeng dan lain sebagainya di Pulau Jawa.

Pada FGD yang dilaksakan Banten, Jumat (21/9) disepakati akan dilakukan penataan lalu lintas daging celeng agar bisa dimanfaatkan dengan tetap menjaga ekosistemnya, kemudian masyarakat yang mengkonsumsi juga sesuai aturan. Juga masyarakat yang tidak mengkonsumsi pun merasa aman. Yang memang kebutuhan ke kebun binatang kita alirkan ke kebun binatang. 

"Si pengirim yang dari Bengkulu ini memastikan bahwa itu hanya ke Ragunan dan itu ada perjanjian mereka menyadari dari dengan pihak Ragunannya dengan pihak ketiganya itu mereka perlihatkan pada kita. Kemudian kita pastikan ini apa dikirimnya sekian sampai juga sekian. Mereka kebetulan Alhamdulillah sudah menggunakan mobil-mobil dengan pendingin jadi itu salah satu juga yang kita punya keyakinan bahwa daging ini walaupun nantinya untuk Ragunan tapi mereka apa namanya secara fisik ini sudah bisa memelihara kualitasnya," jelasnya panjang lebar.

Pada 2017 Bengkulu mengirimkan daging celeng sebanyak 73 ton. Sedangkan untuk 2018 hingga Agustus tercatat 47 ton daging celeng. Setiap kali pengiriman harus ada rekomendasi dari dinas peternakan dan kesehatan hewan Provinsi Bengkulu. Rekomendasi ini yang dilanjutkan ke dinas perizinan. Kemudian sama-sama dilakukan pengecekan ke lokasi.

Kepala Balai Karantina Kelas II Cilegon, drh Raden Nurcahyo Nugroho berharap menerangkan selama ini lalu lintas banyak ilegal karena memang kebijakan aturan.

Sekarang jika ingin melakukan distributor daging celeng harus mengantongi rekomendasi dari dinas di kota tujuan dan kota asal. Rekomendasi dinas diperlukan itu terkait dengan ketelusuran nya asalnya daging celeng tersebut. Raden menyampaikan sepanjang 2012-2018 hasil tangkapan daging celeng sebanyak 40 ton.

Reporter : Tiara

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018