Kamis, 18 Oktober 2018


Mengolah Jeruk, Berikan Penghasilan Tambahan Untuk Petani

02 Okt 2018, 16:22 WIBEditor : Gesha

Pegawai Balitjestro mengkuti pelatihan untuk pengolahan jeruk yang dibimbing BB Pascapanen | Sumber Foto:HUMAS BB PASCAPANEN

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Jeruk biasanya kita kenal sebagai buah meja atau buah yang langsung dikonsumsi. Apalagi jeruk sangat digemari karena rasanya yang manis dan banyak mengandung vitamin C. Sayangnya, harga jeruk cenderung turun saat panen raya. Padahal dengan kreativitas, jeruk bisa diolah untuk memberikan penghasilan tambahan bagi petani.

Seperti yang diungkapkan Peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Ermi Sukasih.

Menurutnya, permasalahan pemasaran jeruk setidaknya ada dua yaitu masih banyak jeruk yang tidak memiliki nilai sewaktu dijual karena ukuran yang kecil yang sering disebut dengan offgrade.

Didaerah sentra produksi jeruk, ketika musim panen raya, harga jeruk pun terus turun sehingga ada sebagian petani yang tidak mau panen jeruk.

Padahal jeruk tersebut bisa diolah menjadi beragam camilan maupun minuman seperti jus jeruk, marmalade, dodol dan lain sebagainya. 

"Sekarang petani tidak perlu lagi merasakan hal tersebut, karena jeruk dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman sehingga dapat meningkatkan nilai tambah, memudahkan distribusi dan menciptakan lapangan kerja," ungkapnya.

Sebagai lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang), BB Pascapanen Pertanian telah memiliki solusi untuk meningkatkan nilai tambah pada jeruk.

Karenanya, peneliti BB Pascapanen bekerjasama dengan Balai Penelitian Jeruk telah melakukan Bimbingan Teknis Pengolahan Pangan Berbasis Jeruk kepada pegawai Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Batu Malang.

"Ini bagian dari sinergi dengan Balitjestro sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) khususnya jeruk. Sekaligus mempersiapkan Taman Sains Teknologi Pertanian (TSTP) Jeruk yang akan dikembangkan Balitjestro. Nantinya bisa ada tenaga terampil pembuatan dan pembuatan olahan jeruk di TSTP," bebernya.

Adapun teknologi yang telah dilatihkan berbasis jeruk lemon dan siam, antara lain, jus jeruk, marmalade, dodol, permen, keripik jeruk dan es krim.

"Sebagian besar jeruk di Indonesia adalah jeruk siam dimana jeruk ini terkenal dengan rasa manisnya sehingga produk yang dihasilkan juga lebih enak," tuturnya.

Namun, Ermi mengingatkan jeruk juga mengandung naringin dan limonin yang akan menimbulkan rasa pahit pada jeruk. "Tapi sepanjang rasa pahit dapat ditolerir oleh lidah maka produk tersebut dapat diterima," pungkas Ermi.

Rangkaian pelatihan tersebut di lanjutkan dengan sosialisasi kepada petani jeruk se-Kabupaten Malang yang dilaksanakan oleh Balitjestro dengan Kementerian Ristek Dikti dengan program Penguatan Lembaga PUI Melalui Diseminasi Hasil Inovasi Jeruk dan Sinergi dalam Mendukung Peningkatan Daya Saing Produk dan Kesejahteraan Petani.

Bimtek dibuka oleh anggota Komisi VII DPR, Totok Daryanto. Bahkan dirinya akan memfasilitasi dengan mengadakan pelatihan pelatihan yang dibutuhkan dengan teknologi yang dihasilkan Litbang, jika ada petani yang berkeinginan untuk lebih maju.

Dalam sosialisasi tersebut, hasil olahan selama bimtek juga dibagikan dan menunjukan respon yang sangat antusias karena citarasa dari marmalade dan saribuah jeruk siam sangat enak dan menyegarkan.

"Sepertinya akan banyak dari anggota KWT yang antusias untuk meminta pelatihan di tempat mereka," tutup Ermi. (bbpascapanen)

Reporter : Kontributor

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018