Jumat, 06 Desember 2019


Inilah Kriteria BPP yang Menjadi Kostra Tani

08 Nov 2019, 18:05 WIBEditor : Gesha

Dalam mengimplementasikan Kostra Tani, BPP diharapkan mampu berbenah dan meningkatkan performanya | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menjadi posko Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostra Tani) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) tentunya memiliki kriteria khusus yang harus bisa dipenuhi. Apa saja kriteria tersebut?.

Tahun 2019 ini (hingga 6 bulan mendatang), pemerintah menargetkan penumbuhan 534 komando strategis pembangunan pertanian yang terdiri dari 400 Kostratani, 100 Kostrada, dan 34 Kostrawil. Sedangkan jumlah BPP yang menjadi target percontohan sebanyak 100 BPP di 13 Provinsi sentra pangan dan pertanian lainnya.

Ke-13 provinsi itu yakni  Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP, Leli Nuryati mengatakan, BPP tersebut sebagian besar terpusat di Pulau Jawa. Untuk itu Pusluhtan melakukan seleksi BPP di Jawa dengan melihat luasan tanam yang dibina. Pusluhtan melakukan verifikasi kondisi BPP yang akan menjadi pilot Project Konstra Tani, mulai dari fisik, dan sarana prasarana.

Berdasarkan data yang diterima oleh tabloidsinartani.com, Pusluhtan memberikan beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk BPP menjadi Posko Kostra Tani. Mulai dari lokasi BPP yang strategis, wilayah binaan BPP merupakan daerah sentra padi yang luas, dan berada pada satu kawasan sentra pertanian khususnya budidaya padi.

"Dilihat dari sisi sumberdaya manusia (SDM), BPP tersebut haruslah mencukupi untuk petugas IT, Admin, Calon Komandan Kostra Tani dan Penyuluh itu sendiri. Setiap BPP, idealnya memang terdiri dari 8 orang penyuluh. Calon Komandan Kostra Tani dan Wakil Penyuluh tersebut siap dilatih untuk operasional Kostra Tani," ungkap Kepala Bidang Penyelenggaraan Penyuluhan, I Wayan Ediana kepada tabloidsinartani.com.

Namun paling penting adalah kesiapan sarana dan prasarana di BPP tersebut. Mulai dari jaringan listik, telepon dan internet. "Sebab penyampaian data dan informasi terhubung dengan Agriculture War Room (AWR) dan Presiden. Adanya Kostra Tani ini juga menjadi bentuk penguatan data dan informasi di BPP," tutur I Wayan.

Penyuluh Milenial

Penyuluh millenial pun diharapkan ada di dalam BPP yang menjadi Kostra Tani. Sebab regenerasi petani millenial juga menjadi tujuan dari pembangunan pertanian di masa depan. Karakter penyuluh milenial yang
yang inovatif, berinteraksi dengan media sosial, fleksible, punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan peka terhadap perubahan harus melekat pada Kostra Tani.

Karenanya, penyuluh dalam Kostra Tani harus mampu menjadi insan yang handal, tekun, dan profesional. Paling penting mereka juga harus melek teknologi agar bisa memberikan ilmunya kepada petani. Penyuluh milenial juga harus selalu meng-update teknologi informasi serta mengusai dan mampu mengoperasionalkan seluruh perangkat system yang dipersiapkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

"Penyuluh milenial sekarang memiliki perbedaan dengan penyuluh generasi sebelumnya. Dalam melakukan penyuluhan, selain face to face, bisa teleconference, melalui media social, aplikasi messenger sehingga tidak memiliki ruang batas waktu antara petani dan penyuluh," ungkap salah satu penyuluh milenial dari Dinas Pertanian Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Evrina Budiastut.

Tanggung jawab mendukung pembangunan pertanian juga tidak hanya di wilayah binaan saja, tetapi meluas hingga ke level masyarakat di luar wilayah binaan melalui blog dan komunikasi digital lainnya."Selain bukti fisik untuk penilaian kinerja, jejak digital juga menjadi salah satu bukti kinerja dari penyuluh milenial. Bahkan penyuluh juga dituntut untuk bisa menjadi seorang enterpreneur," lanjut Evrina.

 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018