Monday, 30 November 2020


Mengembangkan Model Bisnis Pertanian dalam Bentuk Korporasi Petani

27 Nov 2019, 16:00 WIBEditor : GESHA

Korporasi petani diharapkan merubah tujuan petani dalam berbudidaya menjadi model bisnis yang menguntungkan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Pengelolaan pertanian di masa depan sudah seharusnya berubah. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan tetapi juga mampu bertransformasi menjadi suatu ekosistem bisnis (bussiness ecosystem). Karenanya, petani diharapkan mampu bertransformasi menjadi pebisnis dan berjiwa wirausaha (enterpreneur).

"Sebagaimana diamanatkan pada Permentan No 18/2018 bahwa korporasi merupakan kelembagaan ekonomi petani yang berbentuk koperasi atau badan hukum lain yang sebagian besar kepemilikan modalnya dimiliki petani," beber Kepala Biro Perencanaan, Abdul Basit kepada tabloidsinartani.com.

Sehingga, korporasi petani dimaknai sebagai upaya untuk mengembangkan model bisnis yang mampu meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya produktif, memberikan nilai tambah bagi produk, memperkuat kelembagaan petani, meningkatnya kapasitas petani dan posisi tawarnya hingga bermuara kepada meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani.

"Adanya korporasi petani ini akan menumbuhkembangkan usaha dari hulu ke hilir, berkelanjutan dan terbuka untuk bisa bersinergi dengan pihak lain. Termasuk berdaulatnya petani dari hulu ke hilir," tuturnya.

Dalam menumbuhkan korporasi petani, alurnya bisa melalui Poktan/Gapoktan yang sudah ada kemudian berkembang menjadi KUB/Lembaga Ekonomi Petani/Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis yang kemudian bertumbuh menjadi perusahaan perseroan yang dimiliki petani. "Bisa juga Poktan/Gapoktan tersebut bertumbuh menjadi koperasi produsen primer dan bertumbuh menjadi koperasi produsen sekunder atau Perusahaan Perseroan," jelas Abdul Basit.

Model Bisnis

Dalam membentuk Korporasi Petani, setidaknya ada 3 jenis model bisnis yang bisa ditempuh oleh petani. Mulai dari Korporasi Petani berbasis koperasi, Korporasi Petani berbasis Perseroan Terbatas, atau kombinasi keduanya. "Model berbasis koperasi misalnya dengan membentuk koperasi primer yang terintegrasi secara vertikal dengan koperasi sekunder melalui mekanisme pembagian usaha," bebernya.

Sedangkan berbasis PT, Koperasi primer mendirikan PT yang berperan sebagai korporasi petani untuk menjembatani keterkaitan rantai produksi pertanian. Kemudian model bisnis kombinasi, dilakukan secara terintegrasi antara koperasi primer, koperasi sekunder dan PT yang menjembatani keterkaitan rantai produksi pertanian.

"Korporasi petani dibangun dengan pendekatan venture builder yaitu membangun beragam anak usaha dibawah koperasi sekunder. Sehingga ada tiga pihak yang berkaitan yaitu worker-owner (petani), investor owner dan builder owner (seorang usahawan yang sudah berpengalaman, memiliki dan mengelola usaha tertentu)," tutur Abdul Basit.

Status worker owner adalah petani dan atau pekerja korporasi bahkan mereka juga bisa berperan sebagai investor pada anak usaha lain. Sedangkan skema investasinya berupa crowd investment yaitu skema penyertaan modal korporasi dengan modal kecil sehingga mampu diakses petani.

Pihak yang terlibat pun mendapatkan bagi hasil dari usaha sesuai kesepakatan. "Karenanya, kesuksesan korporasi petani bergantung pada kemampuan anggotanya bekerjasama dengan berbagai pihak," pesannya.

 

 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018