Saturday, 06 June 2020


Kisah Ida Setyoningsih dan Kangkung Organik

30 Mar 2020, 13:30 WIBEditor : GESHA

Ida Setyoningsih (kerudung hitam) bersama rekan penyuluh di BPP Kepanjen | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Sebagai seorang penyuluh, kemampuan komunikasi dan inovasi harus menjadi modal utama. Seperti yang dilakukan oleh penyuluh dari  Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kepanjen, Kab. Malang, Ida Setyoningsih yang sukses mengajak Poktan Lestari Utama untuk berbudidaya kangkung organik menggunakan teknologi hidroponik.

Desa Sengguruh merupakan salah satu desa di Kecamatan Kepanjen yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai wirausahawan. Diantaranya ada industri sepatu merk Mr. Phyton, roti TOP, kripik tempe Valco, dan beberapa pengrajin seperti pandai besi, dan pengrajin topeng. Sudah menjadi pemandangan umum di Desa Sengguruh, toko-toko berjejer di depan rumah warga.

Lahan pertanian di desa inipun tidak terlalu luas, sehingga membutuhkan inovasi baru untuk bisa mengajak masyarakat menekuni pertanian. Para penyuluh pertanian yang ada di tingkat kecamatan Kepanjen pun dituntut untuk lebih proaktif dalam mendampingi petani ataupun masyarakat agar terus memiliki semangat dalam melaksanakan kegiatan mengolah lahan secara optimal dan maksimal peningkatan produksi, produktivitas dan kesejahteraan petani.

Salah satu penyuluh yang mendapatkan wilayah binaan Desa Sengguruh adalah Ida Setyoningsih. Dalam kegiatan pendampingannya, Ida mengajak petani binaannya yang tergabung di kelompoktani Lestari Utama untuk menggembangkan salah satu inovasi berupa penanaman secara organik melalui metoda Hidroponik pada tanaman kangkung.

Mengapa kangkung? Ida menuturkan bahwa kangkung merupakan sayuran yang populer sebab dapat diolah dengan berbagai jenis menu masakan yang lezat. "Cara mendapatkannya mudah dan hargapun relatif murah, tak heran kalau sayuran ini banyak diminati para ibu rumah tangga untuk dijadikan sayuran sehari-hari," tuturnya.

Lalu, mengapa harus hidroponik? Sebab kangkung hidroponik mempunyai kualitas hasil yang cenderung lebih baik dari pada tanaman yang ditanam secara konvensional atau menggunakan media tanah. Hal tersebut karena dipengaruhi dari perlakuan yang diberikan, mulai dari pembibitan, perawatan hingga masa panen.

Apalagi sekarang ini masyarakat cenderung memilih tanaman organik untuk asupan makanannya guna menerapkan pola hidup sehat. "Selain karena bebas zat-zat kimia berbahaya sehingga lebih aman dikonsumsi, sejumlah penelitan menyebutkan bahwa nutrisi dalam sayuran organik lebih unggul dibandingkan dengan sayuran konvensional.Dari segi rasa, sayuran organik memiliki rasa yang lebih manis dan lebih enak dibandingkan sayuran konvensional," tuturnya.

Sayangnya, karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam sistem pertaniannya, sayuran organik cenderung lebih cepat busuk dan tekadang penampilannya tidak sebagus sayuran konvensional yang lebih banyak beredar.Harga sayuran organik pun cenderung lebih mahal dan lebih sulit kita dapatkan. Hal ini karena tidak banyak petani memilih sistem pertanian organik.

Juga karena waktu panen dan pengolahan lahan yang membutuhkan waktu relative lebih lama karena tidak menggunakan bantuan hormon untuk mempercepat pertumbuhan tanaman atau pupuk sintetis.Agar manfaat adanya nutrisi dalam sayuran organik dapat kita dapatkan dengan maksimal, harus diimbangi juga dengan cara pengolahan sayur yang benar. Contohnya, dengan cara dimasak dalam waktu yang tidak terlalu lama, melakukan pencucian sayur dengan bersih, dan lebih baik segara dikonsumsi saat sayuran masih segar.

Oleh Ida, Poktan Lestari Utama diajak membuat hidroponik dan merawat tanaman kangkung organik tersebut. "Kangkung organik dengan cara hidroponik ini sangat cepat dipanen. Dari kita tanam pakai benih, usia 27 hari sudah bisa dipanen bertahap setiap 5 hari sekali," bebernya. 

Ikan dan Sayur

Tak hanya kangkung organik di rak-rak hidroponik umumnya, Ida bersama penyuluh lainnya, Rini Ilham membuat budidaya kangkung bersama ikan menggunakan ember. Inovasi ini tentu saja menguntungkan untuk masyarakat yang tidak memiliki pekarangan luas. 

Inovasi yang diberi nama Budikdamber (Budidaya Ikan dan Sayur dalam Ember) ini merupakan sistem perpaduan antara sistem polikultur ikan dan sayur yang sangat sederhana (Aquaponik) sekaligus menjawab keterbatasan lahan yang sekarang di hadapi oleh masyarakat perkotaan dan juga merupakan solusi sederhana dalam menyediakan konsumsi sederhana dalam suatu rumah tangga dan pola pengembangan budaya hemat dalam masyarakat. 

Dalam budidaya ikan yang dapat dibudidayakan dan mudah dikembangkan dalam ember adalah lele yang dapat hidup dalam keadaan minim oksigen dan tahan kualitas air yang buruk dan jarang diganti. Melalui kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan, ibu-ibu kelompok tani ini diajak untuk dapat memberdayakan teknologi sederhana ini dan dapat mengembangkan disekitar rumah masing-masing.

Kelebihan budidaya ini selain kita memanen ikan, bisa juga menanam kangkung didalamnya yang nantinya kemudian, kita dapat memanennya juga. Teknik budikdamber ini menguntungkan sebab dengan modal yang sedikit, dapat memproduksi hasil yang lumayan. Dengan ember yang berukuran 100 liter air, bisa menebar benih sekitar 80-100 ikan lele.

Selain mudah dilakukan, budikdamber menggunakan media yang kecil, portabel, hemat air dan tidak membutuhkan listrik. Untuk pemeliharaan, letakkan ember di tempat terkena matahari maksimal. Berikan pakan kepada ikan sesuai ukuran sekenyangnya bisa 2-3 kali dengan waktu tetap. 

Tanaman kangkung akan terlihat tumbuh di hari ke-3. Jangan lupa perhatikan bila ada kutu di daun kangkung, segera buang daun atau batang karena kangkung akan kriting dan mati. Penampakan air akan berubah menjadi warna hijau. Ganti air biasanya 10-14 hari sekali. Untuk penyedotan 5-8 liter, bisa lebih atau keseluruhan bila perlu, ganti dengan air bersih. Jika kangkung membesar maka dibutuhkan air lebih banyak, tambahkan air setinggi leher ember.

Waktu panen tanaman kangkung pertama adalah 14-21 hari sejak tanam. Saat panen sisakan kembali bagian bawah atau tunas kangkung untuk pertumbuhan kembali. Panen ke-2 dan selanjutnya berjarak 10-14 hari sekali dan berlangsung sampai 4 bulan. Untuk waktu panen ikan lele dapat dilakukan dalam 2 bulan, bila benih bagus dan pakan baik.

Reporter : Ferly P Tambunan/Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018