Friday, 05 June 2020


Belajar di Rumah, Mahasiswa ini Produktif Dampingi Petani Jamur Tiram

22 May 2020, 05:19 WIBEditor : Gesha

Budidaya jamur tiram | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi -- Selama masa pandemi COVID 19, sudah 3 bulan lamanya mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor melakukan kegiatan belajar di rumah. Namun, sebagian besar dari mereka juga melakukan kegiatan produktif lainnya lho, misalnya dengan mendampingi petani jamur tiram.

Seperti yang dilakukan petani milenial dari Jurusan Pertanian Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Bogor, Iyang Jaelani yang menjalani kegiatan belajar di rumahnya, Sukabumi.

Hal tersebut dilakukan Iyang, berdasarkan petunjuk teknis pelaksanaan perkuliahan dari rumah yang di rancang oleh Polbangtan Bogor, di masa darurat Covid-19 ini mahasiswa diharuskan melakukan pendampingan kepada petani, kelompok tani atau pelaku usaha di bidang pertanian sebagai bentuk kegiatan pembelajaran. Dan sejalan dengan kurikulum Polbangtan Bogor yang menyelenggarakan pembelajaran 30 persen teori dan 70 persen praktik, kini mahasiswa memiliki lebih banyak waktu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dari proses perkuliahan.

Menurut Iyang, kegiatan pendampingan petani merupakan suatu sarana untuk mengimplementasikan kegiatan pembelajaran yang telah dilalui, sehingga ilmu yang telah didapatkan bisa bermanfaat untuk semua orang.

“Selain itu, saya mampu mengenal potensi wilayah sehingga kedepan bisa memperbaiki tatanan ekonomi masyarakat, terlebih saya hidup di pedesaan yang secara umum bermata pencaharian sebagai petani,” jelasnya.

 

Iyang melakukan pendampingan di PT. Mitra Selaras Cipta Pangan di Kampung Cipeujeuh Desa Sukajaya Kabupaten Sukabumi. PT. Mitra Selaras Cipta Pangan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis jamur tiram yang berdiri sejak tahun 2017. Dididrikan oleh Surya Lesmana yang merupakan ketua Asosiasi Petani Jamur Tiram Sukabumi.

“Dalam kondisi pandemi Covid-19 ini sektor pangan tidak boleh berhenti harus tetap berproduksi seperti biasanya. Masalah yang terjadi saat ini bagi kami menciptakan peluang bisnis khususnya pada komoditas jamur tiram,” tutur Surya Lesmana.

Dampak pandemi ini, menurut Surya  berpengaruh  terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat terlebih terhadap daya beli masyarakat yang kian hari semakin berkurang, namun tidak dengan jamur tiram.

Menurutnya komoditas jamur tiram pada masa pandemi COVID 19, permintaannya semakin meningkat terlebih saat petani lain mengurangi produksinya justru dirinya tetap berproduksi seperti biasanya.  “Setiap hari saya memanen jamur sebanyak 2.100 baglog dengan berat kurang lebih sampai 500 kg yang dipasarkan ke daerah Bogor dan Jakarta,” ungkapnya.

Bagi dirinya masalah itu bisa menciptakan peluang, dan pasti ada hikmah dibalik semuanya. "Bagi seorang pengusaha, keputusan yang diambil menentukan kondisi perusahaan kedepannya,” imbuhnya. Terbukti keputusan yang diambil oleh Surya terhadap produksi jamurnya kini mampu memenuhi permintaan jamur tiram selama wabah COVID-19.

Apalagi, pembudidayaan jamur tiram ini lebih ramah lingkungan. Sebab limbah dari bekas media tanam jamur mampu dimanfaatkan untuk budidaya cacing, sisa ampasnya bisa dijadikan sebagai pupuk dan bahan baku pembangkit listrik tenaga pelet kayu (wood pellet) sehingga sangat potensial untuk dikembangkan.

“Bagi saya kebersihan lingkungan itu nomer satu, karena itu perusahaan saya memiliki motto waste to zero waste karena terbukti semua limbahnya mampu dimanfaatkan kembali,” pungkasnya.

Selama pendampingan, Iyang dibimbing oleh Penyuluh senior dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Siti Nurhanifah, wanita yang akrab dipanggil Ifah inilah  yang mengantarkan Ia ke PT. Mitra Selaras Cipta Pangan.

Sebagai penyuluh, Ifah mengatakan bahwa komoditas jamur tiram merupakan salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan oleh BPP Sukabumi. Selain itu, kedepan kita akan mengembangkan komoditas jamur ini menjadi lebih komersil yang bekerjasama dengan KWT binaannya.

"Rencananya kami akan  mengolah jamur tiram menjadi aneka makanan, salah satunya adalah lapis jamur khas Sukabumi sehingga mampu memperlebar pemasaran jamur tiram dan meningkatkan nilai ekonominya,” ucapnya.

Dari pendampingan ini Iyang banyak belajar terkait agribinis jamur tiram. Kedepan dirinya ingin menjadi pengusaha di bidang pertanian khususnya komoditas jamur tiram.

Menurutnya komoditas jamur tiram memiliki prospek yang luar biasa selain pasarnya luas juga pengembangan produknya sangat beranekaragam. “Selain itu agribisnis jamur tiram merupakan agribisnis berkelanjutan dan ramah lingkungan, terbukti bahwa semua limbahnya mampu di daur ulang dan di manfaatkan kembali,” imbuhnya. 

Kedepan pengembangan agribisnis harus terus dikembangkan, selain sebagai promotor ekonomi masyarakat juga sebagai penekan kondisi lingkungan agar tetap asri dan segar.

 

Reporter : Arif Prastiyanto
Sumber : Polbangtan Bogor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018