Friday, 10 July 2020


Petani Senang Duo Srikandi Penyuluh Bawa Cultivator

26 Jun 2020, 15:29 WIBEditor : Gesha

Petani mencoba cultivator | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Berbagai upaya dilakukan penyuluh dan petani untuk mewujudkan pertanian tangguh dan maju. Kedekatan keduanya adalah mutlak, kerjasama keduanya adalah keharusan dan inovasi bisa lahir dari interaksi intens kedua belah pihak. Terlebih, di hari-hari yang menentukan seperti sekarang ini, pandemi covid-19 tetap menjadi ancaman sangat serius. 

Meski sedang diberlakukan work from office (WFO) di lingkungan dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan perkebunan Kabupaten Malang, namun di Jumat pagi itu, duo penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pagelaran terlihat ‘asyik’ di lahan milik petani Adi Sucipto.

Kedua penyuluh perempuan itu terkadang memang jalan bareng dalam melakukan pendampingan di lahan petani. Sesuai rencana yang sudah diagendakan, keduanya mendampingi kegiatan olah tanah lahan jagung musim tanam kedua di kelompok tani Mekarsari II Desa Kademangan Kabupaten Malang.

“Kami sangat senang didampingi oleh ibu-ibu penyuluh. Ini silaturahim dan ngobrol. Kami olah lahan dengan menggunakan alat olah tanah dan hasilnya lebih cepat dibanding dicangkul," ungkap Adi Sucipto.

Dirinya mengakui hasil panen dengan alsintan lebih bagus dengan alat olah tanah ini. Dengan alat olah tanah ini, proses tanam ke musim tanam berikutnya lebih cepat dan produksinya lebih tinggi. "Panen terakhir di lahan ini menghasilkan 10,5 ton per hektar dan meningkat dari musim tanam sebelumnya yaitu 10, 2 ton per hektar," terangnya.

Winarni, sebagai penyuluh wilbin di Desa kademangan menyampaikan, penggunaan cultivator menjadikan penggunaan tenaga kerja lebih sedikit, baik saat olah tanah ataupun ketika tanam jagung. Jadi tidak diperlukan lagi tenaga membuat lubang tanam, karena benih bisa langsung diletakkan di larikan/ barisan hasil cultivator. "Jadi benar bahwa cultivator menjadikan biaya lebih hemat dan waktu olah tanah lebih singkat," tambahnya.

Sementara rekannya Sri Wahyuni menambahkan alat cuktivator ini cukup mudah digunakan. "Tadi saya mencoba cukup ringan, lahan masih cukup basah jadi membantu proses olah tanah dengan menggunakan cultivator ini. Dari pengalaman yang dilakukan petani, pada lahan hamparan bisa diselesaikan dalam waktu 10 jam olah tanahnya oleh cultivator dengan 2 tenaga yang mengoperasikan bergantian," tutuenya.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pagelaran Dwi Sumular, SP menyampaikan bahwa mekanisasi alat mesin pertanian sangat mendesak dilakukan. "Cultivator diharapkan bisa menjadi solusi disaat pandemi covid 19 dan disaat percepatan tanam dibutuhkan disemua komoditas. Inovasi aneka alat mesin masih terus perlu dilanjutkan. Kita di BPP terus menginventarisir kebutuhan alsintan di seluruh kelompok tani. Kita berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung ketersediaan alsintan tersebut," jelasnya.

Mekanisasi pertanian menjadi hal penting, disaat semua pihak berpacu untuk memperoleh produksi tinggi dari setiap komoditas yang ditanam. Kelompok tani dan Balai Penyuluhan Pertanian sudah seharusnya menjadi garda terdepan dalam sinergi bersama dalam upaya peningkatan produksi dan produktifitas semua komoditas pangan baik tanaman hortikultura, perkebunan dan juga produk peternakan.

 

Reporter : Kiswanto
Sumber : Penyuluh di Kabupaten Malang
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018