Monday, 28 September 2020


Penting, Peran Jurnalis Gaet Minat Milenial Terjun ke Pertanian

16 Sep 2020, 09:29 WIBEditor : Yulianto

Peran jurnalistik dalam pembangunan pertanian, salah satunya menarik generasi muda terjun ke dunia pertanian | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Pertanian menjadi sektor yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi. Karena itu, terjun ke dunia usaha pertanian bukanlah hal yang tabu bagi generasi milenial.

Bahkan kini banyak milenial yang sukses menekuni usaha di sektor yang selama ini dikesankan kotor dan bau lumpur. Sebut saja, Sandi Octa Susila, milenial dari Cianjur yang sukses membangun usaha dengan bendera Mitra Tani Parahyangan. Alumni IPB tersebut mampu mengantongi pendapat hingga Rp 500 juta/bulan.

Ada juga Aang Permana yang berhasil dengan ikan peteknya. Memanfaatkan ikan yang selama ini dianggap ‘hama’ oleh pembudiaya ikan di Waduk Ciarat Sukabumi, Aang mengolahnya menjadi ikan crispy. Banyak lagi pelaku usaha milenial yang tak malu menekuni usaha di bidang pertanian.

Sayangnya masih banyak generasi muda yang belum milirik sektor yang justru mampu bertahan saat perekenomian negara sulit. Karena itu peran jurnalistik pertanian menggaet minat milenial terjun ke sektor pertanian menjadi sangat penting.

Ketua Program Studi Agroteknologi, Fakultas Bioindustri, Universitas Trilogi, Warid melihat jurnalistik sangat berpengaruh dalam pembangunan pertanian. Sebagai media pemberi informasi, peran jurnalistik dapat mempengaruhi tidak hanya, petani yang membaca informasi tersebut, tetapi juga mampu membentuk tren pasar.

“Dengan pemberitaan yang intens terhadap suatu komoditas membuat pandangan orang menjadi terarah. Akhirnya komoditas yang awalnya tidak dikenal bisa menjadi momok dan terbentuk pasarnya,” katanya saat Webinar Peran Jurnalistik dalam Pembangunan Pertanian yang diselenggarakan Program Studi Agroteknologi, Fakultas Bioindustri, Universitas Trilogi di Jakarta, Selasa (15/9).

Selain itu menurutnya, jurnalistik juga mampu mendongkrak perkembangan teknologi pertanian. Petani yang awalnya menggunakan teknologi sederhana dan kurang efisien dapat beralih ke teknologi baru dengan adanya pemberitaan tentang teknologi. Dan masih banyak lagi peran jurnalistik dalam pembangunan pertanian,” katanya.

Karena itu Warid berharap dengan kegiatan tersebut pihaknya ingin mengenalkan kepada mahasiswa dan lulusan ilmu pertanian tidak harus bekerja menjadi petani langsung. Namun bisa juga berkiprah pada bidang jurnalisme untuk menyampaikan  perkembangan ilmu, teknologi, dan trend dunia pertanian, baik kepada petani langsung, masyarakat secara umum, maupun pemerintah.

Namun demikian, Warid menegaskan, pembangunan pertanian Indonesia saat ini kuncinya ada pada generasi milenial, selain tentu dukungan dari kebijakan pemerintah. Sebab, generasi muda memiliki energi yang besar dan daya kreativitas tinggi, sehingga diharapkan teknologi dan ide-ide kreatif dan inovatif akan bermunculan.

Khususnya, untuk meningkatkan produktivitas lahan, efisiensi penggunaan input pertanian, peningkatan nilai tambah baik pada proses maupun hasil pertanian dan pemasaran hasil pertanian yang kreatif dan menglobal.

Petani milenial yang dimaksud adalah generasi muda yang tentu memiliki kemauan untuk meningkatkan pengetahuan pada ilmu dan teknologi pertanian. Baik pada sisi hulu sampai hilir, serta ilmu pemasaran. “Jadi tidak hanya sekedar muda, kemudian cukup. Tidak. Tetapi anak muda ini harus mau belajar hal baru, open minded, dan melek teknologi,” tuturnya.

Kegiatan webinar tersebut menghadirkan pembicara Redaktur Sinar Tani, Yulianto dan jurnalis Majalah Trubus, Andari Titisari. `Andari mengatakan, peran jurnalis pertanian sangat penting dalam menyebarkan informasi seputar dunia agraria dan memberikan narasi yang jujur dilengkapi data. “Efek jurnalistik pertanian juga bisa memberikan  dampak langsung kepada pembaca dan pematik bagi pemangku kebijakan,” ujarnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018