Thursday, 26 November 2020


Kegiatan Urban Farming Mampu Tumbuhkan Sociopreneur

20 Nov 2020, 09:52 WIBEditor : Gesha

Penggiat urban farming di Jakarta | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kegiatan urban farming ternyata tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan pribadi semata. Bisa menjadi sumber penghasilan bahkan dalam skala yang lebih luas mampu menumbuhkan sociopreneur yang pada akhirnya berdampak di masyarakat.

Maraknya kegiatan urban farming di kawasan Ibukota DKI Jakarta membawa dampak positif bagi ketahanan pangan masyarakat, mendongkrak penghasilan warga dan memberikan pekerjaan kepada masyarakat secara tidak langsung. Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar, Dekan Fakultas Ekologi Manusia dari Institut Pertanian Bogor (IPB University), Prof. Dr. Ujang Sumarwan.

Lebih jauh lagi, Prof Ujang menuturkan Keberhasilan petani muda ini menggambarkan pencapaian Sustainable Development Goals (SDG’s) PBB khususnya tujuan No Poverty (Menghapus Kemiskinan), Zero Hunger (Mengakhiri Kelaparan), Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

"Pertanian berhasil di Rebranding sebagai proses bisnis yang modern dan berteknologi tinggi, terutama tanaman pangan dan hortikultura. Saya salut dengan public figure seperti pak Ignasius Jonan, ibu Cut Yanthi, bang Haykal Kamil, yang mampu memotivasi pemuda Jakarta untuk bertani. Juga para narasumber petani muda Jakarta yang telah berhasil saya sangat kagum," tuturnya.

Bahkan Prof Ujang menyebutkan bahwa kegiatan urban farming banyak menumbuhkan Social Preneur, yaitu aktivitas bisnis bukan untuk kepentingan sendiri tapi juga untuk orang lain. "Sehingga, Pertanian adalah alternatif karir yang sangat baik dan menjanjikan,” pungkas Prof. Ujang. 

Tentunya, semua berkaitan erat dengan akses petani ke market (pasar). Karena itu, TaniHub, sebuah grup perusahaan agriculture technology hadir memfasilitasi setiap lini produksi hingga market dari pertanian itu sendiri. "TaniHub hadir pada tahun 2016 karena prihatin dengan masalah akses petani ke market. Kini TaniHub punya 35 ribu mitra petani, tetapi semuanya petani yang punya lahan. Kami sedang mencoba ke petani muda Jakarta," tutur Head of Partnership Social Impact TaniHub, Deeng Sanyoto. 

Deeng menambahkan TaniHub membuat sebuah ekosistem pertanian, sehingga semua proses sejak awal budidaya dipantau untuk menjaga kualitas. "Ada TaniFund untuk akses permodalan, ada TaniSupply untuk mengatasi food waste dan food lost. Aplikasi TaniHub juga bisa diakses melalui ponsel. Sistem bisnis sebagian besar B2B (Business to Business) yaitu modern ritel, jaringan restoran, dan sebagainya yang memerlukan supply produk pertanian hingga ber ton –ton. Manfaatnya, produk pertanian dari petani lebih banyak terserap oleh pasar, “ bebernya.

Ceruk pasar untuk petani urban farming berkontribusi untuk pangan, diakui Deeng sangat besar sebab selama ini inflasi pangan masih cukup tinggi terjadi Jakarta. "Inflasi itu terjadi karena warga Jakarta lebih banyak mengkonsumsi daripada memproduksi. Tetapi TaniHub juga aktif mengkampanyekan hidup sehat agar masyarakat lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayur dari petani lokal, agar sama-sama terdongkrak," tuturnya.

Reporter : Indri
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018