Sunday, 29 November 2020


Bangkitkan Minat Milenial, YESS Program Mendata CPCL Tulung Agung

21 Nov 2020, 07:32 WIBEditor : Gesha

Pendataan CPCL Milenial Tulung Agung | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTABI.COM, Tulung Agung - Seruan ajakan kepada generasi milenial untuk bergabung pembangunan pertanian  terus dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan). Berbagai program regenerasi pertanian dikeluarkan oleh Kementan untuk mendorong dan meningkatkan minat generasi muda agar mau menekuni sektor yang tidak akan pernah mati di segala situasi ini.

Untuk terus meningkatkan peran generasi milenial dalam sektor pertanian, Kementan  bekerjasama dengan IFAD mengupayakan regenerasi petani melalui  program Youth Entrepreneurship And Employment Support Services (YESS).

Tak semata memberikan bantuan secara cuma-cuma  program YESS memiliki misi untuk  membina dan mensupport generasi milenial di pedesaan untuk menekuni dan sukses mengelola sektor  pertanian. 

Secara teknis program YESS ini menyasar generasi milenial di pedesaan yang berada dibawah koordinasi BPP di masing masing kecamatan di Kabupaten yang menjadi  sasaran program YESS. Salah satu kabupaten  penerima manfaat dari program YESS di provinsi Jawa Timur adalah kabupaten Tulung yang memiliki 19 Kecamatan.

Sebagai langkah awal dalam mencapai tujuan program YESS yakni mencetak petani dan wirausaha pertanian milenial yang maju, mandiri dan modern serta memiliki daya saing, PPIU Jawa Timur  yakni Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang telah melaksanakan workshop dalam rangka asesment CP/CL yang selanjutnya akan ditetapkan sebagai penerima manfaat proyek YESS. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Dinas pertanian Tulung Agung (13/11) menghadirkan 19 BPP (satu kecamatan, satu BPP) dan 4 orang mobilizer dari LSM Persepsi.

 “Utamakan kualitas data dan jangan segan untuk mengeliminasi data yang dianggap tidak lengkap dan meragukan, sehingga program tepat sasaran," ujar perwakilan NPMU dan PPIU. Untuk mendapatkan data yang akurat dan tepat sasaran maka keragaman data yang disajikan oleh masing BPP masih harus dilengkapi dan diverifikasi ulang oleh penyuluh lapangan sebagai identifikator data petani muda di tingkat desa.

Salah seorang penyuluh dari Kabupaten Tulung Agung menyatakan dukungannya terhadap program YESS ini. Ia dan rekan penyuluh lainnya menyatakan kesiapannya untuk mencari bibit-bibit potensial petani dan wirausaha pertanian milenial di wilayah binaannya. Mereka pun menyatakan bila pertanian ini tidak dilanjutkan oleh generasi muda atau generasi milenial, siapa lagi yang akan melanjutkan perjuangan pahlawan pangan ini.

Paradigma Baru Milenial

Mengapa harus milenial? Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pernah mengatakan pertanian sekarang tak lagi sama dengan pertanian di masa lalu. Di era digital seperti sekarang sektor pertanian juga beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan. "Di situlah peran serta generasi milenial sangat diperlukan," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu.

Syahrul meminta generasi milenial pertanian agar dapat memanfaatkan paradigma baru dunia digital dalam mengembangkan perihal bertani. “Saya yakin ditangan generasi milenial  yang memiliki beragam ide, kreasi dan inovatif akan mampu mengubah sektor pertanian menjadi lebih modern dan menjanjikan”, tambah Syahrul

Ajakan Mentan kembali dipertegas oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi yang menyatakan bahwa sudah banyak generasi milenial yang sukses menjadi petani dan wirausaha pertanian milenial.

Sebagai contoh Kementerian telah memiliki 67 Duta Petani Milenial (DPM)/Duta Petani Andalan (DPA). Mereka merupakan sebagian dari banyaknya petani dan wirausaha pertanian yang berusia muda dan telah membuktikan kesuksesan dari sektor pertanian.  

Dedi mengatakan, untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas, transformasi pertanian harus dilakukan dari yang konvensional ke modern. "Kita harus beralih dari pertanian tradisional ke pertanian era industri 4.0. Ciri-ciri dari era teknologi pertanian 4.0 adalah pemanfaatan internet of things (IoT), big data, remote sensing, robot construction, dan artificial intelligence," katanya.

]Saat ini para petani milenial sudah banyak yang menggunakan kemajuan teknologi dalam mengelola usaha taninya, tak hanya itu mereka saat ini telah banyak memanfaatkan aplikasi untuk dapat  mendekatkan produsen dengan konsumen, atau petani dengan masyarakat.

"Petani milenial sudah banyak berkiprah di bisnis pertanian. Baik on farm seperti budidaya, maupun diolahan dan pemasaran atau off farm misalnya melalui penyediaan di marketplace softeker dan lain-lain. Sektor pertanian sudah masuk era industri 4.0. Dan anak-anak muda pertanian sudah harus bergabung di dalamnya," tutur Dedi.

 

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018