Friday, 22 January 2021


Dengan Kostratani, Penyuluh Lebih Profesional dan Mendorong Milenial

24 Nov 2020, 08:00 WIBEditor : Gesha

Dengan Kostratani, Penyuluh lebih profesional | Sumber Foto:BPP Trucuk

TABLOIDSINARTANI.COM, Klaten --- Sejak Kementerian Pertanian (Kementan) mengimplementasikan Kostratani di setiap kecamatan (BPP), kerja penyuluh semakin kompleks dan professional. Kostratani juga mendorong petani lebih termotivasi untuk melakukan usaha tani. Kostratani yang mengembangkan pertanian modern juga menarik kalangan milenial untuk terjun ke pertanian.

Penyuluh sekaligus Koordinator Penyuluh di BPP Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng), Darna mengaku, implementasi Kostratani memberi dampak positif kepada penyuluh dan petani yang didampinginya. “Kegiatannya saat ini lebih kompleks, sehingga mendorong kami untuk bekerja lebih professional,” ujar Darna, di Jakarta, belum lama ini.

Darna juga mengatakan, kegiatan penyuluh di setiap BPP saat ini sudah berbekal data. BPP juga punya tugas untuk mengolah data yang bersumber dari komoditas (pangan, kebun, ternak dan ikan). Data tersebut dengan bantuan IT dikelola dan dilaporkan secara periodik dan harian ke dinas. Bahkan, untuk kegiatan luas tambakh tanam (LTT) harus dilaporkan setiap hari.

“Jadi data luas tanam, panen, OPT hingga paska panen harus dilaporkan. Kemudian kelembagaan petani harus dilaporkan perkembangannya,” kata Darna.

Menurut Darna, selain mengumpulkan dan mengolah data, penyuluh harus tetap melakukan pendampingan dan menjadikan BPP sebagai pusat pembelajaran bagi petani.  Sehingga, keberadaan penyuluh saat ini perlu tambahan dukungan sarana dan prasarana.

“Saat ini semua kegiatan bisa memanfaatkan IT dan smart phone. Sehingga semua berjalan lebih cepat. Misalnya saja, untuk informasi tanam dan panen pun lebih cepat. Begitu juga tentang komoditas dan harga di pasar juga lebih cepat. Bahkan, dalam menangani OPT pun penyuluh bisa bergerak lebih cepat,“ papar Darna

Darna juga mengakui, implementasi Kostratani sangat bermanfaat bagi petani. Khususnya, dengan diperkenalkannya inovasi teknologi pertanian yang efektif dan efisien, akhirnya mampu menarik kalangan milenial terjun di bidang pertanian.

Menurut Darna, anak-anak milenial tak hanya tertarik dalam usaha pasca panen saja, tapi banyak juga yang terjun langsung ke sektor budidaya. Sebab, mereka bisa memanfaatkan traktor untuk olah lahan. Tanamnya pun sudah menggunakan mesin tanam. Nah, ketika panen bisa menggunakan combine harvester.

“Banyak anak-anak muda yang tertarik tanam komoditas yang punya nilai ekonomi tinggi, seperti bawang merah dan buah-buahan. Hal ini menunjukkan, implementasi Kostratani juga mampu memberi motivasi kepada generasi muda,” katanya.

Butuh SDM Kuat

Hal yang tak jauh berbeda juga diungkapkan salah satu Koordinator Penyuluh Kabupaten Wonogiri, Kukuh Subekti. Menurut Kukuh, implementasi Kostratani di setiap BPP ini mampu membangkitkan BPP dan penyuluh dalam membangun pertanian di tingkat desa. Bahkan, kegiatan BPP pun harus berbasis data base. Sebab, data potensi pertanian dan petani di setiap desa sangat penting untuk memulai perencanaan dan evaluasi.

“Jadi, saat ini kegiatan pertanian difokuskan ke BPP dan penyuluh. Sehingga, BPP dan penyuluh punya peran besar dalam kegiatan pertanian,” ujar Kukuh.

Kukuh juga mengakui, peran, fungsi dan kegiatan penyuluh saat ini sangat menonjol. Sehingga, maju atau mundurkan pengembangan pertanian di tingkat desa hingga kecamatan akan sangat kelihatan.

Menurut Kukuh, semua kegiatan penyuluh sudah mengaplikasi IT.  Karena itu, untuk mengiplementasikan Kostratani diperlukan SDM yang kuat.  “Sayangnya, jumlah penyuluh sangat terbatas. Sehingga kami dalam melakukan pendataan sampai melaporkan kegiatan harus bekerja ekstra.  Selain penyuluhnya terbatas, sarana dan prasaran IT seperti alokasi untuk quota juga terbatas,” jelasnya.

Kukuh juga mengatakan, dengan adanya IT, permasalahan yang dihadapi petani terkait dengan OPT dan pupuk bisa diatasi dengan cepat. Sehingga, kalau ada kendala di lapangan bisa segera dicarikan solusinya. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018