Penyuluh BPP Patok Beusi bersama petani
TABLOIDSINARTANI.COM, Subang---Transformasi menjadi Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) menuntut Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk segera berbenah. Bukan hanya memperbaiki bangunan, tapi juga fasilitas teknologi informasi untuk mendukung pembangunan pertanian.
Sebagai Kostratani, BPP nantinya menjadi pusat kegiatan pembangunan pertanian tingkat kecamatan. Kostratani merupakan optimalisasi tugas, fungsi dan peran BPP dengan memanfaatkan IT dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Setidaknya ada lima peran BPP sebagai Kostratani. Pertama, sebagai pusat data dan informasi. Kedua, pusat gerakan pembangunan pertanian, khusus 11 program utama Kementerian Pertanian. Ketiga, pusat pelatihan, baik dalam bentuk demplot, sekolah lapangan dan demfarm. Keempat, pusat konsultasi agribisnis. Kelima, pusat pengembangan jejaring usaha dan kemitraan.
Salah satu yang menjadi model Kostratani adalah BPP Patok Beusi, Kabupaten Subang. Lokasinya yang berada di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, terbilang cukup strategis bagi BPP tersebut. Apalagi wilayahnya merupakan sentra produksi padi nasional.
Dari 4 BPP di Subang yang berada di jalur Pantura, BPP Patok Beusi memang dipilih oleh pemerintah menjadi salah satu model Kostratani. Melihat kondisi bangunan BPP Patok Beusi memang ada berbedaan cukup menyolok dibandingkan beberapa tahun terakhir. Lebih apik dengan warna cat putih dan tulisan BPP di bagian bangunan. Selain bangunan, fasilitasnya juga sudah lebih baik, dari mulai komputer dan perlengkapan lainnya, termasuk teknologi drone.
Koordinator BPP Patok Beusi, N. Lesmanah mengakui, dengan ditunjuknya menjadi salah satu model kostratani merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi penyuluh di BPP Patok Beusi. Apalagi dengan keterbatasan jumlah penyuluh yang hanya lima orang penyuluh.
“Dengan keterbatasan SDM, kami harus membina 10 desa dengan luas areal sawah 5.854 hektar. Artinya tiap penyuluh harus membina 2 desa dengan luas sawah yang cuku besar,” tuturnya kepada Tabloid Sinar Tani.
Meski dengan keterbatasan SDM tersebut, Lesmanah mengakui, pihaknya menyiasati dengan saling membantu dalam menangani pekerjaan. Misalnya dalam membenahi data pertanian. Salah seorang penyuluh telah mendapat tugas untuk menginput data, baik data petani, luas lahan pertanain, serta data-data lain yang menjadi amanat dalam program kostratani.
Dikatakan, peran BPP sebagai pusat data pertanian dilakukan secara bertahap. Jika dulu BPP hanya sebagai sumber informasi budidaya pertanian, maka ke depan tugas penyuluh juga harus menginput data luas panen, luas tanam, serangan OPT, dan produktivitas lahan pertanian.
Dengan terbatasnya SDM, BPP Patok Beusi menyiatasi dengan bersinergi dengan semua pihak. Dari mulai Petugas Pengamat OPT (POPT), Babinsa, bahkan hingga penyuluh swasta. “Alhamdulillah, jika ada lahan petani yang terserang hama penyakit, kita bisa bantuan POPT dan Babinsa,” katanya.
Bagi Lesmanah, dengan program Kostratani peran BPP Patok Beusi sebagai pusat konsultasi bagi petani kian terasa. Apalagi dengan semakin majunya informasi teknologi, kini petani kian banyak membutuhkan informasi. “Petani sekarang up-date informasi, petani makin maju. Jadi kita pun sebagai penyuluh juga harus memperbanyak informasi. Sayangnya memang bantuan Wifi yang pemerintah janjian belum turun,” ungkapnya.
Pada musim tanam seperti saat ini menurut Lesmanah, banyak petani berkonsultasi mengenai Kartu Tani. Sebab, Kartu Tani menjadi salah satu syarat petani bisa mendapatkan pupuk subsidi. “Kita sudah lakukan pendataan petani dengan membuat RDKK, termasuk data susulan. Tapi memang tidak mudah pelaksanan di lapangan,” ujarnya.
Dalam mendukung program pembangunan pertanian, BPP Patok Beusi juga secara rutin melakukan pertemuan seminggu sekali dengan berbagai pihak, termasuk UPTD di tingkat kecamatan. Dari hasil pertemuan tersebut, setiap penyuluh yang bertanggung jawab terhadap desa binaan akan menginformasikan ke petani.
“Kita akan pertemuan mingguan kecamatan tiap dan pertemuan mingguan desa. Saat pertemuan desa menjadi kesempatan penyuluh memberikan informasi ke desa mengenai program pertanian. Bahkan kita juga membentuk Pos Penyuluhan Desa,”tuturnya.
Salah satu yang cukup membanggakan lainnya bagi BPP Patok Beusi adalah salah satu petani binaan yang cukup berhasil, kini duduk di kursi DPRD Subang. “Kami berharap keberhasilan salah satu petani itu juga menjadi motivasi milenial di Patok Beusi untuk terjun ke pertanian,” harapnya.