Thursday, 22 October 2026


Kostratani, Jadikan BPP Rumah Bersama Penyuluh dan Petani

25 Nov 2020, 11:28 WIBEditor : Yulianto

Penyuluh dan petani di BPP Patok Beusi saat panen sosin

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang---Ada energi positif ke petani ketika pemerintah kembali menggerakkan penyuluh pertanian yang berada di tingkat kecamatan melalui program Kostratani. Kini Balai Penyuluh Pertanian (BPP) menjadi rumah bersama penyuluh dan petani.

Mereka tak malu lagi keluar masuk ke BPP untuk bertanya kepada penyuluh pertanian mengenai berbagai hal. Misalnya, ketika Tabloid Sinar Tani berkunjung ke BPP Patok Beusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, petani bertanya mengenai program Kartu Tani untuk membeli pupuk subsidi. Apalagi saat ini di wilayah Pantai Utara Jawa Barat, tengah memasuki musim tanam.

Lukman, Ketua Gapoktan Mekar Jaya, Desa Gempol Sari, Kecamatan Patok Beusi mengakui, sejak pemerintah mendorong kembali penyuluhan pertanian melalui BPP banyak dirasakan manfaatnya oleh petani. Misalnya mengenai Kartu Tani, petani bisa mendapat penjelasan langsung dari penyuluh pertanian mengenai program pemerintah tersebut. “Bagaimana manfaat Kartu Tani dan bagaimana cara menebus pupuk subsidi. Semua itu dijelaskan oleh penyuluh pertanian,” ujarnya.

Keberadaan penyuluh pertanian di BPP menurut Lukman, juga telah banyak mengubah cara bertani masyarakat. Bukan hanya teknologi budidaya, tapi juga petani sekarang ini mampu menganalisa usahanya. Apalagi kini banyak petani yang berusia muda antara 30-35 tahun yang juga mengerti teknologi informasi.

Lukman mencontohkan bagaimana cara pemupukan. Jika dahulu petani menggunakan  pupuk tanpa menggunakan takaran atau melebih anjuran, maka kini petani mulai menghitung untung-ruginya dalam bertani. Bahkan ada petani yang mulai menggunakan pupuk organik. “Petani kini tak lagi ugal-ugalan dalam memberikan pupuk,” ujarnya.

Begitu juga dalam kegiatan pasca panen, kini petani ada yang mulai menggunakan combine harvester saat panen. Namun demikian, Lukman mengakui, tidak mudah mengubah kebiasan petani dalam menggunakan teknologi pasca panen tersebut. Apalagi di lapangan, masih ada tarik menarik dengan tenaga/buruh panen.

“Meski menggunakan combine harvester lebih hemat, tapi kita tidak bisa sepenuhnya memanfaatkan alsintan itu, karena ada persoalan buruh tani yang juga anggota masyarakat sekitar,” tuturnya.

Energi positif Kostratani bagi petani juga dirasakan Rukmanal, Ketua Gapoktan Cikarata, Desa Ciberes, Kecamatan Patok Beusi. Selama 10 tahun bertani, ia mengakui ada banyak perubahan cara bertani ketika pemerintah mulai menggerakkan kembali penyuluh pertani melalui Kostratani.

“Dulu saat mengolah tanah, petani asal saja menggunakan traktornya, tapi dengan informasi dari penyuluh, petani bisa dengan baik dalam mengolah tanah  dengan traktor,” ujarnya.

Begitu juga dalam membuat persemaian padi. Sebelumnya persemaian berlangsung selama 30 hari, tapi dengan bimbingan penyuluh petani kini hanya 15-20 hari. “Dalam pola tanam, petani juga telah menerapkan sistem jajar legowo, pempukan dengan berimbang. Petan juga kini bisa menggunakan alat penyemprotan elektrik ” tambah Rukmanal.

Kostratani di tingkat kecamatan, juga meningkatkan hubungan personal antara petani dan penyuluh yang kian akrab dan hangat. Di BPP Patok Beusi, kadang petani dan penyuluh berkumpul untuk berdiskusi hingga malam.

Bahkan bagi petani di Kecamatan Patok Beusi, penyuluh juga menjadi harapan mereka sebagai penyambung lidah petani. “Kami selalu menyampaikan keluhan kepada penyuluh. Harapan kami, kalau nanti penyuluh ada kegiatan pertemuan dengan Menteri Pertanian melalui Kostratani, bisa menyampaikan masalah kami ini,” harap Rukmanal.

Motivasi bagi Penyuluh

Penyuluh Pertanian BPP Patok Beusi, Kabupaten Subang, Shanti Agustriningsih mengatakan, Kostratani memberikan semangat dan motivasi baru bagi penyuluh pertanian. Apalagi BPP Patok Beusi menjadi salah satu BPP model Kostratani yang berada di wilayah Subang. “Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi penyuluh disini,” ujarnya saat Tabloid Sinar Tani berkunjung ke BPP Patok Beusi, Rabu (18/11). 

Pemicu semangat lain bagi penyuluh di BPP Patok Beusi, karena pemerintah melalui Pusat Penyuluh Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) terjun langsung memperhatikan penyuluh. Bahkan memberikan banyak bantuan fasilitas untuk BPP.

“Kami juga terus dimotivasi dan diberikan arahan dalam bekerja. Sekarang kami jadi punya tempat mengadu. Dulu kami bingung mau mengadu ke siapa kalau ada masalah,” tuturnya.

Meski bantuan pemerintah belum turun semua, namun Shanti mengakui upaya pemerintah menambah fasilitas BPP kian mempermudah pekerjaan penyuluh pertanian. Misalnya, bantuan fasilitas komputer untuk menginput data yang menjadi tugas Kostratani ke depan.

“Memang beban kami saat ini lebih banyak, apalagi SDM kami sangat kurang. Kami hanya lima penyuluh harus menangani 10 desa dengan luas areal pertanian 5.854 hektar. Tapi kini kami lebih semangat bekerja,” katanya.

Bahkan BPP Patok Beusi kini menjadi tempat berkumpul petani. Ketika ingin mengetahui program pemerintah atau menghadapi masalah dalam usaha tani, petani tak sungkan datang ke BPP. “Sekarang ini banyak petani datang menanyakan program Kartu Tani untuk menebus pupuk subsidi,” tuturnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018