Sunday, 24 January 2021


Begini Cara Kementan Hasilkan 2,5 Juta Petani Milenial

14 Jan 2021, 17:07 WIBEditor : Gesha

Kementerian Pertanian terus melahirkan petani milenial demi regenerasi petani | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kementerian Pertanian menargetkan ada 2,5 juta petani milenial baru dalam lima tahun ke depan. Dengan kata lain, setidaknya dalam setahun harus diciptakan 500 ribu petani milenial di seluruh Indonesia. Demi menunjang regenerasi petani yang didominasi oleh usia tua.

"Sumber daya manusia (SDM) Pertanian merupakan faktor utama yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian sebesar 50 % dibandingkan lainnya, karena SDM Pertanian lah yang mampu menggerakan petani petani di Desa," ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi saat Pertemuan Koordinasi Penyuluhan Pertanian 2021, Rabu (13/1).

Lebih lanjut Prof Dedi mengatakan, SDM Pertanian masa depan tersebut harus didominasi oleh para milenial. Sebab, SDM pertanian yang maju akan menghasilkan inovasi pertanian yang baik dan menyesuaikan perkembangan, mampu membangun sarana dan prasarana, sistem, serta kebijakan yang mendukung serta menguntungkan  pertanian. "Sudah saatnya milenial mengambil peran dalam pembangunan pertanian ini," tegasnya.

Karenanya, Regenerasi Petani dan Petani Milenial masuk dalam Program Aksi BPPSDMP 2021. Penciptaan tersebut melalui berbagai macam cara dan program, antara lain melalui pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, pemberdayaan P4S, Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), hingga program Youth Entrepreneurship and Employment Support (YESS).

Selain program tersebut, contoh-contoh sukses petani andalan dan milenial (branding petani) juga kerap dihadirkan dalam berbagai kegiatan BPPSDMP melalui Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) yang kini berjumlah 67 orang dan tersebar serta saling berkomunikasi. "Kita harapkan mereka melakukan resonansi mengajak para petani muda lainnya disetiap Propinsi dan Kabupaten jadi tidak mereka sendiri saja yang menjadi petani milenial tapi mengajak agar bergabung menjadi petani milenial," ungkap Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Leli Nuryati.

Penciptaan petani milenial tersebut juga disokong oleh tiga pilar dalam BPPSDMP yakni Penyuluhan, Pendidikan dan Pelatihan. Untuk penyuluhan, Leli berharap peran para penyuluh di setiap daerah untuk mengajak anak-anak muda masuk ke sektor pertanian dan menjadi wirausaha. "Paling tidak satu penyuluh bisa mengajak lima petani milenial. Jumlah penyuluh kita ada 60 ribu orang, kalau tercapai bisa 300 ribu petani milenial," tuturnya. 

Pusluhtan juga akan melakukan pengerahan 40.835 penyuluh di bawah koordinasi Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP (Pusluhtan) merupakan aktivitas komunikasi vital, mendorong proses penyebaran dan penerapan teknologi dalam suatu sistem sosial pedesaan. Gerakan massal diseminasi teknologi akan didukung penuh 5.698 Balai Penyuluhan Pertanian sebagai Komando Strategis Pembangunan Pertanian sebagai 'rumah besar penyuluh' koneksi online ke AWR di Jakarta. "Permasalahan diseminasi inovasi pertanian, umumnya terkait kesenjangan adopsi teknologi, kesenjangan hasil dan kendala sosial ekonomi petani," katanya.

Sedangkan dari pilar pendidikan, diharapkan petani milenial terdidik dari alumni Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanan (SMKPP) bisa muncul. "Tahun ini ditargetkan ada 6.701 orang terlatih. Ada pula target penumbuhan wirausaha muda sebanyak 822 kelompok dan fasilitasi kewirausahaan dan ketenegakerjaan pemuda sebanyak 5.000 orang," bebernya.

Pilar Pelatihan, menjadi bagian penting untuk peningkatan kemampuan dari petani milenial maupun alumni pendidikan tersebut. "Pusat pelatihan dan pendidikan ini tentu sangat berkaitan dengan mendorong munculnya petani milenial kita," katanya.

Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) menjadi bagian inkubator penting dalam penciptaan petani milenial bahkan penyuluh swadaya. P4S merupakan lembaga pelatihan pertanian dan pedesaan yang didirikan, dimiliki, dikelola oleh petani secara swadaya baik perorangan maupun berkelompok dan diharapkan dapat secara langsung berperan aktif dalam pembangunan pertanian melalui pengembangan sumber daya manusia pertanian dalam bentuk pelatihan/permagangan bagi petani dan masyarakat di wilayahnya.

PWMP dan YESS

Rangsangan dan dorongan untuk menghadirkan petani milenial juga ditempuh Kementerian Pertanian melalui Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) dan Youth Entrepreneurship and Employment Support (YESS). Keduanya merupakan program kolaborasi yang sama-sama bertujuan mencetak petani milenial.

PWMP diluncurkan sejak tahun 2016 dan dilaksanakan dalam 3 tahapan. Tahap pertama, dimulai dari penyadaran dan penumbuhan minat dan bakat, ini merupakan tahapan awal dengan melakukan program penyadaran akan pentingnya kewirausahaan pemuda. Tahapan awal ini juga merupakan tahapan untuk memberikan motivasi membentuk sikap dan mental serta semangat untuk berwirausaha, menggali ide-ide dan minat untuk berusaha yang sesuai dengan bakat dan potensi yang dimiliki, dan mulai merumuskan perencanaan usaha yang akan dikembangkan berdasarkan ide-ide yang sudah muncul.

Selanjutnya tahap kedua, mengembangkan usaha yang dimulai dari Rencana usaha yang telah dibuat baik secara rinci maupun global, tertulis maupun tidak tertulis selanjutkan akan diimplementasikan dalam pelaksanaan usaha. Pada tahap ketiga, yaitu tahap pemandirian, dimana keadaan ketika kelompok mampu memutuskan dan melakukan sesuatu secara bersama dengan anggota kelompoknya. Pada tahapan ini kelompok peserta PWMP memiliki sikap mandiri, hampir selalu bisa mengusahakan keperluan usahanya dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Kelompok peserta PWMP merupakan alumni Perguruan Tinggi Mitra yang menerima manfaat bantuan operasional sebesar Rp. 35 juta per kelompok, selanjutnya untuk mahasiswa/i Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, dan siswa/i Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan menerima manfaat bantuan beasiswa sebesar Rp. 15 juta per kelompok.

Sedangkan YESS, dilaksanakan sebagai program pengembangan generasi muda dan regenerasi petani di perdesaan melalui fasilitasi dan bimbingan kepada generasi muda. Proyek yang didanai oleh International Fund For Agricultural Development (IFAD) ini bertujuan untuk menghasilkan wirausahawan atau tenaga kerja yang profesional di sektor pertanian.

Sasaran program adalah kaum muda di perdesaan dari keluarga kurang mampu; serta kaum muda yang beresiko besar terhadap kemiskinan. Target yang akan dicapai selama 6 tahun program ini adalah 320.000 generasi muda di perdesaan.

Dengan indikator utama kegiatan. Pertama, 32.500 orang memperoleh pekerjaan di sektor berbasis pertanian. Kedua, 33.500 orang pedesaan meningkat pendapatannya. Ketiga, 50.600 orang mengembangkan usaha dibidang pertanian. Keempat, 100.000 orang mampu menggunakan jasa keuangan, 4.300 diantaranya rumah tangga migran muda. Kelima, 120.000 pemuda memperoleh pendidikan keuangan.

Indikator tersebut akan dicapai melalui empat kegiatan utama. Pertama, Rural youth transition to work (peningkatan kapasitas pemuda perdesaan di bidang pertanian). Kedua, Rural Youth Entrepeneurship (Pengembangan Wirausahawan Muda Perdesaan).  Ketiga, Investing to Rural Youth (Fasilitasi akses permodalan). Keempat, Enabling Environment fo Rural Youth (membangun lingkungan usaha yang kondusif). 

Reporter : Echa/Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018