Wednesday, 14 April 2021


Soft Skill Penyuluh, Penentu Suksesnya Penyuluhan

02 Mar 2021, 10:28 WIBEditor : Gesha

Jaji Sumarji saat memberikan penyuluhan kepada petani | Sumber Foto:Regi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Tak hanya kemampuan transfer teknologi dari penyuluh kepada petani yang dibutuhkan untuk kegiatan penyuluhan, tetapi lebih pada kompetensi soft skill untuk mampu mengubah pandangan dan sikap petani itu sendiri.

"Tidak hanya pengetahuan kognitif tetapi juga afektif dan perubahan sikap sehingga membutuhkan softskill yang mumpuni dari penyuluh itu untuk bisa mengubah sikap dan pandangan petani," ungkap Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI), Ir. Mulyono Machmur, MS dalam Ngobrol Asyik Penyuluhan (Ngobras) bersama Kepala BPPSDMP, Selasa (2/3).

Kemampuan softskill tersebut mulai dari etika, emosi, integritas, motivasi, kreativitas, intuisi, komunikasi dan kepemimpinan. 

Mulyono membeberkan, softskil motivasi diperlukan penyuluh terutama motivasi untuk berprestasi (motivasi achievement) sehingga mendorong petani binaannya untuk berprestasi dalam sektor pertanian. 

"Softskill leadership (kepemimpinan) menjadi penentu penting untuk dimiliki penyuluh sehingga bisa diajarkan kepada petani, mempengaruhi petani untuk bisa mencapai tujuan bersama," jelasnya.

Tetapi, sofskill tersebut juga sejalan dengan jiwa enterpreneurship  dan jiwa manajerial yang sudah alamiah terbentuk dalam diri penyuluh. "Karena, penyuluhan itu merupakan proses pendidikan orang dewasa," tuturnya. 

Perubahan Paradigma

"Menjadi penyuluh di zaman sekarang memang perlu perubahan paradigma yang lebih komprehensif agar kegiatan penyuluhan pertanian bisa berjalan dengan baik," ungkap Mulyono

Perubahan tersebut dimulai dari penyuluh mampu menyediakan jasa informasi pertanian mulai dari akses pasar, jejaring kemitraan hingga teknologi terbaru. Kegiatan penyuluhan pertanian juga seharusnya bersifat lokalita atau spesifik lokasi. Kegiatan penyuluhan juga tidak hanya berorientasi pada kegiatan onfarm sehingga penyuluh harus berorientasi agribisnis.

Tak hanya itu, kegiatan penyuluhan juga dilakukan secara pendekatan kelompok daripada individual, sehingga bisa terjadi interaksi dalam kelompok dan lebih mudah penerapan metode penyuluhannya.

"Petani itu lebih mudah untuk (masuk penyuluhannya) jika ngarengeu (mendengar), ngadeleu (melihat), ngaraba (meraba/merasakan) secara kongkrit. Sehingga petani bisa merasakan langsung dan lebih efektif," ungkapnya

Karena itu, kegiatan penyuluhan ini perlu fokus pada kepentingan petani dan memuaskan petani, namun tetap profesional.

Mengenai pendekatan terhadap petani dalam kegiatan penyuluhan, Mulyono Machmur berpesan agar kegiatan penyuluhan dilakukan dengan pendekatan humaniti Egaliter. "Jangan pernah memposisikan petani dengan dikomando saja, penyuluh harus bisa memposisikan diri," pesannya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018