Wednesday, 14 April 2021


Penyuluh Pertanian Bukan Pegawai Rendahan!

02 Mar 2021, 10:50 WIBEditor : Gesha

Penyuluh di BPP Kaduhejo dengan petani talas beneng | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bagi penyuluh pertanian yang kini menjadi Penyuluh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), tak perlu berkecil hati. 

"Seorang penyuluh bukanlah pegawai rendahan walaupun dia berada di pedesaan, tetapi dia sebagai pejuang, manusia teladan bagi petani, dan masyarakat perdesaan dimana dia tinggal dan bekerja untuk mendedikasikan hidupnya bagi kepentingan orang lain," tegas Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI), Ir. Mulyono Machmur, MS dalam Ngobrol Asyik Penyuluhan (Ngobras) bersama Kepala BPPSDMP, Selasa (2/3).

Dalam Ngobras ini, Mulyono juga memotivasi mental penyuluh pertanian THL-TBPP yang baru diangkat atau masih menunggu diangkat menjadi PPPK di tahun 2021 ini. 

Menurutnya, penyuluh pertanian apapun statusnya dituntut kerja secara tulus, serius, bertanggung jawab dan berdedikasi tinggi terhadap profesi penyuluhan pertanian. 

Hal serupa juga diungkapkan oleh Wakil Menteri Pertanian periode 2011-2014, Dr. Rusman Heriawan, S.E. , M.Si. Menurutnya, Penyuluh PPPK memiliki kesempatan yang sama dengan penyuluh PNS. "Sama-sama memiliki jenjang karier, gaji pun sama sesuai masa baktinya. Tidak perlu risau," tuturnya.

Seperti diketahui, sebanyak 11.590 dari 14.924 tenaga penyuluh pertanian honorer dinyatakan lulus menjadi ASN pada April tahun lalu. Proses pengangkatan tersebut sempat tersendat di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Pembinaan Penyuluh

Rusman juga menilai perlu adanya proses recruitment yang kualitatif terhadap penyuluh pertanian. "Recruitment menjadi sangat kritikal dalam penyuluhan pertanian. Sebagaimana kita ketahui, 50 persen keberhasilan pertanian ada pada proses penyuluhan sehingga jangan asal-asalan untuk merekrut penyuluh," tegasnya.

Sehingga perlu adanya kapabilitas dan kemauan kuat menjadi penyuluh. Kemudian setelah adanya recruitment, proses pembinaan penyuluhnya baik secara teknis maupun softskill harus mampu dihadirkan dan intens dilakukan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP).

"Perlu adanya pembinaan yang rutin dan terprogram. Sehingga tak hanya dibina tetapi menjaga komunikasi dengan penyuluh itu sendiri," jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Leli Nuryati menuturkan Pusluhtan sebagai induk dari Penyuluh Pertanian seluruh Indonesia tentunya melakukan kegiatan pembinaan terhadap penyuluh. 

Di era 4.0 ini, Pusluhtan bahkan secara optimal menggunakan telekonferensi setiap hari untuk penyuluh pertanian pusat melakukan pembinaan dan pengawalan pembangunan pertanian di lapangan secara efisien dan cepat. 

"Contohnya seperti Ngobras, Mentan Sapa Penyuluh dan Petani (MSPP) kemudian ada Tani on Cloud, kita memaksimalkan teknologi untuk pembinaan kepada penyuluh," tambahnya.  

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018