Wednesday, 14 April 2021


Guru Besar IPB dan UGM: Penyuluhan Partisipatif dan Terpadu untuk Keberlanjutan Food Estate

07 Apr 2021, 07:18 WIBEditor : Julianto

Penyuluhan untuk kesejahteraan petani | Sumber Foto:Dok

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---Penyuluh menjadi garda terdepan untuk mengubah pola pikir petani. Karena itu proses penyuluhan di kawasan food estate menjadi faktor penting keberlanjutan program pemerintah tersebut. Dibutuhkan model penyuluhan yang partisipatif dan terpadu.

Untuk itu, penyuluh pusat dan daerah harus lebih masif mendampingi petani di lokasi food estate (FE). Diakui Guru Besar Komunikasi dan Penyuluhan Pembangunan, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB University), Prof. Dr. Ir. Sumardjo M.Si mengubah kebiasaan dan pola pikir petani memang tidak mudah.

"Karena itu aspek penyuluhan menjadi faktor kunci mengubah kebiasaan, perilaku, dan sikap mental petani," ungkapnya. 

Prof Sumardjo menuturkan, model penyuluhan pada kawasan food estate berkelanjutan adalah model partisipatif dan melembaga. Artinyan orientasinya global dan bertindak secara lokal spesifik.

Misalnya, diversifikasi pangan berbasis pasar dan sumberdaya lokal dengan penguatan local champion untuk sinergi jaringan pemasaran dan kualitas produk. Kegiatan penyuluhan juga menjadi forum media antar petani untuk memperkuat posisi tawar dalam simetri sistem agribisnis.

Model penyuluhan yang partisipatif dan terpadu juga diharapkan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi. Menurutnya, kawasan food estate merupakan pertanian terintegrasi / terpadu yang meliputi pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, di suatu kawasan tertentu. 

Untuk itu, di kawasan Food Estate mestinya juga dilakukan model penyuluhan terintegrasi/ terpadu. Penyuluhan ini berlangsung secara terpadu dan sinergi antara Penyuluhan Pertanian, Perkebunan, Peternakan, mulai dari tingkat pusat sampai dengan daerah.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan penyuluhan terpadu, Prof Sunarru menekankan pentingnya upaya lebih, untuk memberdayakan balai-balai penyuluhan pertanian (BPP) di tingkat kecamatan, sehingga bisa berfungsi sebagai pusat kegiatan penyuluhan terpadu. BPP hendaknya bisa menjadi sarana berkumpulnya para penyuluh pertanian, perkebunan,peternakan dan perikanan, sebagai pusat pembelajaran, pusat data dan informasi serta pusat pengembangan kemitraan dan konsultasi agribisnis.

“Melalui BPP inilah para penyuluh satu sama lain bisa lebih mendorong pengembangan kelompok-kelompok tani menjadi korporasi petani sesuai sasaran dari kegiatan FE itu sendiri," jelas Sunarru.

Penguatan Kostratani

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi menuturkan Komando Strategi Pembangunan Pertanian Tingkat Kecamatan (Kostratani) memperkuat peranan dari BPP yang telah menjadi rumahnya penyuluh. 

Dengan Kostratani, fungsi BPP lebih ditingkatkan berbasis IT dan single data. Kostratani berperan dalam FE mulai dari pendampingan petani hingga penyediaan data hingga ke AWR.

Kostratani mengusung lima peran yakni pusat dari data dan informasi, gerakan pembangunan, pembelajaran, konsultasi agribisnis dan pengembangan kemitraan pertanian.

"Kehadiran Kostratani dan food estate menjadi bentuk transformasi pertanian, menuju pertanian maju, mandiri dan modern," tegasnya. 

===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : TABLOID SINAR TANI/Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018