Sunday, 09 May 2021


Tingkatkan Produktivitas Sawit dengan Penyuluh Swadaya

26 Apr 2021, 11:54 WIBEditor : Gesha

Penyuluhan pekebun sawit memerlukan penyuluh swadaya | Sumber Foto:SPKS

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---  Sawit, tidak hanya menjadi penyumbang paling penting devisa negara. Namun juga menjadi penggerak perkenomian wilayah, menyerap tenaga kerja dan mengentaskan kemiskinan di pedesaan. Untuk itu, Kementerian Pertanian terus meningatkan peran penyuluh swadaya untuk menggenjot produktivitas kelapa sawit.

Dalam 10 tahun terakhir tercatat luas lahan sawit Indonesia mencapai 14,7 juta hektar. dan 6 juta hektar (40,99 persen) diantaranya merupakan perkebunan kelapa sawit milik pekebun, dengan produksi CPO sebesar 40 juta ton. Keseluruhan kebun sawit tersebut mampu menyerap 8,2 Juta orang, diantaranya 4,2 juta orang tenaga kerja untuk sawit rakyat sekaligus sumber penghidupan bagi 1,5 juta keluarga petani kecil.  

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan tantangan pengembangan kelapa sawit nasional kedepan tak hanya sekitar produktivitas semata.  Diperlukan upaya-upaya khusus ditengah kondisi pandemi ini terkait peningkatan akses pasar, nilai tambah, rantai pasok, saluran distribusi dan dinamika harga dunia. 

"Kita mengharapkan, kedepan pembangunan sawit Indonesia tetap pada koridor pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan dari sub sistem hulu sampai sub sistem hilir, utamanya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)," ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), pada Pertemuan Penyempurnaan Renaksi Implementasi  Kepmentan Nomor 40 Tahun 2020 memaparkan, secara ekonomi, sawit telah berperan sebagai kontributor ekonomi utama wilayah, terutama pada 31 kabupaten dan kota di Indonesia. 

Sayangnya, Sawit masih menghadapi berbagai permasalahan yaitu rendahnya produktivitas sawit rakyat (2,7 ton/ha) dibawah rata-rata nasional (9 ton/ha) dan potensi yang ada, sistem pelayanan prima  (delivery system) masih lemah, dan rendahnya  penerapan teknologi maju. 

Dedi menambahkan, kunci untuk mengatasi permasalahan ini adalah SDM Pertanian. "Petani atau pekebun memainkan peran penting dalam memecahkan permasalahan tersebut. Maka menjadi tugas kita semua untuk  meningkatkan kualitas dan kuantitas produktivitas sawit baik  dari sisi teknis maupun non teknis serta kelembagaannya,” ungkap Dedi.

Karenanya, Kementan mengupayakan dukungan sistem penyuluhan yang efektif dan efisien, diantaranya melalui penguatan Penyuluh Pertanian baik penyuluh Aparatur Sipil Negara (ASN), penyuluh swadaya, maupun penyuluh swasta sebagai upaya mendorong peningkatan pengetahuan petani yang merupakan kunci untuk membangun kapasitas petani.  

"Untuk mengatasi jumlah penyuluh pertanian yang semakin sedikit, Kementan mengupayakan untuk menjaring penyuluh swadaya khususnya di wilayah perkebunan sawit," sambung Dedi Nursyamsi lagi. 

Tak hanya itu dukungan permodalan untuk KEP (Koperasi, BUMP) dalam rangka pengadaan sarana alsintan, saprodi (benih, pupuk) berupa pinjaman modal tanpa bunga dan agunan pun dijajaki dengan sistem bagi hasil. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sawit Indonesia sehingga tak hanya luas lahan yang tinggi namun kapasitas petani/pekebun dalam mengelola sawit hingga produk turunannya dapat meningkat.

 

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018