Friday, 07 May 2021


Penyuluhan Pertanian Zaman Now, Efektifkan Media Massa dan Media Sosial

04 May 2021, 16:13 WIBEditor : Gesha

Penyuluhan di era digital perlu gaya baru | Sumber Foto:istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perubahan teknologi informasi yang semakin berkembang tanpa batas, memunculkan ragam media massa yang tidak hanya berupa cetak, tetapi juga digital. Selain itu, media sosial pun kian pesat tanpa sekat. Penderasan sumber informasi seperti ini juga butuh gerakan luwes dari penyuluh yang bisa menjadikan media massa dan media sosial sebagai sarana efektif penyuluhan pertanian di zaman now.

"Untuk memenuhi tuntutan perubahan zaman ini tidak ada upaya lain bagi penyuluh kecuali harus belajar secara berkelanjutan. Di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi banyak media belajar dan pembelajaran termasuk penggunaan media massa (TV, Radio, Media Cetak, Media Online  hingga Media Sosial) sebagai media penyuluhan," ungkap Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani), Mulyono Machmur dalam Kuliah Umum Politeknik Lingkup Kementerian Pertanian : Media Massa dan Media Sosial sebagai Sarana Efektif Penyuluhan yang digelar Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), Selasa (04/05).

Diceritakan Mulyono, di masa kejayaan penyuluh ada lembaga Balai Informasi Penyuluhan (BIP) yang mempersiapkan dan mengolah materi-materi penyuluhan seperti poster serta inovasi yang perlu dan akan disampaikan kepada petani. Namun kini, transfer teknologi kian terbuka melalui media massa dan media sosial, sehingga perlu gerakan luwes dari penyuluh untuk bisa mengadopsi inovasi tersebut dan disebarluaskan kepada petani melalui bahasa dan pendekatan khusus.

"Sejak tahun 2006, penyuluh dibekali dengan cyber extention yang mencakup berbagai teknologi dan solusi. Namun kembali lagi, penyuluh harus terus belajar secara berkelanjutan mengakses berbagai sumber informasi pertanian yang valid," tegasnya.

Meskipun begitu, ilmu dasar penyuluhan harus dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswi Polbangtan yang kelak juga menjadi tenaga penyuluhan pertanian di daerah (sebagai tenaga penyuluh pemerintah, penyuluh swasta bahkan penyuluh swadaya) dan  dalam kegiatan penyuluhan, tidak hanya terjadi transfer teknologi tetapi juga merubah sikap petani. "Disinilah peranan softskill dari penyuluh, berinteraksi dengan petani," tambahnya. 

Sehingga Mulyono menyarankan menjadi penyuluh pertanian agar luwes dalam mengadopsi dan mengakses sumber informasi serta penderasan (penyebarluasan) informasinya. Karena itu, perlu dilihat juga target sasaran (petani) yang akan diberikan kegiatan penyuluhan. "Jika petani sasarannya adalah petani milenial, tentunya penggunaan informasi teknologi ini media sosial menjadi efektif dalam penderasan informasi. Kondisi sebaliknya, dengan Gapoktan yang berusia tua/Kolotnial, pendekatan secara Sistem Latihan Kunjungan dan Supervisi (LAKU SUSI) masih relevan. Dan di dalam Gapoktan pastinya ada proses belajar antara kaum muda dan milenial. Saat terjadi interaksi petani muda dan tua, disinilah terjadi percepatan proses informasi," jelasnya.

Agar efektif dalam kegiatan penyuluhan, Mulyono yang juga merupakan Pimpinan Perusahaan PT Duta Karya Swasta (penerbit TABLOID SINAR TANI dan tabloidsinartani.com) menyampaikan penggunaan media sosial dan media massa, perlu memperhatikan syarat: 1) sederhana, mudah dimengerti dan dikenal, 2) dapat mengemukakan ide-ide baru, 3) menarik, 4) menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh petani, mengajak petani untuk memperhatikan, mencoba dan menerima ide-ide yang dikemukakan.

Diakui Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti keberlimpahan digital dalam bentuk free economy berupa kemudahan masyarakat mengakses informasi, sangat pesat dan berdampak pada transformasi dari analog ke digital. Karenanya, Penyuluhan pertanian zaman now perlu mengemas Laku Susi dengan memanfaatkan teknologi informasi. "Penyuluh sendiri harus milenial yang adaptif terhadap teknologi agar mudah memanfaatkannya untuk penyuluhan," tuturnya.

Karena itu, dalam kegiatan penyuluhan, mahasiswa Polbangtan yang kelak menjadi calon penyuluh ini bisa secara aktif menghasilkan dan mempergunakan media komunikasi berupa media massa dan media sosial guna menderaskan informasi serta secara luas diadopsi oleh petani."Misalnya dengan mengemas inovasi teknologi yang berasal dari peneliti yang sifatnya ilmiah, menjadi bahasa populer dan diterbitkan dalam media massa maupun media sosial sehingga bisa menggugah petani," tuturnya. (Baca Juga : Penyuluh Pertanian, Jangan Takut untuk Menulis)

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian kali ini tengah mengarah pada lahirnya SDM Pertanian yang Profesional, Mandiri, Berdaya Saing dan Berjiwa Wirausaha. "Jiwa wirausaha ini menjadi penting agar pertanian bisa mengarah pada bisnis. Sehingga tidak hanya bertani produksi saja," tambahnya.

Karenanya, pemanfaatan teknologi informasi dan pengembangan platform digital menjadi penting bagi SDM Pertanian zaman now, tak terkecuali penyuluh pertanian. "SDM Pertanian harus kompeten di dunia 4.0. Penyuluh juga wajib berkoordinasi dalam kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang berbasis Teknologi Informasi Komunikasi (TIK)," jelasnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018