Friday, 18 June 2021


Bupati : Penyuluh, Buat Dirimu Kaya Raya dari Pertanian

07 Jun 2021, 16:05 WIBEditor : Gesha

Bupati Subang H. Ruhimat menunjukkan pertanaman padi hasil penyuluh | Sumber Foto:NATTASYA

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Bupati Subang, H. Ruhimat menantang penyuluh di daerahnya untuk giat menekuni pertanian, bahkan menjadi kaya raya terlebih dahulu dari sektor pertanian. Sambil mendorong peningkatan ekonomi kelompok tani binaannya.

"Kalian (penyuluh) punya ilmunya, punya channelnya. Buat dirimu kaya raya dahulu," tukas Kang Jimat, sapaan akrab H. Ruhimat ketika mendengar sosok Dedi Mulyadi, seorang penyuluh Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL TBPP) yang tengah merintis usaha menjadi petani milenial beras organik dari Subang.

Dirinya bahkan menekankan agar penyuluh di Kabupaten Subang memiliki lahan garapan pribadi atau menjadi pengepul dan menyalurkan hasil komoditi petani binaan. "Intinya bisnis dari sektor pertanian ada pada kemauan dan kemampuan. Jangan jadi penyuluh sekedar menggugurkan kewajiban dan mengejar hak," tukasnya.

Kang Jimat mengapresiasi Dedi Mulyadi yang menjadi owner dan pengelola P4S Agrospora di Pringkasap, Kabupaten Subang yang jatung bangun membangun pertanian terpadu. Selama dua tahun (2013-2014) Dedi membangun pertanian organik aral rintangan pun dilalui. Akhirnya tahun 2015, Paguyuban Bumi Mandiri mulai menjajaki untuk  memasarkan beras sehat. Dedi berharap, kedepannya bukan hanya beras, tetapi juga peternakan dan pengelolaan sampah bisa dijajakinya.

Bagaimana awalnya Dedi membangun pertanian organik terpadu? Dedi bercerita awalnya dirinya hanya mengajak petani memproduksi beras organik. Namun selama tujuh tahun (2012-2019) pengembangan padi organik, timbul masalah yakni produk turunan dari penggilingan padi yakni dedak, menir dan sekam.

Lalu Dedi berpikir bagaimana memanfaatkan limbah dari penggilingan padi tersebut. Sempat terpikir dengan mengolah menjadi tepung agar nilai jualnya naik, tapi petani tidak mempunyai alat pengolahan. Akhirnya solusi yang didapat adalah memanfatakan limbah organik sebagai bahan baku pakan ternak.

Tak hanya menggunakan limbah dedak, menir dan sekam, Dedi yang merupakan owner P4S Agrospora mengembangkan budidaya maggot dengan memanfaatkan limbah organik dari lingkungan tempat tinggalnya. Bahan organik tersebut diurai oleh maggot dan waktu 18-21 hari. Sedangkan limbahnya berupa bekas maggot (kasgot) digunakan untuk tanaman padi organik. “Limbah sampingnya itu kemudian untuk pupuk tanaman padi. Kita lakukan ini tujuannya tak lain untuk menekan biaya produksi petani,” ujarnya.

 

Dedi juga membudiayakan tanaman odot untuk pakan sapi dan ternak domba. Kebun tersebut dipupuk menggunakan pupuk kandang dari kotoran sapi. Pakan yang digunakan untuk peternakan sapi dan domba berasal dari rumput odot, jerami padi dan dedak. Sedangkan kotoran sapi digunakan langsung untuk tanaman padi dan pakan maggot BSF.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018