
milenial yang aktif kembangkan pertanian organik
TABLOIDSINARTANI.COM, Malang – Kesadaran menanam dengan sistem organik sudah mulai berkembang seiring pemahaman petani bahwa penggunaan pestisida secara berlebihan efeknya tidak baik bagi masa depan pertanian mereka. Pengaruh dosis pestisida yang tinggi dalam jangka panjang juga akan mempunyai dampak sampai ke tubuh. Tubuh manusia bisa semakin lemah. Peran penyuluh pertanian untuk mengarahkan ke budidaya yang sehat sangat diharapkan.
Taruna Tani Milenial Torongrejo Agribisnis (Toraris) termasuk yang giat membudidayakan tanaman organik, kelompok taruna tani yang anggotanya terdiri sekitar 20 pemuda dimana 5 persen di antaranya masih kuliah ini tergabung dalam gabungan kelompok tani (Gapoktan) dari 3 dusun, “pada awalnya budidaya organik ini dikelola oleh kelompok wanita tani (KWT) karena masing-masing mempunyai kesibukan maka pengelolaan selanjutnya diserahkan ke taruna tani,”kata Andik Fitrawan salah satu anggota taruna tani.
Andik menjelaskan, “komoditas yang ditanam antara lain, pakcoy, bayam merah, bayam hijau dan andewi, dimana dalam satu kecamatan ada sekitar 24 komoditi, dibagi per kelompok desa tidak boleh sama supaya stoknya tidak tumpang tindih, nanti kalau satu komoditas saja terlalu banyak menjadi tidak merata,”jelasnya.
Tantangan Budidaya Organik
Menurut Andik,”pemahaman pertanian organik perlu dukungan dan peran serta dari penyuluh pertanian, hal ini mengingat efektifias media sosial sebagai sarana komunikasi tentunya tergantung masing-masing pribadi kalau mengunakannya dengan tepat dan efektif akan membantu, tapi kalau hanya sekedar untuk senang-senang tentu akan tidak bermanfaat, mengingat keterbatasan jumlah penyuluh dalam satu kecamatan,”katanya.
“Kendala budidaya organik dalam lahan yang tidak menyeluruh akan berdampak pada sulitnya perawatan terutama karena terkontaminasi dari lahan lain yang tidak menggunakan sistem organik, rumput, hama tanaman yang terbawa angin, ketahanan tanaman organik, merupakan permasalahan umum apabila tidak dikembangkan dalam satu kawasan secara bersama-sama, hal ini dikarenakan dalam budidaya organik tidak mengunakan pestisida kimia untuk menanggulanginya,”tambahnya.
BACA JUGA:
Menurut Andik,”apabila lahan yang lain mengunakan pestisida kimia otomatis ketahanan hamanya apabila menyerang tanaman organik akan lebih tahan, jika penyemprotan dengan bahan organik tidak akan mati, meskipun sudah dibuat border atau pembatas tanaman, banyak kendala tapi bagaimanapun juga kita mengejar sesuatu yang lebih sehat memang di awal sulit,”imbuhnya.
Budidaya organik biasanya akan terintegrasi dengan kolam air sebagai sarana pengolahan air, hal ini juga bisa dimanfaatkan untuk budidaya pembesaran ikan, kandang ternak kambing juga sangat pendukung dalam satu paket untuk pemanfaatan kotorannya sebagai pupuk kandang.
Produktivitas yang tinggi tentu sangat tergantung dari peran petani, apabila merasa tertarik tentu akan budidaya secara berkelanjutan karena sudah didukung dengan sarana yang memadahi, sebaliknya juga apabila tidak bisa memanfaatkan tentu akan terbengkalai begitu saja, hal ini tentu sangat disayangkan.
Andik berharap, “anggotanya taruna tani yang masih muda-muda untuk konsisten mengingat kesibukannya masing-masing yang tidak bisa ditentukan, kalau memang tidak ada keperluan secara bergantian bisa dijadwal supaya bisa bekerjasama dengan baik karena ini masih awal-awal penyesuaian dengan kesibukan yang lama dengan kesibukan yang baru,”ungkapnya.

“Permasalahan persaingan harga tidak menjadi masalah karena biaya organik lebih murah, sedangkan harga sudah ditentukan mengunakan sistem kemitraan, jadi meskipun harga dipasaran turun tidak akan mempengaruhi sebab sudah disepakati dari awal, sedangkan pendapatannya tergantung kualitas kalau produksi lebih baik tentu hasilnya akan menguntungkan,”tambahnya.
Penggunaan green house akan meningkatkan tingkat keberhasilannya bila dibandingkan dengan sistem konvensional, penambahan luas Kawasan juga akan meminimalisir hama dalam budidayanya.
Andik menyarankan, “sebenarnya solusinya cuma satu kita harus bisa merubah pemikiran masyarakat tentang tanaman organik, kalau dulu penyuluh bekerja memberikan pemahaman tentang penggunaan pestisida kimia, sekarang kita rubah kembali ke organik itu yang sulit, kita harus mampu memberikan buktinya bahwa organik itu menghasilkan, bagaimana kita bisa memproduksi tanaman yang sama bagusnya dengan yang konvensional kalau tidak ada bukti tentu tidak akan percaya,”ungkapnya.
Kendala tenaga kerja yang menanam menuntut kesadaran, kalau tenaga kerja cuma sendiri saja tidak bisa karena di sini milik bersama, kalau cuma mengandalkan 1 orang yang bersemangat kasihan sendirian jadinya, semua akan tergantung masing-masing saja karena tidak bisa menekankan satu orang, tidak bisa memaksa kecuali di lahan milik pribadi.
Merubah pemahaman budidaya organik tidak akan bisa panen merupakan hal yang terus dilakukan menjadi pemahaman yang positif, tentunya perlu dukungan dari masyarakat dalam satu kawasan agar mereka mau bersama-sama bekerjasama budidaya organik untuk meminimalisir hama dan meningkatkan kwalitas produksi petanian organik.
===
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/