Thursday, 23 September 2021


Soedjai Kartasasmita: Sinar Tani bagian Sejarah Pertanian Indonesia  

02 Sep 2021, 10:16 WIBEditor : Yulianto

Soedjai Kartasasmita, Komisaris Utama Tabloid Sinar Tani | Sumber Foto:Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tabloid Sinar Tani memasuki usia 51 tahun. Di usia golden age anniversery ini, Sinar Tani bukan hanya menengok ke belakang, tapi juga menatap ke depan, karena menjadi bagian dalam sejarah pertanian Indonesia.

“Karena itu, seperti saya membangun Museum Perkebunan, Sinar Tani juga harus berprinsif Connecting the fast to the future, menghubungkan masa lalu dengan masa depan,” kata Komisaris Utama PT. Duta Karya Swasta penerbit Tabloid Sinar Tani, Soedjai Kartasasmita.

Dengan prinsif tersebut, punggawa perkebunan ini berharap, ke depan Tabloid Sinar Tani juga bisa mencari jalan keluar dalam menghadapi kendala. Sebagai media massa, menurut Soedjai, Sinar Tani telah melalui jalan panjang. Didirikan Menteri Pertanian, Prof. Toyib Hadiwinata dibantu Sekjen Kementerian Pertani.

“Saya tahu benar, bagaimana melahirkan Sinar Tani. Indonesia saat itu sangat sulit, apalagi situasi dalam penyediaan pangan. Bahkan saat itu kita sampai makan bulgur yang diimpor dari Amerika. Bulgur itu pakan ternak, Jadi saat itu saat mendapat hidangan bukan nasi, tapi pakan ternak. Itulah ,” tuturnya.

Untuk membangkitkan pertanian, pemerintah membuat proyek Bimas. Lalu, Toyib Hadiwinata mendirikan Tabloid Sinar Jaya yang kemudian berganti Sinar Tani sebagai bahan penyuluhan pertanian. “Dengan upaya mahasiswa, petani dan pejabat, Indonesia bangkit kembali, Bahkan tahun 1985 mendapat penghargaan dari FAO. Itulah zaman keemasan Sinar Tani,” katanya.

Saat krisis ekonomi Asia, Sinar Tani terkena dampaknya. Bahkan sempat ada keinginan melepas ke swasta. Namun keadaan kemudian kembali berubah, Sinar Tani kembali bangkit kembali. Apalagi kemudian saat Babinsa juga berlangganan Sinar Tani.

Tapi saat pandemi Covid-19, Sinar Tani kembali terkena dampaknya. Karena itu, ke depan Sinar Tani harus bisa membuat strategi untuk bangkit kembali. Soedjai mengakui, seperti dunia bisnis lainnya, Sinar Tani sempat mengalami masa kejayaan dan juga kemunduran.

Meski banyak perkembangan baru, jangan lupa sejarahnya. Dalam situasi apa  pun, kita dukungan langkah Kementerian Pertanian, khususnya penyuluhan. Terutama dalam memberikan informasi maju bidang teknologi,” katanya.

Belajar dari Malaysia, menurut Soedjai, ke depan pertanian Indonesia harus memanfaatkan teknologi 4.0 untuk memajukan pertanian, khususnya tanaman pangan. Dengan menggunakan sensor tiap hari, data bisa masuk tiap hari dalam big data. “data yang lengkap bisa membuat strategi yang tepat,” ujarnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018