Saturday, 29 January 2022


Hariadi SP, Geliatkan Korporasi di Petani Kopi Toraja

10 Jan 2022, 11:30 WIBEditor : Gesha

Hariadi bersama petani Kopi di Toraja | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Berada di kawasan tinggi yang letaknya 8 jam perjalanan dari Makassar, Sulawesi Selatan, Kabupaten Tana Toraja wilayah yang sangat subur, sehingga banyak tanaman kopi yang tumbuh disini. Untuk memperkuat posisi tawar petani kopi, seorang penyuluh kreatif bernama Hariadi menggeliatkan korporasi petani.

Kopi Toraja merupakan salah satu jenis kopi yang memiliki cita rasa dan aroma khas yang tidak dimiliki kopi lain. Hal ini karena pengaruh iklim dan ketinggian wilayah Toraja. Karena kekhasan ini, ada beberapa petani yang melihat peluang untuk menjual biji kopi hasil sortasi. Kopi ini kerap disebut kopi jantan (di Jawa dikenal dengan nama kopi Lanang). Kopi berbiji satu ini dipercaya memiliki rasa dan aroma yang lebih kuat dibandingkan kopi arabika secara umum.

Kopi jantan merupakan kopi hasil sortasi yang sangat istimewa. Dapat diketahui jika dilakukan pemeriksaan atau pengecekan secara manual. Biji kopi harus dipilih terlebih dahulu, lalu daging buahnya dikupas dan hanya berbiji satu. Ciri khas dari kopi jantan atau lanang atau peaberry coffee adalah berbiji tunggal yang dihasilkan dari pembuahan yang tidak normal. Jumlah kopi jantan sangat terbatas. Pada satu pohon hanya ada sekitar 3­5 persen.

Karena cukup sulit memperolehnya dalam jumlah banyak, menjadikan salah satu penyebab kopi jantan bernilai ekonomis tinggi. Karena itu kopi jantan sangat menjanjikan bagi petani. Berdasarkan informasi dari salah satu petani kopi jantan Toraja, harga roasted bean Rp 50 ribu per 150 gram atau sekitar Rp 300­-350 ribu/ kg roasted bean kopi jantan Toraja jenis Arabika.

Melihat peluang ini seorang Penyuluh Pertanian dari BPP Gandangbatu Sillanan bernama Hariadi berpikir agar petani kopi Toraja bersatu membentuk korporasi kopi terpadu. Salah satu upaya Hariadi adalah dengan membentuk UMKM Kopi 1000 Nurhidayah. UMKM ini menjadi unit produksi kopi yang memberdayakan dan mengarahkan petani menjadi pelaku industri. Ketika pelaku industri adalah petani itu sendiri, menurut Hariadi, keahlian petani bisa bertambah.

Apalagi dengan adanya pelatihan, khususnya terkait pengelolaan usaha kopi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani. “Hal ini dapat memicu petani untuk selalu ingin menghasilkan dan memberikan produk yang terbaik bagi konsumen, sehingga apa yang diinginkan petani dapat tercapai dengan lebih baik,” katanya.

Melalui produksi bersama dalam korporasi yang didukung dari kolaborasi Pemda, Pemerintah Provinsi dan Pusat serta stakeholder lain yang konsen terhadap petani kopi, Hariadi yakin petani kopi bisa mencapai pasar ekspor. Hariadi berharap, dengan UMKM Kopi 1000 Nurhidayah, petani mampu bekerjasama memaksimalkan hasil produksi kopi dan mendapatkan keuntungan yang maksimal juga.

Dengan demikian, petani selalu berusaha meningkatkan produksi dan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Menurutnya, petani yang bergabung dalam UMKM Kopi 1000 Nurhidayah memiliki potensi menghasilkan produksi terbaik berupa biji kopi green bean yang sesuai standar yang telah ditetapkan. Tentu saja dapat membantu usaha kopi jantan Toraja karena akan dicari konsumennya.

Penyuluh Berprestasi

Berkat pendampingannya dan rintisan korporasi petani kopi ini, di penghujung tahun 2021 Hariadi mendapatkan predikat Penyuluh Berprestasi 2021 dalam Apresiasi Sumberdaya Manusia Pertanian 2021 dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. Hariadi mengaku masih banyak pembelajaran yang dirinya harus tekuni untuk menyelesaikan permasalahan dan pendampingan petani kopi di daerahnya. Salah satunya meningkatkan produktivitas hasil budidaya kopi tersebut.

Untuk itu, BPP Gandangbatu Sillanan melakukan pendampingan dan pengawalan pelaksanaan teknologi budidaya kopi yang intensif di lahan petani. Selama ini masyarakat lebih menggunakan varietas lokal Toraya Langda yang ada di Lembang Perindingan. Pohon induk kopi Toraya Langda telah berumur sekitar 40 tahun dan dimiliki Markus Tammu anggota kelompok tani Masarang, lembang Perindingan Kec. Gandangbatu Sillanan. Daerah tersebut merupakan wilayah kerja BPP Gandangbatu Sillanan.

Karena itu, pengembangannya mulai dari pembibitan sampai tanaman produksi, penyuluh pertanian BPP Gandangbatu Sillanan perlu mendampingi petani di lapang. Saat ini Dinas Pertanian membuat program Pengembangan kopi Arabika Varietas Lokal Toraja dengan mengidentifikasi beberapa kopi Arabika yang sudah berumur tua, langka dan hanya tumbuh di daerah tertentu di Tana Toraja. Keberadaannya hanya didapat dari penelusuran sejarah petani kopi. 

Hasil identifikasi lapangan terdapat tiga varietas kopi Arabika yang saat ini dalam proses pelepasan varietas baru. Kopi Arabika tersebut yaitu Varietas Toraya Langda, Varietas Toraya Uluway dan Varietas Toraya Pango­pango. Pendampingan ini menurut Hariadi, penting sebab kopi toraja merupakan tanaman dengan harga jual yang tinggi.

Kopi ini dapat memberikan keuntungan jika dikelola dengan baik dan benar. Kopi Toraja memiliki bentuk biji yang lebih kecil, lebih mengkilap dan licin pada kulit bijinya. Meskipun memiliki cita rasa asam dan juga pahit, kopi Toraja memiliki aroma wangi yang khas. Menurut ahli kopi, aroma itulah yang menjadikan kopi Toraja berbeda dengan karakteristiknya yang unik dan jarang ditemukan

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018