Tuesday, 17 May 2022


Era Digital, Ubah Paradigma Penyuluhan Pertanian  

26 Jan 2022, 13:39 WIBEditor : Yulianto

Ngobrol Asik Penyuluh Pertanian | Sumber Foto:Humas BPPSDMP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perkembangan Iptek di Indonesia terbilang cukup pesat, terutama dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Karena itu agar penyuluh tidak tertinggal zaman, paradigma penyuluh pertanian perlu berubah.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan, perkembangan Iptek di Indonesia cukup pesat, terutama dalam bidang TIK dalam lima tahun terakhir. 10 tahun lalu kita tidak pernah membayangakan, bertemu dalam virtual. Tapi sekarang menjadi kenyataan. Ini perkembangan luar biasa,” katanya dalam acara Ngobras (Ngobrol Asik) Penyuluhan di Jakarta, Rabu (26/1).

Menurut Dedi, jika dulu mungkin penyuluh pertanian hanya bicara masalah on farm, maka kini pertanian tidak hanya budidaya (on farm), tapi juga di hilir dari mulai pemasaran, distribusi dan packaging. Belum juga institusi pendukung produksi, seperti penyuluhan dan permodalan dari perbankan.

Dedi mengingatkan, dengan perkembangan ilmu teknologi penyuluh harus melek dan paham smart farming yang memanfaatkan teknologi, termasuk internet of think. Paradigma penyuluh harus berubah dan bertransformasi. Kalau dulu penyuluh hanya laku susi, kini harus disempurnakan,” katanya.

Bagi Dedi, prinsif dasar penyuluhan menjadi penting. Untuk itu, penyuluh pertanian harus menguasai prinsif dasar penyuluhan. Metode boleh berubah, tapi prinsif dasar harus tetap ada,” tegasnya.

Pendidikan Non Formal

Sementara itu, Dosen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Momon Rusmono mengakui, peran penyuluhan sangat penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Kondisi SDM petani yang terbilang masih rendah, baik pendidikan maupun keterampilannya, dapat diselesaikan oleh penyuluh pertanian.

Penyuluhan menurutnya, merupakan pendidikan no formal dan masif yang melibatkan petani dalam jumlah banyak. Hitungannya, dengan anggaran yang sama, penyuluhan akan mendapatkan sasaran lebih banyak dari pendidikan dan pelatihan.

“Dengan anggaran yang sama sasaran penyuluhan bisa lebih banyak. Jika satu penyuluh memegang 8 kelompok tani, maka jumlahnya bisa mencapai 240 petani. Jadi dengan anggaran tidak terlalu besar, peran penyuluh luar biasa,” tutur mantan Sekjen Kementerian Pertanian itu.

Momon mengaku, dinamika lingkungan yang terjadi saat ini mesti disikapi. UU No, 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah membuat kelembagaan penyuluhan di kabupaten/kota tidak ada. Dampaknya, anggaran penyuluh juga menurun.

Saya melihat perlu ada terobosan. Dengan kehadiran revolusi 4.0, penyuluh pun harus memanfaatkan TIK.  Tidak mungkin pertanian berhasil tanpa Iptek, begitu juga penyuluhnya,” katanya.

Begitu juga di tingkat kecamatan, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) juga harus berbasis TIK, bahkan diwujudkan secara nasional. Untuk menyediakan infrastruktur TIK, termasuk jaringan, Kementerian Pertanian dapat berkoordinasi dengan Menkominfo.

Sementara itu Dewan Pembina Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani), Mulyono Machmur mengatakan, pembangunan pertanian di era 4.0, sistem penyuluhan pertanian harus dibenahi sesuai tuntutan.  “Mau tidak mau, suka tidak suka, penyuluhan harus ke arah sana (revolusi 4.0,red),” ujarnya.

Untuk membangkitkan penyuluhan pertanian, menurut Mulyono, memang paradigma harus berubah. Perubahan paradigma diperlukan untuk mampu merespon tantangan-tantangan baru yang muncul dari situasi baru ini.

Namun demikian, pimpinan perusahaan Tabloid Sinar Tani ini mengingatkan, tidak mengubah falsafat penyuluhan. “Paradigma penyuluhan pertanian akan berubah sesuai perkembangan situasi, akan tetapi tidak mengubah falsafah dan prinsip-prinsip dasar penyuluhan pertanian,” tegasnya.

Dalam pengembangan penyuluhan pertanian diperlukan adanya landasan falsafah yang pasti dan jelas. Falsafah akan membawa pada suatu pemahaman yang mendasari atau menjadi landasan melaksanakan kegiatan yang lebih layak untuk mendapatkan hasil yang prima.

Bagi Sahabat Petani yang ingin mendapatkan Materi bisa diunduh di Link di bawah ini.

MATERI NGOBRAS: TRANSFORMASI SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN ERA TIK

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018