Wednesday, 21 October 2026


Kunjungi AWR Kementan, Wapres Ma'ruf Amin Menyapa Petani dan Penyuluh

08 Mar 2022, 12:55 WIBEditor : Gesha

Wakil Presiden RI, Ma

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Pertanian, Selasa (08/03). Didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Wapres Ma'ruf melihat langsung Agriculture War Room (AWR) sekaligus menyapa petani dan penyuluh di Tanah Air secara virtual. 

"AWR ini menjadi basis data dan komando pembangunan Pertanian diseluruh Tanah Air. AWR terhubung dengan semua Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kostratani di seluruh kecamatan Indonesia, " beber Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi menerangkan fungsi dan peranan AWR Kementerian Pertanian. 

Hingga saat ini, Prof Dedi melanjutkan, ada 5.996 BPP Kostratani yang sudah terhubung dengan AWR. Tak hanya BPP, Kantor Dinas Pertanian Kab/Kota (Kostrada) bahkan Kantor Dinas Pertanian Provinsi (Kostrawil) berserta kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lingkup Kementan juga terhubung dengan AWR. 

AWR Kementan juga menjadi pusat pelatihan serta penyuluhan untuk penyuluh, petani milenial hingga level kecamatan. "AWR juga menjadi tempat membangun kerjasama dengan seluruh stakeholder pertanian. Monitoring permasalahan seputar pertanian juga dilakukan di AWR. Jadi, AWR ini manfaatnya luar biasa bagi pembangunan pertanian kita," tegas Prof Dedi. 

Prof Dedi juga memaparkan beberapa data standing corp pertanaman padi, serapan pupuk dan sebagainya yang terlihat real time dalam basis data AWR. 

Wapres Ma'ruf kemudian menyapa petani dan penyuluh yang berada di lapangan langsung dari ruangan AWR. Salah satunya, petani Cabai dan penyuluhnya dari Sumedang. 

"Pertanaman cabai di Sumedang, aman sampai Agustus nanti pak Wapres. Cabai keriting 711 ton, cabe besar 116 ton, cabai rawit 514 ton. Disini dijual ke Bandung dan Jakarta. Kalau panen raya bisa dijual sampai Palembang. Di Sumedang, sentranya ada di Kecamatan Pamulihan, Cimanggung, Tanjungsari, Sukasri dan Wadog," beber Kordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Sumedang, Aceng. 

Petani sendiri, menurut Aceng berharap agar cabai tidak turun lagi harganya meskipun panen raya. "Sekarang sih harganya sedang stabil. Cabai Rawit, Rp 50 ribu/kg, Cabai Keriting Rp 30 ribu/kg, Cabai Merah besar Rp 32 ribu/kg, " tambah Aceng. 

Wapres Ma'ruf menanyakan permasalahan pasokan kedelai untuk pabrikan tahu di Sumedang. Aceng mengaku pengrajin tahu Sumedang, biasa menggunakan kedelai campuran (yang impor dan lokal) untuk menghasilkan citarasa tahu Sumedang yang selama ini dikenal. "Harga memang naik jadi Rp 1.000 per tahu. Tapi rasa masih tetap sama," tuturnya. 

Peternak sapi asal Lamongan yang juga Ketua Kelompok Tani- Ternak Gunung Rejo, Suparto pun berkesempatan berbicara langsung dengan Wapres Ma'ruf. "Sampai saat ini sudah ada 358 ekor sapi dan 150 ekor siap dipotong untuk pasokan daging Idul Fitri ini, dengan bobot 500-600 kg per ekor, " tuturnya. 

Diakui Suparto, semua sapi yang diternakkannya bersama warga merupakan sapi lokal dengan inseminasi buatan. "Dari Dinas Peternakan Jawa Timur selalu menggalakkan Inseminasi Buatan untuk reproduksi sapi. Sehingga hingga saat ini, produksi sapi di Jawa Timur masih bisa memenuhi kebutuhan lokal, " tuturnya. 

Suparto sendiri curhat mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengembangan usaha sapi potong ini. Diakuinya KUR Rp 500 juta hanya cukup beberapa ekor saja, belum untuk kandang, pakan dan lainnya. 

"Usaha sapi potong ini modalnya memang harus padat, misalnya 1 ekor Rp 20 juta, kalau mau 10 jadinya butuh Rp 200 juta. Sedangkan, 1 orang butuh 25 ekor minimal untuk bisa berjalan bisnis usaha sapi potongnya. Minta dipermudah lagi untuk KUR peternaknya, " pintanya. 

Petani Milenial

Dalam kesempatan tersebut juga, Wapres Ma'ruf menyapa salah satu sosok petani milenial Tanah Air, Sandi Octa Susila. "Kami mengelola hortikultura dan bekerjasama dengan 385 petani yang ada di Kabupaten Cianjur. Kami juga dipercaya untuk mengelola HGU 94 hektar PTPN VIII dan 15 hektar tambahannya dengan sistem integrated farming peternakan dengan hortikultura, " tuturnya. 

Sandi juga bercerita tentang pembentukan Duta Petani Milenial - Duta Petani Andalan yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. "Kami ada 2.234 champion DPM/DPA dari 34 provinsi. Support ke modern market dan petani setempat diajak kerjasama, " tambahnya. 

Hingga sekarang, DPM/DPA ini tengah melakukan resonansi terus menerus kepada 98.000 petani milenial yang ada di Indonesia. Dukungan pemerintah daerah pun dirasakan dan saling terkoneksi satu dengan yang lain. 

Sandi sendiri sempat curhat mengenai harga pupuk non subsidi yang terus menerus naik, namun di sisi lain pupuk subsidi kuotanya sangat terbatas. "Bagi petani yang hanya mengandalkan pasar konvensional, bukan contract farming, pakai pupuk non subsidi mereka jujur kesulitan dengan harga yang terus naik, " tegasnya. 

Wapres Ma'ruf mengakui kiprah petani milenial seperti Sandi Octa sangat luar biasa menggerakkan perekonomian masyarakat. Sekaligus membuktikan bahwa dengan bertani, milenial bisa merasakan omzet yang luar biasa. "Sandi ini bisa menghasilkan omzet lebih dari Rp 1 Milyar per bulan, " sebutnya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018