
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo secara simbolis memberikan syal Merah Putih kepada Peserta Magang Jepang
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) kembali menyalurkan 53 orang petani muda Indonesia ke Negeri Sakura, Jepang untuk tahun 2022 ini untuk magang di sentra pertanian selama 1 tahun.
Kementerian Pertanian terus mengupayakan lahirnya petani muda. Keseriusan untuk mencetak regenerasi petani ini diwujudkan salah satunya Magang bagi pemuda tani ke Jepang. Program ini memberikan kesempatan bagi petani muda Indonesia. Belajar tentang tata kelola pertanian yang maju, mandiri dan modern di Jepang agar bisa diterapkan di Tanah Air.
Program magang Jepang ini merupakan kerjasama antara Kementerian Pertanian RI melalui BPPSDMP dengan Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries/MAFF) melalui Association Organization yang terdiri dari Japan Agriculture Exchange Council (JAEC), Niigata Agriculture Exchange Council (NAEC), International Agricultural Exchange Council (IAEA) Gunma dan Ibaraki Chuo Engei (ICE).
Program magang ke Negeri Sakura ini dirancang sejak tahun 1984 dan tercatat hingga tahun 2019, sudah ada 1.384 orang pemuda tani yang magang. Namun di tahun 2020, program magang ini sempat terhenti karena COVID-19. Dan tahun 2021 mulai dirintis kembali dengan mengirimkan 10 orang pemuda tani ke Jepang
Di tahun 2022 kali ini, Kementerian Pertanian mengirimkan 53 orang pemuda tani yang akan ditempatkan pada 4 Accepting Organization di Jepang antara lain Japan Agriculture Exchange Council (JAEC) 17 orang, Niigata Agriculture Exchange Council (NAEC) 5 orang, International Agricultural Exchange Council (IAEA) Gunma 27 orang dan Ibaraki Chuo Engei (ICE) sebanyak 3 orang.
Pengiriman petani muda ini dilakukan secara bergelombang mulai Gelombang 1 (berangkat 20 April 2022 sebanyak 3 orang), Gelombang 2 (berangkat 21 April 2022 sebanyak 7 orang), Gelombang 3 (berangkat 22 April sebanyak 38 orang) dan Gelombang 4 (berangkat Mei sebanyak 5 orang).
Chairman International Exchange Association, Mr. Hiroyuki Fukai mengatakan sejak awal tahun 2022, pemerintah Jepang terus mendorong agar program pelatihan (magang) segera kembali dilakukan. "Program sangat unik karena tidak hanya pelajari teknik pertanian tetapi ide bisnis, budaya dan teknologi yang berbeda. Jadi ini kesempatan yang istimewa bagi peserta, " tuturnya.
Program magang ini juga diapresiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia yang berada di Jepang. Diwakili oleh Atase Kehutanan (Athut) Muhammad Zahrul Muttaqin, KBRI di Jepang, Dr. Zahrul Muttaqien mengatakan, KBRI mengucapkan selamat datang kepada duta petani Indonesia semoga bisa memanfatkan kesempatan untuk tingkatkan keterampilan dan jejaring mendukung pertanian Indonesia masa depan.
Seperti diketahui hubungan bilateral Indonesia-Jepang sangat erat dan mutualisme. Meskipun terkenal sebagai negara maju, sektor pertanian di Jepang berfungsi sebagai penyedia lapangan kerja, perkenalkan teknologi alsintan, solusi pertanian massal dan penggunaan ramah lingkungan. "Rumah Tangga petani di Jepang terus menurun, inilah yang menjadi alasan mendatangkan tenaga muda untuk magang. Kita juga perlu mendorong untuk tenaga kerja terampil serta pertukaran teknologi pertanian, " tuturnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi target kita bisa belajar dengan sebaik baiknya mengelola onfarm khususnya komoditas hortikultura dan peternakan. Begitupula dalam pengelolaan offarm mulai dari processing, pengemasan dan pemasarannya. Kita semua berharap agar peserta bisa belajar sebaik-baiknya dan mempraktekkan apa yang terjadi di Jepang dan bisa menjadi petani pengusaha milenial yang handal.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pun datang memberikan motivasi bagi peserta magang yang akan berangkat. "Belajar (bisa) dari jenjang pendidikan, namun belajar dari pengalaman, kehidupan sehari-hari bisa menjadi luar biasa dan langsung melekat karena sudah praktik, " tuturnya.
Apalagi, belajar tentang pangan. Menurutnya, pangan hingga sampai kapanpun menjadi penting dalam standar proses kesejahteraan. Dari pangan menjadi makanan untuk hidup, kesehatan, industri, bahkan lapangan kerja. "Belajar langsung ke Jepang menjadi keistimewaan karena mereka sangat gigih, kuat dan kokoh serta penuh semangat, " tegasnya.
Di mata Syahrul Yasin Limpo, dengan total lahan pertanian yang hanya 25 persen dari seluruh lahan disana, mampu menghasilkan dan memberikan makan bagi seluruh rakyat Jepang bahkan mampu ekspor luar biasa. "Ilmu, pengalaman, etos kerja, teknologi bisa diterapkan di Tanah Air, " sebutnya. (Cha/BPPSDMP)