Wahyu Tulus Nugroho Bersama Anggota Gapoktan Beji Makmur
TABLOIDSINARTANI.COM, Wonogiri --- Keuletan dan kerja keras Penyuluh Pertanian BPP Nguntoronadi, Wahyu Tulus Nugroho bersama petani yang tergabung dalam Gapoktan Beji Makmur berbuah manis. Pasalnya, sudah lima tahun belakangan komoditas pertanian organik berupa buah-buahan, sayuran dan empon-empon dikirim ke Jerman.
Wahyu Tulus Nugroho adalah satu dari ribuan penyuluh pertanian yang tidak pernah lelah membantu para petani melakukan kegiatan pertanian. Pada tahun 2008, Wahyu mendapat tugas di wilayah kerja Desa Semin.
Kondisi desa yang terisolir dengan topografi perbukitan dan tanah yang tak begitu subur menjadikan desa ini termasuk salah satu desa tertinggal di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Rendahnya produktivitas dan posisi tawar petani terhadap hasil panen serta kesuburan tanah yang semakin menurun sangat dirasakan petani.
Keprihatinan tersebut dibawa Wahyu dalam setiap pertemuan dengan kelompok tani, kelompok wanita tani (KWT), kelompok pemuda tani, juga pada setiap kesempatan bertemu petani. Sehingga diputuskan untuk mencari solusi dengan belajar bersama menerapkan teknologi pertanian organik.
Diungkapkan Wahyu, komoditi yang dipilih pertama adalah buah naga dengan pertimbangan buah naga dapat ditanam di tanah kering baik di lahan pategalan maupun di pekarangan petani serta pemasaran yang tidak sulit.
“Perlu waktu panjang untuk belajar bersama menjadikan budidaya pertanian organik,” ungkapnya.
Pada tahun 2014 wilayah kerja Wahyu ditambah ke desa tetangga yaitu desa Beji. Berbekal pengalaman di desa Semin, pola belajar bersama menuju pertanian organik di bawa ditularkan didesa tersebut.
Dengan kondisi dan situasi desa yang sangat mendukung untuk pertanian organik, membuat Wahyu mulai mengembangkan komoditas lain selain buah naga seperti padi, kacang tanah, kacang hijau dan kedelai.
Dengan perkembangan pertanian organik di desa Beji yang semakin pesat, kolaborasi dan kerjasama antar warga juga semakin meningkat. Hal tersebut bisa terlihat dari kerjasama antara Kelompok Tani “Beji Makmur” dan KWT “Pelangi” di desa Beji.
“Kelompok tani melaksanakan kegiatan pra panen sampai bentuk hasil yang berkualitas sedangkan KWT “Pelangi” menangani grading, pengemasan, branding dan pemasaran,” ungkapnya.
Keuletan dan kerja keras masyarakat desa Beji dalam membangun pertanian organik tidak sia-sia. Pada tahun 2016, sertifikasi Pertanian Organik Penuh tingkat Nasional pertama diperoleh dari Lembaga Sertifikasi Oleson.
Tidak sampai disitu, pada tahun 2018 produk buah naga Gapoktan “Beji Makmur” menarik perhatian PT.Mega Inovasi Organik (MIO) dari Jakarta. Dan melahirkan sebuah kerjasama antara Gapoktan Beji Makmur dengan PT Mega Inovasi Organik .
Dalam MoU tersebut PT MIO akan menuntun Gapoktan untuk menghasilkan buah dan sayur organik, dan memfasilitasi sertifikasi organik berstandar internasional. Gapoktan “Beji Makmur” yang akan melaksanakan usaha tani untuk menghasilkan buah dan sayur organik tersebut.
Hingga saat ini Gapoktan Beji Makmur sudah memegang 27 sertifikat buah dan sayur organik tingkat internasional. Beberapa jenis buah diantaranya buah naga merah dan putih, 3 jenis mangga yaitu manga arumanis, manga apel dan manga keong serta 12 jenis sayuran dan juga ada beberapa jenis empon-empon.
“Mangga keong adalah manga lokal yang tidak disukai disini, justru laku di mancanegara,” ungkapnya.
Semua produk yang dibeli PT MIO akan diekspor ke Jerman. Pembelian oleh PT MIO dilaksanakan disepanjang musim buah, dan setiap ada permintaan dari pasar Jerman.
“Untuk buah naga, mekanisme pengiriman dilakukan setiap minggu. Hari Senin laporan estimasi panen, hari Rabu sudah ada order pembelian, hari Kamis petik. Pemetikan dilakukan oleh Tim petik untuk menjaga kualitas buah. Kamis malam buah naga sudah dikirim,” tambahnya.
Menurut Wahyu, sekarang keanggotaan Gapoktan Beji Makmur”sudah berkembang melampaui wilayah administrasi desa. Sudah ada 277 petani dari 8 desa di 5 Kecamatan sekitar yang bergabung.
Setiap minggu selalu ada buah naga yang dikirim ke eksportir. Pada tahun 2020 tercatat antara 4 sampai 4,5 ton buah naga organik yang terjual, sedangkan buah, sayur dan empon-empon organik lainnya mencapai 3 sampai 3,5 ton.
“Sebagai gambaran, harga buah naga ditingkat petani oleh bakul setempat hanya dibeli seharga Rp 8.000,- per kg. Bila buah naga berkualitas bagus, oleh Gapoktan dibeli dengan harga Rp 16.000,- sampai Rp 18.000,- per kg. Disamping itu Gapoktan juga menyerap tenaga masyarakat untuk pekerjaan petik buah, grading dan pengemasan,” ujarnya
Prestasi Gapoktan Beji Makmur memang patut dibanggakan, namun masih banyak yang harus terus dilakukan untuk meningkatkan budidaya dan pemasaran pertanian organik disana.
Salah satunya belum ada rumah kemas sendiri, dimana rumah kemasan bersertifikat resmi yang ada saat ini adalah pinjaman dari salah satu ruangan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Nguntoronadi di Beji.
“Selain itu pembelian buah baru dilakukan pada musim buah, yaitu antara bulan September–Oktober dan Maret–April. Alangkah bagusnya bila Gapoktan dapat menjual buah naga dan yang lain setiap minggu sepanjang tahun,” ungkapnya.