Kamis, 09 Februari 2023


Catatan Seorang Penggagas P4S

08 Nov 2022, 03:04 WIBEditor : Yulianto

Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perjalanan panjang telah dilalui para pengelola P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya). Selain telah banyak membantu dalam membangun pertanian, tapi ada beberapa catatan untuk perbaikan.

Sebagai seorang  yang melahirkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 33 Tahun 2016 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Pelatihan Pertanian Swadaya, Muhammad Ridha Ismail melihat keberhasilan P4S itu berawal dari keberhasilan penyuluhan pertanian yang mempu menjadikan Indonesia swasembada beras tahun 1984.

“Petani ingin berbagi pengetahuan kepada petani lain melalui proses belajar sambil bekerja di usaha tani. Jadi filosofi utama P4S ini sebenarnya adalah berbagi sesama petani. Jadi membantu agar petani mampu menolong dirinya sendiri melalui proses belajar mengajar di usaha taninya,” kata Ridha.

Namun ada beberapa catatan dari Ridha dengan makin berkembangkan P4S. Pertama, sebagai pusat pelatihan dan ada proses belajar mengajar, P4S mengedepankan prinsip belajar melalui bekerja, bukan bekerja melalui belajar. “Jadi petani yang datang berlatih di P4S bisa belajar tapi juga mengerjakan sendiri,” katanya.

P4S memang berorientasi membangun perdesaan. Namun menurut Ridha, yang lebih penting bagaimana bukan petani diajak menggunakan teknologi maju dan modern dari pemerintah. Tapi juga memperhatikan teknologi temuan petani sebagai kearifan lokal.

Untuk swadaya dalam arti pengelolanya, Ridha mengatakan, harus memiliki kemampuan, kemandirian dan kreatifitas dalam membangun usaha tani. Jadi tidak bergantung pada bantuan pemerintah. “Pengalaman kami di balai mengalami kendala, terutama terkait pelatihan pertanian yang terpaksa haru dititipkan ke balai,” katanya.

Selain itu, menurut Ridha perlu dipikirkan P4S ini sebaiknya berbadan hukum atau tidak. Sebab hal ini terkait administrasi bila ada kegiatan dari pusat di P4S. Mengenai fasilitasi dan modul pelatihan, ia meminta pengelola P4S bisa menyiapkan agar pelatihan bisa berjalan efektif dan efisien.

Selanjutnya fasilitas instruktur. Ridha mengatakan, perlu diperjelas apakah dari penyuluh atau widyaiswara. Terkadang berbeda mengajar di balai dengan di P4S, karena objeknya berbeda. Jadi perlu ada pelatihan khusus untuk mempersiapkan instruktur atau praktisi di P4S ini. Ini sering menjadi kendala di lapangan,” katanya mengingatkan.  

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018