
Dari drone canggih sampai kecerdasan buatan, semua dibongkar tuntas! Seminar Nasional Dies Natalis ke-7 Polbangtan jadi panggung gebrakan teknologi pertanian masa depan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Dari drone canggih sampai kecerdasan buatan, semua dibongkar tuntas! Seminar Nasional Dies Natalis ke-7 Polbangtan jadi panggung gebrakan teknologi pertanian masa depan.
Dunia pertanian tak lagi soal cangkul dan lumpur semata. Di era digital ini, drone, AI, dan otomasi mesin justru jadi garda terdepan dalam mendongkrak produktivitas dan ketahanan pangan.
Pesan itu digaungkan keras dalam Seminar Nasional Dies Natalis ke-7 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Selasa (2/7/2025), yang digelar secara daring melalui Zoom.
Dengan tema “Peran Teknologi Pertanian dalam Mewujudkan Swasembada Pangan”, ratusan peserta dari berbagai latar belakang, akademisi, peneliti, penyuluh, praktisi hingga mahasiswa antusias mengikuti forum yang membedah habis masa depan pertanian modern.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto dalam sambutannya menekankan bahwa kampus vokasi pertanian ini berkomitmen menjadi pusat literasi teknologi dan inovasi.
Menurutnya, tantangan pertanian saat ini semakin kompleks, mulai dari keterbatasan lahan, perubahan iklim, hingga krisis regenerasi petani muda.
“Melalui forum ilmiah ini, Polbangtan ingin jadi bagian penting dalam mendorong pertanian maju, mandiri, dan modern. Teknologi adalah kunci," tegasnya.
Tiga keynote speaker kelas kakap dihadirkan untuk membuka wawasan peserta, antara lain:
Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc (Guru Besar UNILA) membahas pentingnya kebijakan pangan berbasis data dan digitalisasi dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan nasional.
Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., IPU (Guru Besar UGM) mengulas bagaimana mekanisasi dan otomatisasi pertanian bisa mengefisiensikan proses produksi dari hulu ke hilir.
Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt, MVPH., M.Si (IPB & Tim Pakar BGN) menyoroti integrasi teknologi dalam sektor peternakan, khususnya pada subsektor susu, sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan terpadu.
Diskusi dipandu oleh Ir. Syafaruddin, Ph.D, menghadirkan pertanyaan tajam dan masukan konstruktif dari peserta seantero Indonesia, dari Aceh sampai Papua.
Seminar ini menegaskan bahwa masa depan pertanian Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran teknologi canggih.
Mulai dari penggunaan drone untuk pemupukan dan pemantauan tanaman, traktor otonom (autonomous tractor) yang bisa membajak dan menanam tanpa perlu dikendalikan langsung oleh operator, hingga penerapan kecerdasan buatan (AI) dan machine learning untuk memprediksi cuaca serta mendeteksi potensi serangan hama dan penyakit tanaman.
Tak hanya itu, teknologi Internet of Things (IoT) juga telah dimanfaatkan untuk memantau kelembaban tanah, suhu, serta kadar nutrisi lahan secara real time.
Kehadiran semua teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi kerja petani secara signifikan, menekan biaya produksi hingga 30 sampai 50 persen, dan mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual yang kian sulit ditemukan.
Semangat “Polbangtan JAWARA” terus digaungkan. Bukan hanya jargon, tapi tekad nyata untuk mencetak SDM pertanian yang adaptif, inovatif, dan siap pakai.
Melalui seminar nasional ini, Polbangtan Bogor memperkuat perannya sebagai institusi vokasi strategis yang menjembatani kebutuhan dunia pertanian dengan dunia pendidikan.
“Kami ingin seminar ini jadi pemantik semangat generasi muda untuk tak ragu masuk dunia pertanian. Dunia ini sedang berubah, dan petani masa depan adalah mereka yang melek teknologi,” ujar Ismi Puji, Ketua Panitia.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Polbangtan Bogor. Dalam pesan tertulis, beliau menyebut bahwa pertanian modern adalah satu-satunya jalan untuk mencapai swasembada.
“Pertanian masa kini harus bersinergi antara inovasi teknologi, mekanisasi, dan SDM unggul. Polbangtan harus terus melahirkan pelopor-pelopor perubahan,” ujar Amran.
Senada dengan itu, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian sangat bergantung pada literasi teknologi di kalangan petani muda.
“Petani milenial harus jadi ujung tombak transformasi. Seminar ini ruang penting untuk berbagi pengetahuan, ide, dan membangun jejaring,” katanya.


