
Rencana penarikan penyuluh pertanian menjadi pegawai Kementan disambut antusias oleh Perhimpunan Penyuluh Pertanian (Perhiptani) Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Saat petani mulai menanam di musim Okmar 2025, penyuluh pertanian hadir jadi sahabat setia. Mereka kawal dari pemilihan benih hingga panen raya, demi stok pangan nasional yang aman.
Musim tanam Oktober–Maret (Okmar) 2025/2026 segera dimulai. Semua mata publik kini menoleh ke sawah, apakah benih cukup? apakah pupuk tersedia? apakah lahan benar-benar siap ditanami?
Namun, ada satu unsur krusial yang sering terabaikan: penyuluh pertanian.
Mereka adalah “kompas” yang membimbing petani agar tidak salah langkah dalam arus teknologi, regulasi, dan pasar yang kian cepat berubah.
Hal ini disampaikan Dr. Acep Hariri, S.St, M.Si, Ketua Kelompok Substansi Kelembagaan dan Pemberdayaan Petani, Pusat Penyuluhan Pertanian (BPPSDMP).
Menurutnya, swasembada pangan tidak cukup hanya mengandalkan bibit unggul dan pupuk subsidi.
Ada faktor manusia yang justru paling menentukan yakni penyuluh yang mendampingi petani dari perencanaan, tanam, hingga panen.
“Meskipun aturan menyebutkan penginputan data IRDK dilakukan petani, kenyataannya literasi teknologi masih terbatas. Karena itu penyuluh hadir, mendampingi, memastikan data akurat, dan kebutuhan input pertanian sesuai dengan fakta di lapangan,” ujar Acep Hariri dalam paparannya
Musim tanam Okmar 2025 punya bobot strategis. Kementerian Pertanian menargetkan percepatan swasembada pangan, sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Bagi Acep, penyuluh adalah garda depan di lapangan. Mereka bukan sekadar corong kebijakan, tapi problem solver yang memahami denyut nadi petani.
“Transformasi pertanian mencakup mekanisasi, penggunaan alsintan, pemetaan pupuk presisi, hingga drone pertanian. Penyuluh yang memastikan petani tidak mengeluarkan biaya berlebih untuk input yang tak perlu,” jelasnya.
Menghadapi musim tanam kali ini, penyuluh ditugaskan memainkan empat peran utama.
Mereka hadir sebagai fasilitator yang membuka akses petani terhadap benih, pupuk, hingga pasar.
Di saat yang sama, penyuluh juga berperan sebagai formulator yang membantu merumuskan solusi dari masalah teknis maupun kelembagaan yang dihadapi petani.
Lebih jauh, mereka menjadi inovator dengan memperkenalkan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.
Dan tak kalah penting, penyuluh berperan sebagai komunikator yang menyampaikan kebijakan serta regulasi dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami petani.
“Penyuluh adalah orang terdekat dengan petani. Informasi dari mereka lebih cepat diterima, lebih dipercaya, dan lebih dipraktikkan. Itu sebabnya peningkatan kapasitas penyuluh jadi sangat penting,” kata Acep.
Bentuk Pendampingan
BPPSDMP sendiri menyiapkan peta jalan pendampingan Okmar 2025. Pendekatan yang digunakan tidak hanya teknis, melainkan juga kelembagaan.
Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) diarahkan agar tidak berhenti di tahap belajar bersama, melainkan naik kelas menjadi motor ekonomi petani berbasis korporasi.
“Gapoktan jangan sekadar tempat kumpul. Mereka harus bisa kolektif membeli pupuk agar lebih murah, sekaligus menjalin kontrak dengan offtaker agar panen terserap. Penyuluh mendorong kelembagaan petani bergerak ke arah itu,” jelasnya.
Saat ini Indonesia memiliki lebih dari 34.000 penyuluh pertanian aktif.
Mereka tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari perbukitan Sumatra hingga pesisir Papua.
Agar kerja mereka lebih efektif, pemerintah menyiapkan fasilitas pendukung mulai dari kendaraan operasional hingga pelatihan tematik.
“Dengan mobilisasi yang lancar, penyuluh bisa bergerak cepat. Output akhirnya produktivitas meningkat, risiko gagal panen berkurang, dan swasembada pangan bisa tercapai,” ujar Acep menegaskan.
Menariknya, penyuluh juga mengikuti apel virtual setiap pagi pukul 07.30 WIB. Forum ini menjadi ajang komunikasi langsung antara pusat dan daerah.
Arahan terbaru soal pupuk, teknik tanam, pengendalian hama, hingga distribusi logistik dibahas tuntas. Informasi dari forum itu kemudian segera diturunkan penyuluh ke petani.
“Setiap pagi penyuluh wajib menyampaikan kebijakan yang harus dikawal. Konsistensi inilah yang menjaga ritme penyuluhan tetap kuat,” kata Acep.
Salah satu tantangan terbesar adalah keraguan petani terhadap inovasi baru. Untuk itu, penyuluh rutin membuat demplot (lahan percontohan).
“Kadang petani baru percaya setelah melihat hasilnya sendiri. Misalnya ketika teknologi pengendalian hama diterapkan, serangan tikus berkurang drastis. Setelah itu mereka baru mau mencoba,” ungkapnya.
Metode ini terbukti efektif. Dari satu petak demplot, praktik baik bisa menyebar ke puluhan hektare di sekitarnya.
Menurut Acep, target swasembada pangan bukan sekadar mengejar angka. Yang lebih penting adalah membangun pondasi agar swasembada berkelanjutan.
“Kita tidak ingin swasembada hanya sesaat. Harus berkelanjutan. Itu berarti petani harus sejahtera, kelembagaan mereka kuat, teknologi terintegrasi, dan penyuluh tetap menjadi mitra strategis,” pungkasnya.
Musim tanam Okmar 2025 adalah momen krusial. Dengan kombinasi benih unggul, pupuk presisi, lahan siap tanam, dan pendampingan penyuluh yang solid, cita-cita swasembada pangan Indonesia kian dekat di depan mata.
Di tengah ketidakpastian global, penyuluh hadir sebagai jangkar. Mereka bukan hanya penghubung antara kebijakan dan petani, tetapi juga motor penggerak transformasi pertanian menuju era modern yang lebih tangguh.