
Mentan, Andi Amran Sulaiman saat berdialog dengan Duta Petani Milenial di Gedung Kementerian Pertanian, Kamis (14/8)
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kementan dan HKTI bersinergi tingkatkan SDM pertanian lewat penyuluhan dan pendampingan intensif, dorong petani lebih profesional, mandiri, dan siap bersaing di pasar lokal maupun global.
Pemberdayaan petani Indonesia terus menjadi fokus utama Kementerian Pertanian (Kementan). Kali ini, program penyuluhan dan pendampingan petani digalakkan melalui sinergi dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pertanian (SDMP).
Program ini bertujuan agar petani memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mengelola usaha tani lebih efektif, efisien, dan berdaya saing tinggi.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi petani, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem pertanian yang modern dan mandiri.
“Penyuluhan dan pendampingan yang kami lakukan tidak hanya bersifat teori. Kami hadir langsung di lapangan untuk memberikan pendampingan teknis dan manajerial,” kata Idha, Selasa (16/12/2025).
Program ini menekankan penguatan lembaga penyuluhan pertanian di setiap desa, sehingga transfer ilmu dan praktik pertanian dapat terserap langsung oleh petani.
Selain itu, pendampingan dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari penanaman, perawatan, pascapanen, hingga pemasaran produk.
Hal ini bertujuan agar setiap langkah usaha tani sesuai standar, mengurangi kerugian, dan meningkatkan produktivitas.
Salah satu komponen penting dalam program ini adalah standarisasi materi penyuluhan.
Menurut Idha, setiap materi yang disampaikan harus sesuai standar pertanian yang berlaku.
“Kami melarang penyuluhan yang tidak sesuai, karena itu bisa merugikan petani. Setiap pelatihan harus berbasis pada praktik yang terbukti dan analisis kelayakan usaha,” jelasnya.
Standarisasi ini juga memastikan petani memahami tata cara budidaya, teknik pascapanen, serta strategi pemasaran produk yang benar.
Tidak hanya itu, Kementan melalui program ini juga menekankan penyediaan sarana dan prasarana pertanian. Hal ini termasuk pendampingan untuk penggunaan alat modern, input pertanian yang sesuai, hingga teknologi pengolahan pascapanen.
Tujuannya agar petani tidak hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas dan menghasilkan produk yang kompetitif di pasar.
Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) menjadi salah satu ujung tombak dalam program ini. P4S menyediakan pelatihan, pendampingan, hingga analisis kelayakan usaha bagi petani.
Berdasarkan data terbaru per 20 November 2025, terdapat 1.705 P4S aktif di seluruh Indonesia, dengan klasifikasi Pratama dan Madya.
Melalui P4S, petani diberikan bimbingan menyeluruh mulai dari teknik budidaya hingga manajemen keuangan usaha tani.
Idha menekankan bahwa pendampingan teknis saja tidak cukup. Pendampingan manajerial juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas SDMP.
“Kami membekali petani dengan kemampuan analisis usaha, perencanaan keuangan, hingga strategi pemasaran. Ini penting agar usaha tani bisa lebih mandiri dan berkelanjutan,” ujar Idha.
Kemitraan dengan pelaku usaha juga menjadi fokus utama. Melalui kerjasama ini, akses pasar untuk produk pertanian lebih terbuka.
Petani tidak lagi menghadapi kesulitan menjual produk karena sudah ada jalur distribusi dan dukungan pasar dari mitra usaha. Sinergi ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
HKTI, sebagai mitra strategis Kementan, juga memiliki peran penting dalam memonitor dan mengawal program ini di lapangan.
Dengan jaringan luas di seluruh Indonesia, HKTI mampu memastikan setiap desa memiliki lembaga penyuluhan yang aktif, serta petani mendapatkan pendampingan yang konsisten.
Kolaborasi ini diharapkan bisa menjawab tantangan pertanian modern, termasuk perubahan iklim, fluktuasi harga, dan kebutuhan teknologi pertanian terkini.
Program penyuluhan dan pendampingan ini tidak hanya menyasar petani senior, tetapi juga generasi muda.
Dengan keterlibatan anak muda, diharapkan muncul petani milenial yang melek teknologi, mampu mengaplikasikan inovasi pertanian, dan siap bersaing di pasar nasional maupun global.
“Kami ingin mencetak generasi petani profesional yang mampu memanfaatkan teknologi pertanian digital, sehingga produktivitas meningkat dan usaha tani lebih efisien,” kata Idha.
Dengan adanya sinergi antara Kementan, HKTI, P4S, dan pelaku usaha, pemberdayaan petani melalui peningkatan SDMP menjadi lebih terstruktur dan menyeluruh.
Program ini menghadirkan transformasi pertanian dari usaha tradisional menjadi usaha modern, kompetitif, dan berkelanjutan.
Sebagai kesimpulan, langkah kolaboratif ini membuktikan bahwa penguatan SDMP melalui penyuluhan dan pendampingan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian yang sehat dan mandiri.
Dengan jumlah P4S yang mencapai 1.705 unit, pendampingan dari hulu ke hilir, serta dukungan akses pasar melalui kemitraan, harapan terciptanya pertanian Indonesia yang berdaya saing tinggi semakin dekat.