
Workshop “Akselerasi Regenerasi Peternak dan Kelembagaan Peternak yang Mandiri dan Berdaya Saing”
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Swasembada pangan asal hewan tidak hanya ditentukan peningkatan populasi dan produktivitas ternak, tetapi juga kualitas SDM yang memiliki kompetensi teknis, manajerial, kewirausahaan, serta kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan dinamika pasar. Karena itu, perlunya regenerasi peternak.
Sejalan dengan semangat tersebut, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan, kemandirian pangan nasional hanya dapat dicapai melalui penguatan produksi dan SDM secara bersamaan.
“Kita harus membangun pertanian dan peternakan berbasis teknologi dan SDM unggul. Regenerasi adalah kunci. Tanpa anak muda yang mau masuk ke sektor ini, swasembada tidak akan berkelanjutan. Pemerintah akan terus hadir memberikan dukungan penuh bagi petani dan peternak,” tegasnya.
Dalam mendukung program prioritas Kementerian Pertanian menuju swasembada pangan asal hewan nasional, diperlukan pelibatan generasi muda yang adaptif teknologi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sektor peternakan dan kesehatan hewan. Untuk itu, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara menyelenggarakan workshop “Akselerasi Regenerasi Peternak dan Kelembagaan Peternak yang Mandiri dan Berdaya Saing”.
Kegiatan ini sebagai bagian dari dukungan terhadap program prioritas Kementerian Pertanian menuju swasembada pangan asal hewan nasional. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, Rabu (25/2) dengan partisipasi aktif 130 peserta yang hadir langsung dan 1.500 peserta mengikuti secara daring.
Workshop yang dibuka secara langsung Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, dihadiri Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pembinaan Petani Muda, R.S. Suroyo, Jr., Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Percepatan Peningkatan Produksi Pertanian, Muhammad Arsyad, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Pembiayaan Pertanian Mat Syukur sebagai narasumber.
Sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), BBPKH Cinagara berkomitmen memperkuat pelatihan vokasi berbasis kompetensi. “Workshop ini menjadi forum strategis untuk menyusun arah sinergi kelembagaan, pembiayaan, dan penguatan kompetensi SDM secara terintegrasi guna mendukung percepatan swasembada protein hewani nasional,” ujar Inneke.
Inneke mengungkapkan, transformasi peternakan merupakan investasi strategis bagi masa depan Indonesia. Karena itu, sektor peternakan harus menjadi ruang tumbuh bagi inovasi dan kewirausahaan. Perlu adanya kerja sama, sinergi, dan berkolaborasi untuk membangun fondasi yang kokoh bagi terwujudnya peternakan Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan transformasi ini dapat ditunjukkan melalui meningkatnya persentase peternak berusia di bawah 40 tahun, bertambahnya rata-rata skala kepemilikan ternak, meningkatnya produktivitas per ekor. Selain itu, menurunnya rasio impor protein hewani dan meningkatnya margin usaha peternak.
Jika sistem peternakan tetap berjalan secara tradisional dan tidak efisien, maka generasi muda tidak akan tertarik untuk terjun ke sektor ini. "Sebaliknya, abila sistem dibangun secara modern, efisien, dan menguntungkan, maka proses regenerasi peternak akan terjadi secara alami,” kata Inneke.
Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti juga melihat pentingnya regenerasi peternak sebagai agenda strategis pembangunan pertanian berkelanjutan. SDM pertanian merupakan fondasi utama dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.
"Regenerasi peternak harus melibatkan generasi muda yang adaptif terhadap teknologi, inovatif, serta mampu mengelola usaha peternakan secara profesional dan modern,” tegasnya.
Senada dengan itu, Muhammad Arsyad Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Percepatan Peningkatan Produksi Pertanian menekankan pentingnya penguatan kompetensi dan kelembagaan.
“Strategi penguatan SDM peternakan harus difokuskan pada peningkatan kompetensi teknis dan manajerial yang adaptif terhadap teknologi, serta penguatan kelembagaan agar peternak memiliki akses pembiayaan dan pasar yang jelas,” ujarnya.
Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pembinaan Petani Muda, R.S. Suroyo, Jr. memaparkan strategi penguatan SDM dan kelembagaan peternak. Salah satunya berkaitan dengan pola brigade pangan yang dinilai cukup relevan diterapkan pada sektor peternakan menjadi brigade ternak.
Menurutnya, Program Brigade Pangan ini terbukti menjadi salah satu model efektif dalam mendorong regenerasi petani. Pola Brigade Pangan dinilai berhasil karena mampu membangkitkan motivasi generasi muda melalui dukungan nyata, mulai dari pembinaan, pendampingan, hingga fasilitasi alat dan mesin pertanian sehingga risiko usaha dapat ditekan.
“Konsep ini menurut saya juga sangat relevan untuk dikembangkan di sektor peternakan melalui pembentukan Brigade Ternak. Brigade Ternak dapat menjadi wadah regenerasi peternak muda yang terorganisir, profesional, dan berbasis kawasan,” tambahnya.
Sementara itu Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Pembiayaan Pertanian, Mat Syukur menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Penguatan SDM peternakan menurutnya, membutuhkan sinergi multi-stakeholder yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, lembaga pelatihan, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, serta kelembagaan peternak. “Kolaborasi inilah yang akan mempercepat lahirnya peternak mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Workshop ini diharapkan menjadi wadah konsolidasi kebijakan sekaligus langkah konkret dalam memperkuat sinergi kelembagaan dan peningkatan kapasitas SDM secara berkelanjutan. Dengan partisipasi ratusan peserta dari berbagai pemangku kepentingan, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen bersama menuju peternakan Indonesia yang maju, mandiri, dan modern.